Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun

Minggu, 29 Maret 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Modernisasi vs Tradisi. Kyoto mengkaji rencana pelonggaran batas tinggi bangunan dari 31 meter menjadi 60 meter guna menarik investasi, memicu perdebatan mengenai identitas visual ibu kota kuno Jepang tersebut. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Modernisasi vs Tradisi. Kyoto mengkaji rencana pelonggaran batas tinggi bangunan dari 31 meter menjadi 60 meter guna menarik investasi, memicu perdebatan mengenai identitas visual ibu kota kuno Jepang tersebut. Dok: Istimewa.

KYOTO, POSNEWS.CO.ID – Kota kuno Kyoto kini berada di persimpangan jalan antara kemajuan ekonomi dan pelestarian sejarah. Sebuah panel ahli secara resmi menyarankan pemerintah kota untuk mempertimbangkan pelonggaran batas tinggi bangunan di dekat Stasiun Kyoto hingga mencapai 60 meter.

Dalam konteks ini, kebijakan tersebut bertujuan untuk merevitalisasi area yang menjadi pintu masuk utama bagi jutaan turis. Saat ini, Kyoto menerapkan batasan ketat setinggi 31 meter guna melindungi pemandangan kota yang dipenuhi kuil dan arsitektur tradisional.

Mengatasi Bottleneck Ruang Kantor

Draf laporan dari panel ahli menyatakan bahwa kenaikan batas hingga 60 meter “sangat tepat” untuk wilayah utara Stasiun Kyoto. Angka ini akan menyetarakan tinggi gedung-gedung baru dengan bangunan stasiun yang sudah ada. Selain itu, wilayah di sekitarnya diusulkan memiliki batas ketinggian hingga 45 meter.

Panel tersebut mencatat bahwa regulasi saat ini telah menjadi hambatan atau bottleneck bagi para pengembang. Akibatnya, kawasan pusat kota kekurangan ruang kantor dan tempat interaksi publik yang modern. Oleh karena itu, revitalisasi ini dipandang sebagai solusi untuk mendorong pembangunan kembali gedung-gedung tua yang sudah tidak efisien.

Tekanan Sektor Swasta dan Vitalitas Ekonomi

Kamar Dagang dan Industri Kyoto telah mendesak perubahan ini sejak April tahun lalu. Mereka berargumen bahwa lingkungan yang mendukung vitalitas sektor swasta sangat esensial bagi pertumbuhan kota. “Sangat penting untuk mengembangkan lingkungan di mana energi sektor swasta dapat ditunjukkan sepenuhnya,” tegas perwakilan lembaga tersebut.

Tetsuharu Oba, profesor dari sekolah pascasarjana Universitas Kyoto, mendukung pandangan ini. Menurutnya, melonggarkan regulasi akan memberikan lebih banyak opsi bagi generasi masa depan dalam mengelola tata kota. Meskipun demikian, ia mengakui perlunya keseimbangan agar kebutuhan ekonomi tidak menghancurkan warisan budaya yang menjadi daya tarik utama Kyoto.

Baca Juga :  Eropa Tolak Seruan Donald Trump untuk Koalisi Militer di Selat Hormuz

Penolakan: Kekhawatiran akan Kota Tanpa Karakter

Di sisi lain, rencana ini menuai kritik tajam dari kelompok pelestari dan praktisi hukum. Asosiasi pengacara lokal secara tegas menolak ide pelonggaran regulasi tersebut. Dalam hal ini, mereka memperingatkan bahwa bangunan yang lebih tinggi akan merusak lanskap jalanan Kyoto yang khas.

Kritikus khawatir pelonggaran ini akan mengubah Kyoto menjadi kota yang “biasa saja” dan kehilangan ciri khasnya. “Langkah ini berisiko mentransformasi pemandangan Kyoto menjadi kota tanpa fitur yang bisa ditemukan di mana saja,” tulis asosiasi tersebut dalam pernyataannya. Oleh sebab itu, pemerintah kota kini harus menimbang dengan sangat hati-hati antara tuntutan modernitas dengan kewajiban menjaga jati diri sebagai ibu kota kuno Jepang di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Donald Trump Mengklaim Layak Memenangi Hadiah Nobel
Henri B Kagan dan Kenso Soai Memenangi Hadiah Nobel Kimia
Pengacara Mantan Atlet Olimpiade AS Mendesak Penyelidikan
Donald Trump Mempromosikan Investasi Anduril Senilai 3,7 Miliar
Polisi Inggris Menangkap Tersangka Ke-7 Terkait Rencana Teror
Pertahanan Udara Rusia Mengintersepsi 900 Drone Ukraina
Serangan Drone Menenggelamkan Kapal Dagang di Laut Hitam
Donald Trump Memicu Gelombang Kecaman

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:35 WIB

Donald Trump Mengklaim Layak Memenangi Hadiah Nobel

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:04 WIB

Henri B Kagan dan Kenso Soai Memenangi Hadiah Nobel Kimia

Rabu, 7 Oktober 2026 - 15:12 WIB

Pengacara Mantan Atlet Olimpiade AS Mendesak Penyelidikan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:52 WIB

Donald Trump Mempromosikan Investasi Anduril Senilai 3,7 Miliar

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:31 WIB

Polisi Inggris Menangkap Tersangka Ke-7 Terkait Rencana Teror

Berita Terbaru

Google resmi meluncurkan Pixel 11 Pro dengan chip Tensor G6 dan sistem kamera canggih berestimasi harga mulai Rp17,5 jutaan. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Google Merilis Pixel 11 Pro Berbekal Kamera Canggih

Kamis, 8 Okt 2026 - 10:43 WIB

Google resmi meluncurkan Pixel 11 Pro Fold dengan chip Tensor G6 dan fitur AI Gemini dengan perkiraan harga mulai Rp29,5 jutaan. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Google Merilis Pixel 11 Pro Fold Berbekal Chip Tensor G6

Kamis, 8 Okt 2026 - 09:41 WIB