Logika Kepantasan: Mengapa Negara Mematuhi Aturan Meskipun Tidak Menguntungkan?

Rabu, 18 Maret 2026 - 08:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sejarah yang hancur. UNESCO menyatakan keprihatinan mendalam setelah serangan udara merusak Istana Golestan dan Masjid Jameh di Isfahan, mengancam warisan peradaban Persia yang tak ternilai. Dok: Istimewa.

Sejarah yang hancur. UNESCO menyatakan keprihatinan mendalam setelah serangan udara merusak Istana Golestan dan Masjid Jameh di Isfahan, mengancam warisan peradaban Persia yang tak ternilai. Dok: Istimewa.

DEN HAAG, POSNEWS.CO.ID – Apakah negara selalu bertindak seperti mesin hitung yang hanya memikirkan keuntungan materi? Para pemikir Konstruktivisme menjawab tidak. Di panggung dunia tahun 2026, perilaku negara sering kali lebih banyak ditentukan oleh apa yang mereka anggap “pantas” daripada apa yang memberikan keuntungan finansial atau militer terbesar.

Konsep ini menantang asumsi dasar Realisme yang melihat negara sebagai aktor rasional yang haus kekuasaan. Sebaliknya, negara adalah aktor sosial yang sangat peduli pada identitas dan citra mereka di mata dunia.

Melampaui Kalkulasi Untung-Rugi (Logic of Consequences)

Dalam kacamata Logic of Consequences, sebuah negara akan melanggar aturan jika manfaat dari pelanggaran tersebut lebih besar daripada dendanya. Pemimpin negara akan bertanya, “Apa yang akan terjadi padaku jika aku melakukan ini?”. Fokus utamanya adalah menghindari hukuman atau mendapatkan hadiah materi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, logika ini gagal menjelaskan mengapa negara-negara kaya tetap memberikan bantuan kemanusiaan tanpa pamrih atau mematuhi aturan lingkungan yang mahal. Di tahun 2026, kita melihat bahwa negara-negara sering kali bertindak di luar kepentingan ekonomi sempit mereka. Mereka menyadari bahwa menjadi bagian dari masyarakat internasional memerlukan ketaatan pada nilai-nilai yang melampaui angka-angka di neraca perdagangan.

Baca Juga :  Mengapa Nuklir Inggris Tidak Menakuti AS, tapi Nuklir Iran Menjadi Krisis?

Mengenal Logika Kepantasan (Logic of Appropriateness)

James March dan Johan Olsen memperkenalkan Logic of Appropriateness untuk menjelaskan perilaku yang berbasis pada identitas. Dalam logika ini, seorang pengambil keputusan tidak bertanya “apa keuntungannya?”, melainkan “siapa saya, dan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang seperti saya dalam situasi ini?”.

Negara-negara yang mendefinisikan dirinya sebagai “Negara Demokrasi yang Menjunjung HAM” akan merasa sangat terbebani jika harus melakukan tindakan yang melanggar nilai tersebut. Kepatuhan muncul bukan karena takut akan sanksi, melainkan karena keinginan untuk konsisten dengan identitas nasional mereka. Pada tahun 2026, norma-norma global telah menciptakan standar “kepantasan” yang sangat kuat. Negara yang melanggar standar ini akan merasakan rasa malu diplomatik (diplomatic shame) yang jauh lebih menyakitkan daripada sanksi ekonomi biasa.

Studi Kasus: Tabu Senjata Kimia

Contoh paling nyata dari Logika Kepantasan adalah larangan penggunaan senjata kimia. Secara militer, senjata kimia sangat efektif untuk menghancurkan pertahanan lawan di ruang tertutup atau parit-parit perlindungan. Namun, hampir seluruh negara di dunia—bahkan dalam situasi perang yang sangat terdesak—menolak untuk menggunakannya.

Baca Juga :  PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Mengapa mereka menahan diri? Karena dunia telah membangun norma bahwa penggunaan gas beracun adalah tindakan “biadab”. Negara yang menggunakannya akan segera kehilangan statusnya sebagai negara yang beradab dan teralienasi dari pergaulan global. Ketakutan akan kehilangan identitas sebagai bangsa yang manusiawi jauh lebih besar daripada keinginan untuk memenangkan pertempuran secara instan. Larangan ini telah terinternalisasi secara mendalam sehingga negara mematuhinya secara otomatis tanpa perlu menghitung biaya sanksinya lagi.

Keadilan di Tengah Anarki

Logika Kepantasan membuktikan bahwa dunia internasional bukanlah rimba raya yang tanpa moral. Norma dan identitas berfungsi sebagai jangkar yang mencegah negara-negara bertindak secara sembrono demi keuntungan sesaat. Di tahun 2026, kekuatan sebuah bangsa tidak lagi hanya diukur dari jumlah hulu ledak nuklirnya, tetapi dari seberapa “pantas” perilaku mereka di mata komunitas global. Dengan mengutamakan kepantasan di atas konsekuensi, dunia memiliki peluang lebih besar untuk mewujudkan tatanan yang tidak hanya stabil, tetapi juga adil dan bermartabat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Giorgia Meloni Usul Pembatasan Siswa Asing dan Larangan Burqa
Ukraina Meluncurkan Seribu Drone ke Moskow di Tengah Pemilu
Pejabat Tinggi Houthi Peringatkan Sekutu Arab Saudi
Donald Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan AI
Pengamat Oposisi Pingsan Saat Polisi Lakukan Penangkapan
Denmark Tegaskan Kedaulatan Usai Trump Klaim Kontrol
Houthi Serang Situs di Riyadh dan Fasilitas Aramco di Yanbu
Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik ke Arah Laut Jepang

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 09:18 WIB

Giorgia Meloni Usul Pembatasan Siswa Asing dan Larangan Burqa

Selasa, 22 September 2026 - 07:01 WIB

Ukraina Meluncurkan Seribu Drone ke Moskow di Tengah Pemilu

Selasa, 22 September 2026 - 06:00 WIB

Pejabat Tinggi Houthi Peringatkan Sekutu Arab Saudi

Minggu, 20 September 2026 - 21:58 WIB

Donald Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan AI

Minggu, 20 September 2026 - 20:55 WIB

Pengamat Oposisi Pingsan Saat Polisi Lakukan Penangkapan

Berita Terbaru

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Kasus ISPA Jakarta Naik 15,7 Persen, Ini Imbauan Dinkes untuk Warga

Selasa, 22 Sep 2026 - 16:28 WIB

Kamera portabel CAIM1 memakai kipas mini Noctua NF-A4x10 untuk pendinginan video 4K dan pemrosesan kriptografi. Simak detail spesifikasinya. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Kamera CAIM1 Gunakan Kipas Mini Noctua untuk Mendinginkan

Selasa, 22 Sep 2026 - 14:29 WIB