WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan bahwa perundingan damai dengan Iran telah mendekati garis akhir pekan ini. Sebab, kedua belah pihak bersiap menandatangani kesepakatan penting untuk mengakhiri perang tiga bulan mereka.
Seorang pejabat senior AS membocorkan informasi mengenai draf nota kesepahaman (MOU) tersebut kepada para wartawan. Oleh karena itu, para diplomat kini sedang merancang jadwal penandatanganan dokumen resmi di Eropa dalam beberapa hari ke depan.
Pemusnahan Cadangan Uranium dan Pembukaan Selat
Sementara itu, kesepakatan damai ini mewajibkan Iran untuk menghentikan program pengembangan senjata nuklir secara permanen. Selain itu, Iran harus segera membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal dagang internasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemerintah Amerika Serikat juga berjanji untuk mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran setelah penandatanganan tersebut selesai. Namun, Amerika Serikat hanya akan mencairkan aset keuangan Iran yang membeku secara bertahap.
Sebab, pencairan dana tersebut sepenuhnya bergantung pada kepatuhan nyata para pemimpin Iran di lapangan. “Mereka tidak akan mendapatkan apa pun sebelum menunjukkan bukti kepatuhan yang jelas,” tegas pejabat senior tersebut.
Skema Kepatuhan dan Imbalan Ekonomi
Dengan demikian, Iran baru akan menerima imbalan ekonomi setelah mereka menyerahkan seluruh bahan nuklir berbahaya. Para ahli memperkirakan Iran saat ini masih menyimpan cadangan uranium berkadar tinggi seberat sembilan ratus pon.
Akibatnya, proses penarikan bahan peledak yang sangat sensitif ini membutuhkan penanganan teknis yang sangat hati-hati. Tim teknis kedua negara akan melakukan negosiasi lanjutan selama enam puluh hari untuk mengatur pemusnahan uranium tersebut.
Di sisi lain, stasiun televisi pemerintah Iran menyajikan sudut pandang yang berbeda mengenai draf kesepakatan ini. Meskipun begitu, pihak Washington menganggap laporan sepihak Iran tersebut murni untuk konsumsi politik domestik mereka saja.
Presiden Donald Trump sendiri berencana bertolak menuju Prancis pekan depan untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G7. Pada akhirnya, dunia internasional menanti penandatanganan bersejarah ini demi memulihkan stabilitas energi dan ekonomi global.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












