SpaceX Uji Coba Roket Terkuat dalam Sejarah Jelang Misi Bulan

Minggu, 24 Mei 2026 - 13:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketergantungan pertahanan AS. SpaceX mendesak Pentagon membayar tarif langganan Starlink hingga lima kali lipat untuk operasional drone kamikaze dalam perang melawan Iran. Dok: Istimewa.

Ketergantungan pertahanan AS. SpaceX mendesak Pentagon membayar tarif langganan Starlink hingga lima kali lipat untuk operasional drone kamikaze dalam perang melawan Iran. Dok: Istimewa.

TEXAS, POSNEWS.CO.ID – SpaceX berhasil meluncurkan Starship V3 pada Jumat (8/5/2026). Roket paling kuat dalam sejarah ini memulai debutnya dari Texas selatan. NASA mengandalkan kendaraan ini untuk misi pendaratan astronot di Bulan.

Elon Musk mengumumkan rencana IPO SpaceX tepat dua hari sebelum peluncuran. Penerbangan ini menjadi uji coba ke-12 bagi Starship. Oleh karena itu, perusahaan menaruh harapan besar pada keberhasilan roket ini.

Performa Starship V3: Lebih Besar dan Lebih Kuat

Starship V3 memiliki tinggi mencapai 124 meter. Model ini melampaui ukuran semua seri Starship pendahulunya. Selain itu, SpaceX menyematkan daya dorong mesin yang jauh lebih besar.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, SpaceX merancang ulang penguat tahap pertama (booster) roket ini. Mereka memasang sirip kemudi yang lebih kuat agar kembalinya roket ke Bumi menjadi lebih stabil. Saluran transfer bahan bakar pun kini lebih kokoh untuk memberi makan 33 mesin utama. Stainless steel yang menjadi bahan utama badan roket juga memberikan ketahanan yang lebih baik di lingkungan ekstrem.

Baca Juga :  Dari Beijing ke Milan: Estafet Semangat dan Inovasi Olimpiade

Sukses Misi: Dari Texas hingga Samudra Hindia

Peluncuran berjalan mulus dari landasan baru di Starbase. Roket membawa 20 satelit Starlink tiruan untuk menguji muatan. Pesawat ruang angkasa itu terus melaju ke arah timur hingga mencapai ketinggian 194 kilometer.

Selanjutnya, Starship berhasil mencapai sasarannya di Samudra Hindia. Pesawat tersebut sempat miring dan terbakar saat memasuki atmosfer terakhir, namun hal itu sesuai dengan rencana SpaceX. Di sisi lain, seluruh tahapan penerbangan memberikan data berharga bagi pengembangan misi luar angkasa di masa depan.

Misi Artemis dan Persaingan Lunar

NASA membayar SpaceX miliaran dolar untuk menyediakan pendarat bulan. Blue Origin milik Jeff Bezos juga menerima kontrak serupa. Dengan demikian, kedua perusahaan kini berlomba menjadi yang pertama mendaratkan astronot Artemis di Bulan.

NASA berencana melakukan uji coba docking di orbit Bumi tahun depan. Pada misi Artemis III mendatang, astronot akan mencoba menyambungkan kapsul Orion mereka dengan Starship atau Blue Moon. Pendaratan dua astronot di Bulan—misi Artemis IV—dapat terjadi paling cepat pada 2028. Target akhirnya adalah mendirikan pangkalan Bulan di kutub selatan yang diisi oleh manusia dan robot.

Baca Juga :  Trump Luncurkan Dana Kompensasi $1,7 Miliar: Pendukung Beraksi

Wisata Mars dan Peminat Komersial

SpaceX telah membuka reservasi untuk penerbangan pribadi ke Bulan dan Mars. Pengusaha asal California, Dennis Tito, telah memesan tiket terbang mengelilingi Bulan sejak tiga tahun lalu. Baru-baru ini, investor bitcoin kelahiran China, Chun Wang, mengumumkan rencana perjalanannya ke Mars menggunakan Starship.

Wang sebelumnya telah menyewa penerbangan SpaceX tahun lalu. Bersama kru pilihannya, ia menjadi orang pertama yang mengorbit kutub utara dan selatan Bumi. Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada label harga atau tanggal pasti untuk misi ambisius ke Mars tersebut.

Keberhasilan Starship V3 menjadi tonggak sejarah bagi ambisi kolonisasi luar angkasa. Singkatnya, roket ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan jembatan bagi manusia untuk menjadi spesies antarplanet.

Dengan demikian, masyarakat internasional kini menanti langkah SpaceX selanjutnya. Di tahun 2026 yang penuh dengan kemajuan teknologi ini, keberhasilan pendaratan di Bulan akan menentukan dominasi perusahaan swasta dalam peta geopolitik ruang angkasa dunia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya
Anthropic Raih Skor Tertinggi di Tengah Ancaman Eksistensial
Gempuran Drone Ukraina Paksa Kilang Minyak Rusia Setop
Nigel Farage Mundur dari Parlemen Inggris
AS Gempur Sasaran Militer Iran Pasca-Serangan Kapal Tanker
Trump Tuntut Kendali Greenland dan Cabut Sanksi Turki
Korban Gempa Venezuela Bertahan Hidup di Bawah Reruntuhan
Rusia Gempur Kyiv dengan Rudal Balistik

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 18:48 WIB

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya

Rabu, 8 Juli 2026 - 14:04 WIB

Gempuran Drone Ukraina Paksa Kilang Minyak Rusia Setop

Rabu, 8 Juli 2026 - 13:56 WIB

Nigel Farage Mundur dari Parlemen Inggris

Rabu, 8 Juli 2026 - 12:38 WIB

AS Gempur Sasaran Militer Iran Pasca-Serangan Kapal Tanker

Rabu, 8 Juli 2026 - 11:31 WIB

Trump Tuntut Kendali Greenland dan Cabut Sanksi Turki

Berita Terbaru

Hambatan di tengah krisis kesehatan. Warga di kamp pengungsian Kpangba mengusir petugas medis yang berupaya melacak kontak erat korban meninggal akibat Ebola. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya

Rabu, 8 Jul 2026 - 18:48 WIB