Menelusuri Jejak Serangan AS yang Menewaskan 120 Anak

Jumat, 8 Mei 2026 - 11:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Luka yang belum kering. Dua bulan pasca-serangan udara militer Amerika Serikat terhadap Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Iran Selatan, keluarga korban masih menuntut keadilan bagi 155 nyawa yang melayang di tengah kebuntuan diplomasi nuklir. Dok: Istimewa.

Luka yang belum kering. Dua bulan pasca-serangan udara militer Amerika Serikat terhadap Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Iran Selatan, keluarga korban masih menuntut keadilan bagi 155 nyawa yang melayang di tengah kebuntuan diplomasi nuklir. Dok: Istimewa.

MINAB, POSNEWS.CO.ID – Dinding yang menghitam akibat api, meja-meja yang terpuntir, dan barang-barang milik anak-anak yang terkubur separuh di bawah reruntuhan menjadi saksi bisu sebuah tragedi besar. Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di kota Minab kini berdiri tanpa atap dan hancur hingga sulit dikenali.

Pada hari Rabu, Kyodo News menjadi organisasi media luar negeri besar pertama yang mendapatkan akses ke lokasi reruntuhan tersebut. Di lokasi kejadian, suasana sunyi dan sepi menyelimuti area yang dulunya penuh tawa. Foto-foto para korban yang terikat pada monumen peringatan tampak berkibar ditiup angin, mengingatkan dunia pada luka yang belum sembuh di tahun 2026 ini.

Kesaksian Memilukan Abutaleb Makkizadeh

Salah satu keluarga yang hancur akibat serangan ini adalah Abutaleb Makkizadeh (47). Putrinya yang berusia 9 tahun, Zeynab, menjadi salah satu korban tewas dalam serangan 28 Februari lalu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada pagi hari kejadian, Makkizadeh sedang berada di bank ketika ledakan besar mengguncang seluruh kota. Istrinya, Tayyebeh Haghdoost (43), menelepon dalam kondisi panik dan mengabarkan bahwa sekolah putri mereka menjadi sasaran serangan. Makkizadeh segera menuju lokasi dan menemukan pemandangan mengerikan: genangan darah, potongan tubuh siswa yang berserakan, dan jeritan orang tua yang mencari anak-anak mereka.

Baca Juga :  Gadis Sukabumi Dijual Rp200 Juta, Disekap di China dan Alami Kekerasan Seksual

“Bagaimana kami bisa memaafkan Amerika Serikat? Kami memiliki hak untuk melihat putri kami tumbuh besar dan bahagia,” ujar Makkizadeh dengan nada marah. Haghdoost menambahkan bahwa ia harus memeriksa kantong jenazah satu per satu sebelum akhirnya mengenali putrinya dari warna seragam sekolah yang ia jahit sendiri.

Hoda Soltani: Penyintas di Tengah Reruntuhan

Kisah lain datang dari Hoda Soltani, seorang siswi kelas lima berusia 11 tahun yang terjepit di bawah puing selama berjam-jam. Meski selamat, Hoda harus menderita patah tulang dada dan luka bakar parah di sekujur tubuhnya.

Meskipun demikian, Hoda berusaha tegar di hadapan keluarganya, meski terkadang ia tiba-tiba menangis tanpa sebab. “Amerika Serikat menjatuhkan bom di sekolah saya. Mereka membunuh adik dan teman-teman saya,” ujar Hoda sambil menunjukkan bekas luka keloid di tangannya. Adiknya yang berusia 8 tahun, Ahmad, serta sepupunya, Mohammad Shahdoosti, tewas seketika dalam ledakan tersebut.

Ibu Hoda, Homa Shahdoosti (38), menceritakan momen dramatis saat ia berlari tanpa alas kaki menuju sekolah yang terbakar. Ia baru bisa mengenali putrinya di unit perawatan intensif setelah Hoda membuka mata dan berbisik, “Saya Hoda, kelas lima.”

Baca Juga :  Diplomasi Dagang di Perancis: Mencari Penyeimbang Baru dalam Hubungan AS-China

Investigasi Pentagon dan Pelanggaran Hukum Kemanusiaan

Otoritas yudisial Iran merevisi jumlah korban tewas menjadi 155 orang, yang terdiri dari 73 anak laki-laki, 47 anak perempuan, serta sejumlah guru. Satu orang siswa dilaporkan masih hilang hingga saat ini.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan bahwa Pentagon membutuhkan waktu untuk menyelidiki insiden tersebut secara menyeluruh. Laporan media AS menyebutkan adanya kemungkinan sekolah tersebut menjadi target secara keliru akibat penggunaan peta yang sudah usang. Namun, hingga saat ini pihak Amerika Serikat belum merilis rincian hasil analisis mereka.

Organisasi internasional seperti UNESCO dan Human Rights Watch telah melayangkan protes keras. Mereka menyebut aksi militer tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum kemanusiaan internasional yang melarang penargetan fasilitas pendidikan dan warga sipil.

Luka yang Membeku di Minab

Dua bulan telah berlalu, namun penduduk Minab masih menghitung anak-anak mereka di dua tempat: di deretan makam kecil atau di antara penyintas yang membawa bekas luka permanen. Setiap senja, pemakaman kota dipenuhi bisikan orang tua yang meratapi kepergian anak-anak mereka.

Singkatnya, tragedi Minab menjadi noda hitam dalam konflik Amerika Serikat-Iran di tahun 2026. Selama pertanggungjawaban hukum belum ditegakkan, puing-puing Sekolah Shajareh Tayyebeh akan tetap menjadi simbol kegagalan diplomasi dalam melindungi jiwa yang paling tidak berdosa.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih
Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China
El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15
Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai
Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India
Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:12 WIB

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:09 WIB

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:00 WIB

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:17 WIB

Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:13 WIB

Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15

Berita Terbaru

Langkah taktis amankan benteng udara. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menemui Donald Trump di Washington guna membahas produksi mandiri rudal Patriot. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Jul 2026 - 16:12 WIB

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB