Puluhan Negara Desak Solusi Dua Negara demi Akhiri Konflik

Sabtu, 13 Juni 2026 - 15:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketegangan tanpa akhir di Gaza. Serangan udara dan artileri militer Israel merenggut lebih dari seribu korban jiwa baru sejak kesepakatan damai sementara musim gugur lalu. Dok: Istimewa

Ketegangan tanpa akhir di Gaza. Serangan udara dan artileri militer Israel merenggut lebih dari seribu korban jiwa baru sejak kesepakatan damai sementara musim gugur lalu. Dok: Istimewa

PARIS, POSNEWS.CO.ID – Kelompok masyarakat sipil Israel dan Palestina menyerahkan dokumen seruan damai kepada pemerintah Prancis pada hari Jumat kemarin. Langkah taktis ini bertujuan untuk mendesak komunitas internasional agar tidak mengabaikan solusi dua negara.

Sebab, perang yang berkecamuk di Timur Tengah kian memperburuk krisis kemanusiaan dan merusak stabilitas regional. Pertemuan besar di kota Paris tersebut mempertemukan para menteri luar negeri dan pejabat tinggi dari puluhan negara.

Penolakan atas Dominasi Militer dan Harapan Baru

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, menyambut hangat kedatangan 250 perwakilan masyarakat sipil kedua belah pihak. Oleh karena itu, Barrot menegaskan bahwa Prancis menolak membiarkan kekerasan mengalahkan jalur perdamaian yang sah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami menolak membiarkan pihak militer menghentikan upaya diplomatik untuk mewujudkan perdamaian,” tegas Barrot di Paris.

Baca Juga :  Jepang Siapkan Delegasi Bisnis ke Rusia guna Amankan Energi

Pertemuan tersebut menghasilkan delapan poin kesepakatan bersama yang bernama Seruan untuk Aksi (Call for Action). Di dalamnya, mereka mendesak gencatan senjata permanen dan pemulihan segera atas hak-hak warga sipil.

Koalisi akan segera menyerahkan dokumen penting ini kepada para pemimpin negara G7 di Evian pekan depan. Dengan demikian, para pemimpin dunia dapat segera mengambil langkah nyata untuk meredakan ketegangan di lapangan.

Kecaman Keras atas Pemukiman Ilegal Tepi Barat

Para diplomat barat menyoroti rencana perluasan wilayah pemukiman ilegal Yahudi di wilayah Tepi Barat secara serius. Sebab, proyek pembangunan tersebut secara de facto memotong wilayah masa depan negara Palestina merdeka menjadi terfragmentasi.

Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri, Kaja Kallas, menyatakan keprihatinan mendalam atas kondisi tersebut. Ia menilai perluasan pemukiman ilegal dan kekerasan ekstremis Yahudi kian memperburuk tingkat harapan hidup warga lokal.

Baca Juga :  Api Melalap Rumah di Grogol, Lima Korban Ditemukan Tewas di Lantai Dua

“Situasi di Tepi Barat saat ini sangat mengkhawatirkan dan membutuhkan penanganan segera,” ujar Kallas melalui saluran resmi. Oleh sebab itu, ia mendesak komunitas internasional untuk segera meminta pertanggungjawaban hukum dari pemerintah Israel.

Sanksi Bersama Sekutu Barat dan Sikap Keras Israel

Merespons kekerasan ekstremis tersebut, Inggris, Kanada, Prancis, dan Norwegia menjatuhkan sanksi terkoordinasi baru pada hari Selasa. Sanksi bersama ini menyasar jaringan pendanaan kelompok ekstremis Yahudi yang merusak stabilitas keamanan Tepi Barat.

Namun, pihak pemerintah Israel dan Amerika Serikat menolak menghadiri pertemuan diplomatik penting di Paris tersebut. Sebab, Kedutaan Besar Israel menilai forum diskusi tersebut sama sekali tidak mempromosikan proses perdamaian yang adil.

Pihak Israel mengingatkan bahwa perwakilan Palestina telah menolak usulan pendirian negara sebanyak lima kali sepanjang sejarah. Pada akhirnya, dunia internasional tetap menuntut penyelesaian konflik secara beradab demi keselamatan jutaan warga sipil.

Penulis : Alifa Latifa

Editor : Alifa Latifa

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride
Pelaku Lepaskan Tembakan ke Gedung Konsulat AS
Gelombang Fitur AI Interaktif Ubah Pengalaman Membaca
Langkah Diplomasi Presiden Sharaa: Suriah Upayakan Perjanjian
Hujan Rudal Balistik dan Drone Rusia Gempur Kyiv
Militer Myanmar Tingkatkan Serangan Udara dan Pembantaian
Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay
Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 09:31 WIB

Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride

Selasa, 28 Juli 2026 - 09:30 WIB

Pelaku Lepaskan Tembakan ke Gedung Konsulat AS

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:30 WIB

Gelombang Fitur AI Interaktif Ubah Pengalaman Membaca

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:24 WIB

Langkah Diplomasi Presiden Sharaa: Suriah Upayakan Perjanjian

Selasa, 28 Juli 2026 - 07:20 WIB

Hujan Rudal Balistik dan Drone Rusia Gempur Kyiv

Berita Terbaru

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Anang Supriatna. (Posnews/Humas Kejagung)

NASIONAL

Kasus TPPU Febrie Adriansyah, Kejagung Periksa Tujuh Saksi

Selasa, 28 Jul 2026 - 18:27 WIB