Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketegangan rasial memuncak. Kematian tragis seorang bocah suku asli Australia memicu aksi main hakim sendiri dan bentrokan berdarah antara ratusan warga dengan petugas keamanan di Alice Springs. Dok: Li Chuan, Chiu/via REUTERS.

Ketegangan rasial memuncak. Kematian tragis seorang bocah suku asli Australia memicu aksi main hakim sendiri dan bentrokan berdarah antara ratusan warga dengan petugas keamanan di Alice Springs. Dok: Li Chuan, Chiu/via REUTERS.

ALICE SPRINGS, POSNEWS.CO.ID – Situasi di Alice Springs mencapai titik didih setelah penemuan jasad bocah perempuan berusia lima tahun yang hilang sejak Sabtu lalu. Kepolisian Wilayah Utara melaporkan bentrokan besar antara sekitar 400 warga dengan petugas kepolisian serta tenaga medis pada Kamis malam.

Komisaris Polisi Northern Territory, Martin Dole, mengonfirmasi bahwa warga lokal melakukan aksi main hakim sendiri terhadap tersangka, Jefferson Lewis (47). Warga menemukan Lewis di sebuah perkemahan kota dan memukulinya hingga tidak sadarkan diri sebelum pihak kepolisian mengamankannya.

Penemuan Jasad dan Tradisi “Payback”

Keluarga korban kini menyebut bocah tersebut sebagai Kumanjayi Little Baby, sesuai dengan adat suku asli setempat. Ratusan relawan menemukan jasad korban di semak-semak lebat di pinggiran Alice Springs pada hari Kamis. Penemuan ini segera memicu gelombang kemarahan besar di kalangan komunitas Aborigin.

Massa yang marah kemudian berkumpul di luar Rumah Sakit Alice Springs, tempat Lewis menjalani perawatan medis. Mereka mencoba merangsek masuk dan menuntut “payback”—sebuah tradisi hukuman fisik dalam masyarakat Aborigin. “Masyarakat memutuskan untuk menegakkan keadilan vigilante terhadap Jefferson,” ujar Dole dalam konferensi pers pada Jumat pagi.

Baca Juga :  Trump vs Eropa: Keretakan Sekutu dalam Misi Maritim Selat Hormuz

Kerusuhan dan Penggunaan Gas Air Mata

Bentrokan fisik pecah saat polisi mencoba menghalau massa yang menyerang rumah sakit. Pengunjuk rasa melemparkan berbagai proyektil dan menyulut api di sekitar lokasi. Akibatnya, sejumlah petugas polisi dan petugas medis mengalami luka-luka. Massa juga merusak beberapa kendaraan polisi, ambulans, hingga truk pemadam kebakaran.

Polisi terpaksa menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan yang semakin agresif. “Tidak ada alasan apa pun untuk melakukan kekerasan terhadap petugas layanan darurat yang hanya menjalankan tugas mereka,” tegas Dole. Guna menjamin keselamatan nyawa tersangka, otoritas menerbangkan Lewis ke ibu kota Darwin pada Jumat dini hari.

Respons Pemerintah: Larangan Alkohol dan Pengamanan Ketat

Perdana Menteri Anthony Albanese menyatakan keprihatinannya atas kemarahan warga, namun ia mendesak komunitas untuk menahan diri. Sementara itu, Kepala Menteri Northern Territory, Lia Finocchiaro, langsung memberlakukan larangan penjualan alkohol selama satu hari penuh di wilayah tersebut.

Baca Juga :  AS Tuduh Rwanda Khianati Perjanjian Damai: Dukung Pemberontak M23 Rebut Kota Strategis Kongo

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemerintah juga mengirimkan personel kepolisian tambahan dari Darwin untuk memulihkan ketertiban. Langkah-langkah pembatasan ini bertujuan untuk menekan angka kriminalitas yang sering kali meningkat di wilayah tersebut. Otoritas berharap situasi segera mendingin agar proses hukum terhadap Lewis dapat berjalan sesuai prosedur.

Akar Masalah Marginalisasi Suku Asli

Tragedi ini kembali menyoroti kegagalan jangka panjang Australia dalam melakukan rekonsiliasi dengan penduduk aslinya. Meskipun suku Aborigin telah menghuni daratan tersebut selama 50.000 tahun, mereka tetap berada di lapisan terbawah indikator ekonomi dan sosial.

Singkatnya, kemiskinan dan keterbatasan layanan di perkemahan pinggiran kota seperti tempat tinggal korban menjadi bom waktu bagi stabilitas sosial. Di tahun 2026 ini, masyarakat internasional terus memantau kemampuan Canberra dalam menangani ketimpangan sistemik yang terus memicu ledakan kekerasan di wilayah-wilayah terpencil Australia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tiga Geng Motor Ditangkap Usai Tawuran Bersenjata Tajam di Bogor
PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam
Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon
Warung Sembako di Kalideres Ternyata Jual Obat Keras Ilegal, 2 Pengedar Ditangkap
Raul Castro Pimpin Longmarch Hari Buruh di Tengah Blokade Minyak AS
Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok
Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi
Tabrak Lari di Kalimalang, Pedagang Buah Terluka Parah – Polisi Buru Sopir Pajero Hitam

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 17:52 WIB

Tiga Geng Motor Ditangkap Usai Tawuran Bersenjata Tajam di Bogor

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:35 WIB

Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:21 WIB

Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:20 WIB

Warung Sembako di Kalideres Ternyata Jual Obat Keras Ilegal, 2 Pengedar Ditangkap

Berita Terbaru

Menjaga stabilitas kawasan. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengumumkan evolusi strategi Indo-Pasifik di Hanoi. Ia menjanjikan dukungan finansial besar untuk ketahanan energi dan keamanan maritim guna menghadapi agresivitas China. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB