JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor minyak sawit Indonesia mencapai 12,27 miliar dolar AS pada semester I 2026. Angka tersebut hanya tumbuh 7,32 persen ketimbang periode sama tahun lalu. Padahal, ekspor minyak sawit melonjak 24,80 persen pada semester I 2025.
Deputi BPS Ateng Hartono mengonfirmasi penurunan laju ekspor tersebut pada konferensi pers. Sementara itu, volume ekspor hanya naik 2,50 persen menjadi 11,28 juta ton. Khusus bulan Juni 2026, nilai ekspor CPO merosot 0,39 persen menjadi 393,7 juta dolar AS. Bahkan, volume pengiriman Juni turun drastis 19,78 persen menjadi 335.400 ton.
Penerapan Program B50 Menyerap Pasokan CPO Domestik
Pemerintah Indonesia resmi menaikkan bauran minyak sawit pada bahan bakar dari 40 persen menjadi 50 persen. Langkah ini memicu pengalihan pasokan ekspor untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Namun, data BPS Juni belum merekam dampak penuh dari implementasi B50 tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ateng Hartono mengingatkan publik agar mencermati pergerakan data produksi serta konsumsi domestik mendatang. Sementara itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memproyeksikan tambahan kebutuhan CPO sebesar 1,9 juta ton. Akibatnya, program B50 menyerap total 14,6 juta ton CPO nasional. Oleh karena itu, ekspor minyak sawit Indonesia berpotensi tertekan jika produksi tidak bertambah.
Strategi Pemerintah Kurangi Ketergantungan Impor Migas
Pemerintah Presiden Prabowo Subianto menjadikan kebijakan B50 sebagai solusi utama penghematan devisa. Langkah ini menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar fosil asing. Selain itu, nilai impor migas Indonesia melonjak 105,15 persen pada Juni 2026.
Indonesia membeli pasokan energi dalam jumlah besar dari Singapura serta Malaysia. Padahal, Indonesia menguasai porsi terbesar dalam rantai pasok minyak sawit dunia. Selanjutnya, berbagai industri global memanfaatkan CPO Indonesia untuk memproduksi sabun hingga makanan olahan. Oleh karena itu, kebijakan energi nasional ini memengaruhi dinamika perdagangan komoditas global.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













