OAKLAND, POSNEWS.CO.ID – Elon Musk mengambil sumpah di kursi saksi dalam persidangan yang menentukan masa depan industri kecerdasan buatan. CEO Tesla ini berhadapan langsung dengan mantan rekannya, Sam Altman dan Greg Brockman, dalam drama hukum yang penuh intrik di California.
Musk mengajukan gugatan ini untuk mengembalikan OpenAI ke misi awalnya sebagai organisasi nirlaba. Ia menegaskan bahwa mencuri sebuah badan amal demi keuntungan pribadi adalah tindakan yang salah. “Intinya sangat sederhana, tidak boleh ada orang yang mencuri badan amal,” tegas Musk di hadapan juri.
Tuduhan Pengkhianatan Misi Kemanusiaan
Steven Molo, pengacara Musk, memulai argumen pembuka dengan mengutip pernyataan misi asli OpenAI. Ia menyatakan bahwa OpenAI seharusnya menjadi lab nirlaba untuk kepentingan seluruh umat manusia. Menurut Molo, Altman dan Brockman telah mengkhianati kepercayaan tersebut demi kekayaan finansial.
Molo menuduh para pendiri OpenAI, dengan bantuan Microsoft, telah merampas misi pengembangan AI yang aman dan terbuka. Musk sendiri telah menyumbangkan dana sekitar $38 juta sebelum ia meninggalkan lab tersebut karena perbedaan visi. Kini, Musk menuntut pemecatan Altman dari dewan direksi serta pengembalian dana untuk upaya altruistik OpenAI.
Pembelaan OpenAI: Tuduhan Ego dan Ambisi Kekuasaan
Tim hukum OpenAI memberikan pembelaan yang tidak kalah tajam. Pengacara OpenAI, William Savitt, menyebut gugatan Musk sebagai kasus “iri hati” yang tidak berdasar. Ia menilai Musk hanya ingin menghambat pertumbuhan OpenAI demi memajukan perusahaan AI miliknya sendiri, xAI.
Savitt mengungkapkan bahwa Musk pernah mencoba mengambil alih kendali OpenAI dan menggabungkannya dengan Tesla. Menurutnya, Musk sebenarnya ingin memiliki lebih dari 50% saham jika OpenAI menjadi perusahaan komersial. Ia juga menegaskan tidak ada catatan resmi yang menjanjikan bahwa OpenAI akan tetap nirlaba selamanya.
Peran Microsoft sebagai “Pengubah Permainan”
Pihak Musk menyoroti investasi besar Microsoft sebagai pelanggaran komitmen utama. Awalnya, Microsoft menyuntikkan dana sebesar $2 miliar. Namun, kesepakatan lisensi pada tahun 2022 mengubah segalanya dan membuat OpenAI tidak lagi bersifat sumber terbuka (open source).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Valuasi OpenAI kini melonjak hingga $852 miliar, sementara saham Microsoft di perusahaan tersebut bernilai sekitar $135 miliar. Molo menyebut kerja sama ini sebagai “pengubah permainan” yang melanggar janji OpenAI kepada dunia. Microsoft kini memiliki kendali atas sebagian besar kekayaan intelektual OpenAI melalui skema lisensi tersebut.
Dampak pada Pasar Global
Persidangan ini memaksa Sam Altman untuk absen dari acara besar Amazon di San Francisco pada hari yang sama. Melalui pesan video, Altman menyatakan permohonan maaf karena jadwal persidangan menyita seluruh waktunya. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya posisi kasus ini bagi kelangsungan bisnis OpenAI.
Dunia kini menanti apakah juri akan memihak pada argumen Musk tentang etika nirlaba atau mendukung fleksibilitas bisnis OpenAI. Di tengah gejolak pasar teknologi tahun 2026, keputusan pengadilan ini akan menentukan siapa yang berhak mengendalikan teknologi paling transformatif di abad ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















