Beirut Terbelah: Boikot Kabinet dan Protes Massa Warnai Eskalasi Berdarah

Jumat, 27 Maret 2026 - 10:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pesan kemanusiaan dari Beirut. Presiden Lebanon Joseph Aoun menyampaikan seruan langsung yang langka kepada Israel untuk menghentikan perang dan memulai jalur diplomasi resmi. Dok: Istimewa.

Pesan kemanusiaan dari Beirut. Presiden Lebanon Joseph Aoun menyampaikan seruan langsung yang langka kepada Israel untuk menghentikan perang dan memulai jalur diplomasi resmi. Dok: Istimewa.

BEIRUT, POSNEWS.CO.ID – Konflik bersenjata antara Israel dan Hezbollah semakin memanas di medan tempur maupun di meja pemerintahan pada hari Kamis. Pemerintah Lebanon berencana melayangkan pengaduan resmi kepada Dewan Keamanan PBB sebagai respon atas agresi militer Israel yang kian meluas.

Dalam konteks ini, peperangan yang pecah sejak 2 Maret lalu kini memasuki fase penghancuran infrastruktur sipil yang masif. Militer Israel terus berupaya membangun “zona penyangga” di wilayah selatan guna menghentikan serangan roket Hezbollah yang bertujuan membalas kematian pemimpin tertinggi Iran.

Boikot Kabinet dan Protes di Kedutaan Iran

Ketegangan politik domestik di Beirut mencapai puncaknya saat sidang kabinet berlangsung hari ini. Para menteri dari faksi Hezbollah dan sekutunya, Amal, secara resmi memboikot pertemuan tersebut. Oleh karena itu, jalannya pemerintahan Lebanon kini berada dalam kondisi kelumpuhan fungsional.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, aksi boikot ini dipicu oleh keputusan pemerintah yang memerintahkan Duta Besar Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut. Di luar ruang sidang, puluhan demonstran berkumpul di pinggiran selatan Beirut guna memberikan dukungan kepada Teheran. “Menteri Luar Negeri Youssef Raggi tidak mewakili kami. Ia menjalankan keputusan Israel,” tegas Farida Noureddine, salah satu pengunjuk rasa kepada AFP.

Baca Juga :  Rusia Larang Warganya Kunjungi Negara dengan Perjanjian Ekstradisi AS

Update Medan Tempur: Jatuhnya Korban di Kedua Belah Pihak

Operasi darat Israel di Lebanon selatan terus menunjukkan kemajuan harian yang lambat namun konsisten. Seorang sumber militer menyebutkan pasukan Israel mulai merangsek lebih dalam di dekat kota Taybeh dan Khiam. Meskipun demikian, Hezbollah mengeklaim telah meluncurkan serangkaian serangan balasan yang menyasar barak militer di utara Israel hingga kompleks kementerian pertahanan di Tel Aviv.

Sebagai hasilnya, militer Israel mengonfirmasi gugurnya seorang tentara dalam pertempuran di selatan. Di sisi lain, layanan darurat Israel melaporkan satu warga sipil tewas di wilayah Nahariya akibat hantaman roket dari Lebanon. Serangan udara Israel di Nabatiyeh juga meratakan sebuah bangunan dan menewaskan sedikitnya dua orang warga sipil.

Tragedi Kemanusiaan dan Kematian Jurnalis

Biaya manusia dari perang ini sangat mengerikan. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 1.116 orang telah tewas sejak awal Maret, termasuk 121 anak-anak. Terlebih lagi, Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mendesak penyelidikan atas kematian Hussain Hamood. Jurnalis lepas saluran TV al-Manar tersebut tewas dalam serangan udara di Nabatiyeh pada hari Rabu.

Baca Juga :  Pecah Kongsi di Teluk: Saudi Gempur Kargo UEA di Yaman

Dalam hal ini, militer Israel mengeklaim telah menewaskan sekitar 700 pejuang Hezbollah sejak awal konflik. Namun, kelompok tersebut hingga kini belum memberikan pernyataan resmi mengenai jumlah kerugian personel mereka. Kehadiran Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, di Beirut pekan ini membawa seruan tegas agar Israel segera menghentikan agresinya yang merusak kedaulatan Lebanon.

Menanti Intervensi Dewan Keamanan PBB

Dunia kini memantau langkah diplomasi Lebanon di markas besar PBB di New York. Pada akhirnya, kemampuan perdamaian regional bergantung pada seberapa cepat komunitas internasional merespon pengaduan kedaulatan yang Perdana Menteri Nawaf Salam ajukan. Dengan demikian, tanpa adanya gencatan senjata segera, Beirut berisiko jatuh ke dalam jurang kekacauan politik dan kemanusiaan yang jauh lebih dalam di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya
Anthropic Raih Skor Tertinggi di Tengah Ancaman Eksistensial
Gempuran Drone Ukraina Paksa Kilang Minyak Rusia Setop
Nigel Farage Mundur dari Parlemen Inggris
AS Gempur Sasaran Militer Iran Pasca-Serangan Kapal Tanker
Trump Tuntut Kendali Greenland dan Cabut Sanksi Turki
Korban Gempa Venezuela Bertahan Hidup di Bawah Reruntuhan
Rusia Gempur Kyiv dengan Rudal Balistik

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 18:48 WIB

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya

Rabu, 8 Juli 2026 - 14:04 WIB

Gempuran Drone Ukraina Paksa Kilang Minyak Rusia Setop

Rabu, 8 Juli 2026 - 13:56 WIB

Nigel Farage Mundur dari Parlemen Inggris

Rabu, 8 Juli 2026 - 12:38 WIB

AS Gempur Sasaran Militer Iran Pasca-Serangan Kapal Tanker

Rabu, 8 Juli 2026 - 11:31 WIB

Trump Tuntut Kendali Greenland dan Cabut Sanksi Turki

Berita Terbaru

Hambatan di tengah krisis kesehatan. Warga di kamp pengungsian Kpangba mengusir petugas medis yang berupaya melacak kontak erat korban meninggal akibat Ebola. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya

Rabu, 8 Jul 2026 - 18:48 WIB