Polda Metro Didesak Periksa Mantan Kabais TNI dalam Kasus Andrie Yunus

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Koordinator Kontras Dimas Bagus Arya. (Posnews/Ist)

Koordinator Kontras Dimas Bagus Arya. (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) terus mendorong pengusutan tuntas kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Kontras, Andrie Yunus.

Kali ini, Kontras mendesak Polda Metro Jaya memeriksa mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI Letjen Yudi Abrimantyo serta dua terpidana yang sebelumnya menjalani hukuman dalam peradilan militer.

Koordinator Kontras Dimas Bagus Arya menyampaikan desakan tersebut saat memenuhi panggilan pemeriksaan sebagai saksi di Polda Metro Jaya, Rabu (17/6/2026).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dimas menilai penyidik harus memeriksa pihak-pihak yang selama ini belum tersentuh proses hukum agar dapat mengungkap seluruh rangkaian peristiwa penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus.

Kontras Desak Polisi Panggil Mantan Petinggi Bais TNI

Dimas meminta penyidik memanggil mantan Kabais TNI, mantan Wakabais, dan pejabat intelijen yang dikenal sebagai Direktur E.

Baca Juga :  Operasi Ketupat 2026 Hari ke-13: 226 Kecelakaan, 12 Tewas - Kendaraan Masuk Jakarta 256 Ribu

Menurut Dimas, empat pelaku yang telah menerima vonis dalam peradilan militer merupakan anggota Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI.

Dimas menegaskan penyidik perlu memeriksa para pejabat tersebut untuk menguji temuan investigasi Tim Advokasi untuk Demokrasi yang menduga keterlibatan pihak lain dalam kasus itu.

“Dalam proses peradilan militer, penyidik tidak pernah memanggil Kabais, Wakabais yang kemudian diganti, maupun Direktur E. Padahal, mereka berkaitan dengan rangkaian peristiwa penyiraman air keras yang terjadi selama ini,” kata Dimas.

Ia menilai penyidik dapat mengungkap dugaan operasi di balik aksi penyiraman air keras dengan memeriksa para pejabat tersebut.

Kontras Dorong Pemeriksaan Dua Terpidana

Selain mendesak penyidik memeriksa mantan petinggi Bais TNI, Kontras juga meminta penyidik memanggil Edi Sukardo dan Budi Haryanto Widicahyono yang telah menerima vonis dalam peradilan militer.

Dimas menilai penyidik memiliki dasar kuat untuk memeriksa keduanya karena mereka sudah tidak lagi menyandang status prajurit aktif TNI.

“Status mereka sekarang bukan lagi prajurit aktif, sehingga penyidik patut memeriksa dan mendalami keterangannya,” ujarnya.

Menurut Dimas, penyidik dapat memperkuat konstruksi perkara sekaligus melengkapi fakta yang terungkap dalam persidangan militer dengan memeriksa kedua terpidana tersebut.

Baca Juga :  Silmy Karim Diduga Terima Rp100 Juta per Minggu, KPK Bongkar Kode 'Malaikat'

Tim Advokasi Temukan Dugaan Keterlibatan 16 Orang

Dimas juga mengungkapkan bahwa Tim Advokasi untuk Demokrasi berhasil mengidentifikasi 16 orang yang diduga memiliki keterkaitan dengan kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus.

Empat orang telah menerima vonis dari peradilan militer. Namun, tim investigasi menduga 12 orang lainnya turut berperan dalam rangkaian peristiwa tersebut.

Tim Advokasi untuk Demokrasi mengidentifikasi para terduga melalui rekaman CCTV dan analisis OSINT (intelijen sumber terbuka).

“Kami mengidentifikasi 16 orang yang terkait dengan kasus penyiraman air keras di Jalan Talang, Salemba, Jakarta Pusat, melalui rekaman CCTV dan analisis OSINT,” ujar Dimas.

Polda Metro Jaya Hadapi Desakan Usut Aktor Intelektual

Saat ini, Polda Metro Jaya masih mendalami laporan Kontras terkait dugaan keterlibatan pihak lain dalam kasus tersebut.

Masyarakat sipil dan pegiat HAM terus mendesak penyidik mengungkap seluruh pelaku, termasuk aktor intelektual di balik penyiraman air keras.

Jika penyidik menindaklanjuti temuan tersebut, pengungkapan kasus ini berpotensi memasuki babak baru. **

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jadwal Ramadan 2027 Menurut Muhammadiyah: Puasa Mulai 8 Februari
Konflik Papua Memanas, Panglima TNI Tekankan Kolaborasi Lindungi Warga
Lowongan Kerja Google September 2026, Lulusan S1 Bisa Daftar
Kemenag Batasi HP di Sekolah, Ini Aturan yang Wajib Diketahui Orang Tua
Prabowo di Gontor: Tak Boleh Ada Orang Lapar dan Koruptor
Produksi Kelapa Sawit Kalimantan Diproyeksi Anjlok 15 Persen
Kapal Induk Garibaldi Tiba, TNI AL Siapkan Satuan Baru dan Pangkalan di Lampung
KPK Geledah Kantor Summarecon, Bongkar Jejak Dugaan Suap HGB Bogor

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 12:22 WIB

Jadwal Ramadan 2027 Menurut Muhammadiyah: Puasa Mulai 8 Februari

Minggu, 20 September 2026 - 12:11 WIB

Konflik Papua Memanas, Panglima TNI Tekankan Kolaborasi Lindungi Warga

Minggu, 20 September 2026 - 07:39 WIB

Lowongan Kerja Google September 2026, Lulusan S1 Bisa Daftar

Sabtu, 19 September 2026 - 21:21 WIB

Kemenag Batasi HP di Sekolah, Ini Aturan yang Wajib Diketahui Orang Tua

Sabtu, 19 September 2026 - 17:03 WIB

Prabowo di Gontor: Tak Boleh Ada Orang Lapar dan Koruptor

Berita Terbaru

Donald Trump mengumumkan pembentukan AI Force untuk mendukung industri AI AS. Simak rincian kebijakan baru dan kontroversi pusat data AI. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donald Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan AI

Minggu, 20 Sep 2026 - 21:58 WIB

Polisi Rusia menangkap pengamat pemilu Partai Yabloko hingga pingsan di St. Petersburg. Simak rincian insiden dan dugaan pelanggaran pemilu Duma. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pengamat Oposisi Pingsan Saat Polisi Lakukan Penangkapan

Minggu, 20 Sep 2026 - 20:55 WIB

Denmark dan Greenland menegaskan kedaulatan wilayah usai Donald Trump mengklaim kontrol militer permanen di Arktik. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Denmark Tegaskan Kedaulatan Usai Trump Klaim Kontrol

Minggu, 20 Sep 2026 - 20:30 WIB