Mengapa Penurunan Populasi Burung di Amerika Serikat Kian Mempercepat?

Kamis, 19 Maret 2026 - 20:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Alam yang kian sunyi. Studi terbaru mengungkap bahwa hilangnya miliaran burung di Amerika Serikat bukan sekadar tren tetap, melainkan sebuah krisis yang kini bergerak semakin cepat di kawasan pertanian intensif. Dok: Istimewa.

Alam yang kian sunyi. Studi terbaru mengungkap bahwa hilangnya miliaran burung di Amerika Serikat bukan sekadar tren tetap, melainkan sebuah krisis yang kini bergerak semakin cepat di kawasan pertanian intensif. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, D.C. – Sejak tahun 1970-an, langit Amerika Serikat telah kehilangan miliaran burung. Namun, data terbaru menunjukkan fakta yang lebih mengkhawatirkan: kerugian tersebut tidak hanya tumbuh, tetapi juga melonjak dengan kecepatan yang menakutkan di wilayah-wilayah dengan aktivitas manusia yang intens.

Selain itu, perubahan lanskap akibat perluasan pemukiman dan pertanian mengubah wajah alam secara radikal. Akibatnya, polusi, penggunaan bahan kimia, dan perubahan fisik pada habitat asli kini memicu penurunan populasi burung secara erat.

Penurunan yang Terakselerasi: Bukan Sekadar Angka Tetap

Jurnal Science memublikasikan studi di mana para peneliti menganalisis perubahan populasi untuk 261 spesies di seluruh Amerika Serikat antara tahun 1987 dan 2021. Sebagai hasilnya, penelitian tersebut menunjukkan bahwa burung-burung merespons tekanan manusia dengan cara yang sama, yakni penurunan jumlah mereka yang kian cepat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih lanjut, data dari North American Breeding Bird Survey mengungkap bahwa rata-rata jumlah burung menurun sekitar $15\%$. Artinya, untuk setiap enam burung yang ada pada tahun 1987, hanya tersisa lima ekor tiga dekade kemudian. Dalam hal ini, populasi common grackle, European starling, dan red-winged blackbird mengalami penyusutan paling tajam.

Baca Juga :  Bajing Loncat Nekat di Siang Bolong, Polisi Bekuk 3 Pencuri Besi di Koja

Pertanian Intensif sebagai Pemicu Utama

Studi ini menyoroti wilayah Midwest, California, dan Mid-Atlantic sebagai area dengan laju penurunan burung tercepat. Wilayah-wilayah ini berbagi satu fitur umum, yaitu pertanian intensif. Penggunaan lahan untuk tanaman pangan skala besar menggantikan habitat yang beragam dengan monokultur yang kaku.

Di sisi lain, pertanian modern membawa tekanan ganda bagi burung:

  1. Hilangnya Sumber Makanan: Penggunaan herbisida dan pestisida mengurangi gulma dan serangga yang menjadi tumpuan hidup banyak spesies burung.
  2. Toksisitas Langsung: Bahan kimia pertanian dapat meracuni burung secara langsung atau merusak kemampuan mereka untuk bereproduksi.
  3. Stres Panas: Lanskap pertanian sering kali kekurangan pohon peneduh, sehingga suhu di sana lebih panas daripada area alami. Oleh karena itu, kondisi ini memperparah stres akibat perubahan iklim.

Mengapa Akselerasi Ini Sangat Berbahaya?

Penurunan populasi yang terakselerasi adalah tanda peringatan dini bagi kesehatan ekosistem. Jika kehilangan burung tumbuh lebih besar dari tahun ke tahun, itu berarti situasi memburuk lebih cepat daripada kemampuan alam untuk beradaptasi.

Baca Juga :  Menjaga Mata dan Mental dari Paparan Blue Light yang Mengintai

Terlebih lagi, burung memiliki peran vital yang melampaui sekadar penghias halaman belakang, antara lain:

  • Mengendalikan hama serangga.
  • Menyebarkan benih tanaman.
  • Mengatur keseimbangan ekosistem.

Karena burung sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, mereka sering kali menjadi indikator awal dari pergeseran ekologis yang lebih luas yang pada akhirnya akan berdampak pada manusia.

Potensi Pemulihan yang Cepat

Meskipun demikian, para peneliti menekankan bahwa respons biodiversitas terhadap perubahan manajemen lahan dapat terjadi dengan cepat. Sebagai contoh, ketika pengelola memulihkan habitat atau mengurangi tekanan kimia, burung dan serangga sering kali kembali dalam hitungan tahun.

Dengan demikian, sektor pertanian yang mencakup hampir $40\%$ lahan di AS menempatkan petani di baris terdepan dalam mengatasi krisis biodiversitas ini. Menyeimbangkan produksi pangan, keberlanjutan lingkungan, dan kesehatan manusia adalah tantangan bersama yang harus segera tuntas untuk memastikan langit masa depan tidak menjadi sunyi.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Melania Trump dan Peng Liyuan Kunjungi Museum Seni Asia
Benjamin Netanyahu Sebut Tuduhan Genosida Kebohongan
PM Jepang Sanae Takaichi Hadapi Dilema Diplomasi
Board of Peace Ajukan Rencana Rekonstruksi Gaza
Senat Italia Sahkan Aturan Kerangka Hukum Energi Nuklir
Kremlin Kecam PM Inggris Andy Burnham Terkait Disinformasi
Volodymyr Zelenskyy Desak Pemimpin Dunia Hentikan Perang
Hakim AS Menunda Putusan Kasus Larangan Media Gedung Putih

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 16:15 WIB

Melania Trump dan Peng Liyuan Kunjungi Museum Seni Asia

Sabtu, 26 September 2026 - 14:13 WIB

Benjamin Netanyahu Sebut Tuduhan Genosida Kebohongan

Sabtu, 26 September 2026 - 13:03 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Hadapi Dilema Diplomasi

Sabtu, 26 September 2026 - 06:12 WIB

Board of Peace Ajukan Rencana Rekonstruksi Gaza

Jumat, 25 September 2026 - 15:08 WIB

Senat Italia Sahkan Aturan Kerangka Hukum Energi Nuklir

Berita Terbaru

Melania Trump dan Peng Liyuan mengunjungi Museum Seni Asia Smithsonian di Washington. Simak rincian agenda diplomasi budaya AS dan China. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Melania Trump dan Peng Liyuan Kunjungi Museum Seni Asia

Sabtu, 26 Sep 2026 - 16:15 WIB

Perdana Menteri Israel Benjamin PM Israel Benjamin Netanyahu bantah tuduhan genosida di PBB dan kecam aksi walkout diplomat. Simak pidato Netanyahu dan desakan Mahmoud Abbas. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Benjamin Netanyahu Sebut Tuduhan Genosida Kebohongan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 14:13 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi membela ICC di PBB tanpa mengecam sanksi AS. Simak analisis dilema diplomasi dan aliansi keamanan dengan Donald Trump. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Hadapi Dilema Diplomasi

Sabtu, 26 Sep 2026 - 13:03 WIB

LG Display merilis panel OLED 24,5 inci 720Hz dan 0,02ms untuk monitor esports. Simak spesifikasi ASUS ROG Swift OLED PG259QWS Ace. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

LG Display Rilis Panel OLED 24,5 Inci 720Hz Pertama di Dunia

Sabtu, 26 Sep 2026 - 12:05 WIB