Tantangan Ekonomi Perempuan dalam Ekonomi Gig

Minggu, 29 Maret 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Ekonomi Gig menjanjikan kebebasan

Ilustrasi, Ekonomi Gig menjanjikan kebebasan "bos bagi diri sendiri". Namun, realitasnya adalah "prekariat digital"—pekerja tanpa jaminan sosial yang dikendalikan algoritma. Dok: Istimewa.

SINGAPURA, POSNEWS.CO.ID – Transformasi digital pada tahun 2026 telah merombak total cara manusia bekerja. Namun, di balik kemajuan teknologi, sebuah isu lama tetap bertahan dengan wajah baru: beban ganda bagi perempuan.

Dalam konteks ini, ekonomi gig dan model kerja remote sering kali pemerintah promosikan sebagai solusi bagi keseimbangan hidup. Namun, realitas sosiologis menunjukkan bahwa struktur patriarki di ranah domestik belum bergeser secepat inovasi perangkat lunak.

Fenomena “Second Shift” di Tahun 2026

Istilah Second Shift atau “shift kedua” merujuk pada beban kerja domestik yang perempuan lakukan setelah menyelesaikan pekerjaan profesional mereka. Meskipun banyak perempuan kini memegang posisi strategis dalam ekonomi gig, data tahun 2026 menunjukkan mereka masih menghabiskan waktu tiga kali lebih banyak untuk urusan rumah tangga dibandingkan laki-laki.

Akibatnya, produktivitas ekonomi perempuan sering kali terhambat oleh kelelahan fisik dan mental. Oleh karena itu, ketimpangan ini bukan hanya masalah rumah tangga, melainkan masalah ekonomi politik yang mengurangi potensi pertumbuhan PDB global. Tanpa adanya redistribusi beban kerja domestik, kemandirian ekonomi perempuan akan tetap bersifat semu.

Baca Juga :  Klaim Fiktif BPJS Ketenagakerjaan 2014–2024 Terbongkar, Negara Rugi Rp21,73 Miliar

Paradoks Kerja Remote: Solusi atau Jebakan?

Ekonomi digital memfasilitasi kerja dari rumah yang memberikan fleksibilitas tinggi. Namun, bagi banyak perempuan, fleksibilitas ini justru menjadi pedang bermata dua. Kerja remote sering kali menghapus batasan fisik antara tanggung jawab pekerjaan dan pengasuhan anak.

Dalam hal ini, perempuan sering kali dituntut untuk melakukan “multitasking” yang ekstrem. Mereka harus menghadiri pertemuan virtual sambil mengawasi aktivitas domestik. Terlebih lagi, beban kerja emosional—seperti mengatur jadwal keluarga dan kebutuhan psikologis anak—tetap jatuh secara tidak proporsional kepada perempuan. Sebagai hasilnya, ruang privat yang seharusnya menjadi tempat istirahat justru bertransformasi menjadi kantor kedua yang tak pernah tutup.

Kebijakan Publik: Cuti Ayah dan Infrastruktur Pengasuhan

Menghadapi tantangan ini, komunitas internasional mulai mendesak perubahan kebijakan yang sistemik. Salah satu instrumen paling efektif di tahun 2026 adalah penerapan cuti ayah (paternity leave) yang bersifat wajib dan dibayar penuh oleh negara atau perusahaan.

Baca Juga :  Sains Semantik: Makna Bukan Sekadar Definisi dalam Kamus?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Langkah ini bertujuan untuk mengubah norma sosial agar pengasuhan anak bukan lagi dianggap sebagai tugas eksklusif perempuan. Selain itu, pembangunan infrastruktur pengasuhan anak yang terjangkau dan berkualitas menjadi keharusan strategis. Negara yang berinvestasi pada layanan penitipan anak terbukti memiliki tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan yang jauh lebih tinggi dan stabil.

Kesimpulan: Menuju Keadilan Ekonomi Digital

Masa depan ekonomi dunia bergantung pada kemampuan kita untuk menciptakan lingkungan kerja yang benar-benar adil. Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat, sedangkan keadilan gender memerlukan kemauan politik yang kuat.

Dengan demikian, tatanan ekonomi tahun 2026 harus mampu menjawab kebutuhan perempuan melampaui sekadar akses internet. Kita memerlukan kontrak sosial baru yang menghargai kerja-kerja domestik sebagai bagian integral dari ekosistem ekonomi global. Keadilan ekonomi bagi perempuan adalah kunci bagi masyarakat yang lebih sejahtera dan tangguh di era digital.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Protes Kebijakan Deportasi
20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan
Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton
Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun
Update Arus Balik Lebaran 2026, 186 Ribu Kendaraan Serbu Jabodetabek
Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global
Membedah Ekofeminisme dan Krisis Ekologi Global
Mengapa Interseksionalitas Menjadi Kunci Keadilan Sosial

Berita Terkait

Minggu, 29 Maret 2026 - 20:00 WIB

Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Protes Kebijakan Deportasi

Minggu, 29 Maret 2026 - 19:30 WIB

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan

Minggu, 29 Maret 2026 - 18:30 WIB

Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton

Minggu, 29 Maret 2026 - 18:00 WIB

Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun

Minggu, 29 Maret 2026 - 17:56 WIB

Update Arus Balik Lebaran 2026, 186 Ribu Kendaraan Serbu Jabodetabek

Berita Terbaru

Pemberontakan sipil di seluruh negeri. Gelombang ketiga aksi

INTERNASIONAL

Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Protes Kebijakan Deportasi

Minggu, 29 Mar 2026 - 20:00 WIB

Sisi gelap perang energi. Sekitar 20.000 pelaut sipil kini terperangkap di kawasan Teluk, menghadapi kelangkaan pasokan dasar dan ancaman serangan udara saat operator kapal mulai mengabaikan hak-hak keselamatan mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan

Minggu, 29 Mar 2026 - 19:30 WIB

Ilustrasi, Modernisasi vs Tradisi. Kyoto mengkaji rencana pelonggaran batas tinggi bangunan dari 31 meter menjadi 60 meter guna menarik investasi, memicu perdebatan mengenai identitas visual ibu kota kuno Jepang tersebut. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun

Minggu, 29 Mar 2026 - 18:00 WIB