Dilema Etika di Balik Industri Uji Klinis Global senilai $24 Miliar

Selasa, 3 Februari 2026 - 17:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Krisis di balik lemari obat. Bakteri super yang kebal terhadap pengobatan kini menjadi ancaman kesehatan global paling mematikan, mengubah infeksi ringan menjadi risiko nyawa. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Krisis di balik lemari obat. Bakteri super yang kebal terhadap pengobatan kini menjadi ancaman kesehatan global paling mematikan, mengubah infeksi ringan menjadi risiko nyawa. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Sebanyak 50 juta orang di seluruh dunia saat ini berperan sebagai “kelinci percobaan” dalam uji klinis obat-obatan eksperimental. Selain mempertaruhkan nyawa, para pelamar harus melewati serangkaian tes ketat hanya untuk bisa berpartisipasi.

Setelah diterima, mereka harus menghadapi lebih banyak tes, efek samping negatif, hingga gangguan signifikan terhadap kehidupan sehari-hari. Jurnalis Alex O’Meara dalam bukunya Chasing Medical Miracles menjelaskan bahwa beberapa orang ikut serta karena altruisme murni. Sebagian lainnya berharap menemukan penawar bagi penyakit mereka sendiri.

O’Meara, yang mengidap diabetes, pernah merelakan dirinya untuk transplantasi sel penghasil insulin dari hati yang berisiko tinggi. Namun, ia menyadari bahwa bagi banyak orang, uang adalah motivator utama. Kompensasi tunai dari industri bernilai $24 miliar ini kini menjadi cara populer untuk mencari pendapatan tambahan.

Sisi Gelap Industri Medis

Pertukaran uang dalam uji klinis sering melibatkan orang-orang sakit yang rentan. Hal ini mempertegas masalah etika yang menjerat industri tersebut. Sering kali, orang sakit merasa terpaksa bergabung dalam uji coba demi mendapatkan perawatan medis dasar.

Peneliti yang tidak etis terkadang memanfaatkan keputusasaan ini demi memenuhi kuota peserta agar riset mereka valid secara statistik. Peserta yang putus asa sulit memahami risiko bahwa mereka mungkin hanya mengonsumsi obat eksperimental atau bahkan plasebo (obat kosong). Hal ini memicu pertanyaan besar: mungkinkah seseorang memberikan persetujuan yang benar-benar jujur dalam kondisi terdesak secara ekonomi atau medis?

Eksploitasi di Negara Berkembang

Dilema etika ini semakin meluas seiring perpindahan lokasi uji klinis ke negara-negara berkembang. Adriana Petryna dalam When Experiments Travel mengungkapkan fakta miris: hanya 10% riset obat yang menyasar penyakit penduduk miskin dunia. Padahal, penyakit-penyakit tersebut mencakup 90% dari beban penyakit global.

Baca Juga :  KKB Tembak Mati Pekerja Jalan, Aksi Brutal Ganggu Proyek di Papua

Petryna melaporkan bahwa menetapkan tanggung jawab hukum dan etis kini semakin sulit. Banyak perusahaan menggunakan subkontraktor dalam uji coba, sehingga kesejahteraan pasien sering kali terabaikan. Di negara-negara dengan regulasi longgar, peneliti bahkan bisa merekrut peserta uji coba HIV meskipun mereka tahu peserta tersebut akan meninggal tanpa obat eksperimental yang sedang diuji.

Kegagalan Pengawasan Global

Keserakahan perusahaan farmasi dan ketidakmampuan regulator menjadi sorotan utama. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) tercatat hanya memeriksa kurang dari 1% dari 350.000 situs uji coba yang terdaftar.

Meskipun perusahaan farmasi mengelola organisasi nirlaba yang menangani sekitar 30% uji coba, celah pengawasan tetap sangat besar. Walaupun memiliki banyak kelemahan dan risiko etika, uji klinis tetap menjadi alat esensial dalam dunia kedokteran modern untuk menemukan obat-obatan baru yang menyelamatkan nyawa di masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kaki Diborgol dan Dirantai, 3 Pemuda di Senen Diduga Disekap Selama Tiga Pekan
Jakarta Bangun Akses Bawah Tanah ke MRT, Hotel-Hotel Ikonik Terintegrasi
Pohon Tumbang Timpa Dua Mobil, Sudin Tamhut Jakarta Utara Sisir Pohon Berisiko
Teriak Minta Tolong, Pemuda Luka Bacok di Bekasi Diduga Jadi Korban Begal
Air Laut Menghitam di Tarumajaya, Nelayan Terpaksa Jadi Buruh dan Pemulung
Mengapa Kasus YTR Belum Disebut Penyiksaan? Ini Penjelasan Komnas Perempuan
Cuaca Jabodetabek 28 Juni 2026: Bogor dan Depok Berpotensi Hujan, Jakarta Berawan
54 Tim Ramaikan Turnamen Mobile Legends Hari Bhayangkara ke-80 di Jakarta Utara

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 11:00 WIB

Kaki Diborgol dan Dirantai, 3 Pemuda di Senen Diduga Disekap Selama Tiga Pekan

Minggu, 28 Juni 2026 - 10:30 WIB

Jakarta Bangun Akses Bawah Tanah ke MRT, Hotel-Hotel Ikonik Terintegrasi

Minggu, 28 Juni 2026 - 09:17 WIB

Pohon Tumbang Timpa Dua Mobil, Sudin Tamhut Jakarta Utara Sisir Pohon Berisiko

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:24 WIB

Teriak Minta Tolong, Pemuda Luka Bacok di Bekasi Diduga Jadi Korban Begal

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:15 WIB

Air Laut Menghitam di Tarumajaya, Nelayan Terpaksa Jadi Buruh dan Pemulung

Berita Terbaru