SEOUL, POSNEWS.CO.ID – Korea Selatan kini menarik minat besar dari para produsen minyak Timur Tengah. Negara-negara tersebut berupaya mengamankan pasokan minyak mentah mereka melalui fasilitas cadangan strategis milik Seoul di tengah blokade total Selat Hormuz yang masih berlangsung.
Blokade tersebut dipicu oleh rangkaian serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran sejak akhir Februari lalu. Akibatnya, tangki penyimpanan di negara-negara produsen kini hampir mencapai kapasitas maksimum karena mereka tidak memiliki jalur keluar untuk pengapalan.
Rute Aman di Luar Selat Hormuz
Kepala Kantor Keamanan Industri dan Sumber Daya MOTIE, Yang Gi Uk, mengungkapkan bahwa beberapa negara telah mendekati Seoul. Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA) menyimpulkan bahwa menyimpan minyak di luar Selat Hormuz dapat mengurangi risiko ekonomi secara signifikan.
“Ekspor minyak mentah merupakan pilar utama ekonomi mereka,” ujar Yang kepada wartawan. Oleh karena itu, para produsen tersebut lebih memilih untuk menimbun minyak di lokasi aman guna menjualnya kembali saat situasi pasar sudah kondusif di masa mendatang.
Keunggulan Infrastruktur Bawah Tanah Korea
Korea Selatan memiliki keunggulan teknis yang sulit ditandingi oleh negara lain di kawasan, termasuk Jepang. Sembilan pangkalan cadangan nasional Korea Selatan sebagian besar dibangun di bawah tanah (subterranean).
Desain bawah tanah ini memberikan perlindungan alami terhadap ledakan atau serangan udara. Selain itu, lokasi penyimpanan utama seperti di Ulsan dan Yeosu berada di dalam klaster petrokimia terbesar di Asia. Hal ini memudahkan akses bagi perusahaan kilang raksasa seperti S-Oil dan GS Caltex. Sebaliknya, sebagian besar fasilitas serupa di Jepang berada di permukaan tanah atau terapung di laut yang lebih rentan terhadap gangguan fisik.
Geopolitik dan Kedaulatan Energi
Profesor Kim Jin Soo dari Universitas Hanyang menekankan bahwa posisi geografis Korea Selatan memberikan daya tarik tambahan. Korea Selatan dikelilingi oleh laut di tiga sisi tanpa adanya titik sumbat (chokepoint) pada rute pelayarannya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Nilai aset keamanan energi seperti fasilitas penimbunan kini melonjak secara ekonomi dan diplomatik,” jelas Kim. Terlebih lagi, hal ini merupakan hasil dari persaingan hegemoni sumber daya yang semakin intens dalam satu dekade terakhir. Strategi ini mempermudah produsen untuk memindahkan minyak mentah masuk dan keluar dari wilayah Korea dengan lancar.
Perjanjian Penyimpanan Bersama: Keuntungan Ganda
Korea Selatan telah memiliki kesepakatan penimbunan bersama dengan Abu Dhabi National Oil Co (ADNOC) milik UEA. Berdasarkan skema ini, perusahaan minyak asing membayar biaya sewa penggunaan fasilitas kepada Korea National Oil Corporation (KNOC).
Namun, keuntungan terbesarnya adalah aspek keamanan nasional. Pemerintah Korea Selatan mendapatkan “hak pembelian prioritas” atas minyak yang tersimpan tersebut jika terjadi krisis pasokan dalam negeri. Dengan demikian, Seoul mampu menjamin ketersediaan bahan bakar bagi industrinya tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pengiriman baru dari Teluk Persia.
Menjadi Jangkar Stabilitas Global
Ketangguhan sistem energi Korea Selatan kini menjadi instrumen diplomasi yang sangat kuat pada tahun 2026. Fasilitas yang dibangun selama setengah abad ini terbukti menjadi investasi yang menyelamatkan ekonomi nasional dari guncangan perang.
Singkatnya, peran Seoul kini bergeser dari sekadar pengimpor menjadi penyedia solusi logistik energi dunia. Masyarakat internasional kini memantau apakah kerja sama serupa akan segera terjalin dengan produsen besar lainnya guna memperkuat jaring pengaman energi di Belahan Bumi Timur.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












