MANILA, POSNEWS.CO.ID – Hubungan diplomatik antara Filipina dan China kembali memanas.
Pemerintah Manila mengecam keras visualisasi rasis dari media Beijing.
Protes keras ini merespons unggahan video animasi media pemerintah China.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Video tersebut menggambarkan warga Filipina sebagai seekor kera.
Penggambaran Rasis pada Video Animasi
Media China Daily mengunggah animasi tersebut pada pekan lalu.
Video tersebut fokus menyerang keputusan arbitrase Laut China Selatan.
Animasi menampilkan seekor monyet mengenakan pakaian tradisional Filipina.
Monyet tersebut memegang kertas keputusan arbitrase tahun 2016.
Dua tangan bersimbol AS dan Jepang melempar monyet tersebut.
Kapal patroli China kemudian menembakkan meriam air ke arahnya.
Takarir video menyebut politisi Filipina hanya menjadi pion asing.
Tuntutan Penghapusan Konten dan Pemanggilan Duta Besar
Kementerian Luar Negeri Filipina segera memanggil Duta Besar Jing Quan.
Wakil Menteri Luar Negeri Leo Herrera-Lim memimpin pertemuan tersebut.
Herrera-Lim menuntut media segera menghapus video rasis tersebut.
Filipina menilai video tersebut melanggar batas debat politik sehat.
Kedutaan Besar Filipina di Beijing juga mengirim surat protes.
Mereka mendesak pemimpin redaksi China Daily menarik konten itu.
Sikap Dingin Beijing dan Klaim Arbitrase
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian memberikan tanggapan.
Lin menyebut video tersebut bukan sikap resmi pemerintah Beijing.
Namun ia menegaskan penolakan China terhadap keputusan arbitrase 2016.
China menganggap keputusan hukum di Den Haag sebagai lelucon.
Filipina justru memperingati keputusan tersebut sebagai kemenangan hukum internasional.
Amerika Serikat dan Uni Eropa mendukung penuh posisi hukum Manila.
Sengketa wilayah ini juga melibatkan Malaysia, Vietnam, dan Brunei.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













