WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump membawa isu sensitif konflik Timur Tengah ke dalam agenda jamuan kenegaraan untuk Raja Charles III. Di hadapan para tamu undangan di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.
Jamuan ini merupakan bagian dari kunjungan empat hari Raja Charles III ke Amerika Serikat. Kedatangan sang monarki bertepatan dengan masa-masa sulit bagi hubungan kedua negara. Hal ini terjadi karena Trump terus melayangkan kritik pedas kepada Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengenai strategi penanganan perang di Iran.
Klaim Trump di Jamuan Kenegaraan
Dalam pidatonya, Trump mengeklaim memiliki kesamaan visi dengan Raja Charles III terkait ancaman nuklir. Ia menyatakan bahwa militer Amerika Serikat telah berhasil mengalahkan lawan tertentu dan berkomitmen menjaga stabilitas kawasan.
“Kami tidak akan pernah membiarkan lawan tersebut memiliki senjata nuklir,” tegas Trump. Ia bahkan menambahkan bahwa Raja Charles sangat setuju dengan sikap kerasnya tersebut. Pernyataan ini seolah ingin menunjukkan bahwa aliansi AS-Inggris tetap solid di level tertinggi, meskipun terdapat gesekan di tingkat pemerintahan.
Sikap Diam Sang Monarki
Meskipun Trump melontarkan klaim tersebut, Raja Charles III memilih untuk tidak merespons secara langsung. Dalam pidato balasannya, sang Raja sama sekali tidak menyinggung masalah Iran atau perang yang sedang berlangsung. Hal ini sejalan dengan peran monarki Inggris yang bukan merupakan juru bicara politik pemerintahannya.
Pihak Kedutaan Besar Inggris di Washington menolak memberikan komentar lebih lanjut dan mengarahkan pertanyaan kepada Istana Buckingham. Hingga saat ini, pihak istana belum memberikan pernyataan resmi mengenai sejauh mana kebenaran klaim Trump tersebut.
Pidato di Kongres: Fokus pada Ukraina dan NATO
Sebelum jamuan makan malam, Raja Charles III menyampaikan pidato bersejarah di hadapan Kongres AS. Dalam kesempatan tersebut, ia juga tidak memberikan pernyataan langsung mengenai perang Iran. Namun, sang Raja menyoroti pentingnya bantuan berkelanjutan Amerika Serikat untuk Ukraina dalam melawan Rusia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Raja Charles juga menyentuh isu sensitif mengenai kritik Trump terhadap NATO. Ia menekankan bahaya isolasionisme dan pentingnya menjaga persatuan internasional. Pidato tersebut mencerminkan kekhawatiran London terhadap potensi pergeseran kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang mungkin mengabaikan aliansi tradisional.
Latar Belakang Ketegangan Transatlantik
Amerika Serikat dan Inggris sebenarnya memiliki posisi dasar yang sama, yaitu menolak pengembangan senjata nuklir oleh Teheran. Namun, pendekatan taktis di antara kedua pemimpin pemerintahan menunjukkan perbedaan yang tajam. Trump menginginkan tindakan yang lebih agresif, sementara pemerintahan Starmer cenderung lebih berhati-hati.
Di sisi lain, Teheran tetap membantah upaya pencarian senjata nuklir. Sebagai anggota Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), Iran mengeklaim haknya untuk mengembangkan teknologi nuklir guna tujuan damai, termasuk pengayaan uranium. Ketegangan ini terus menjadi ujian bagi stabilitas global di sepanjang tahun 2026.
Diplomasi di Atas Bara Api
Jamuan kenegaraan ini menunjukkan upaya Trump untuk menggunakan karisma monarki Inggris guna memperkuat narasi kebijakan luar negerinya. Meskipun demikian, netralitas Raja Charles III memberikan batasan yang jelas bagi ambisi politik tersebut.
Dengan sisa dua hari kunjungan di New York dan Bermuda, publik dunia terus memantau dinamika hubungan unik ini. Masyarakat internasional menantikan apakah kunjungan ini mampu meredakan ketegangan transatlantik atau justru semakin memperjelas keretakan antara Washington dan London.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















