Konfrontasi Militer Tanpa Batas: Perang Udara AS-Israel Meluas ke Lebanon

Selasa, 3 Maret 2026 - 14:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perang meluas ke pusat kota. Serangan udara Israel menghantam kawasan Bachoura di dekat markas besar pemerintah Lebanon, memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka. Dok: Istimewa.

Perang meluas ke pusat kota. Serangan udara Israel menghantam kawasan Bachoura di dekat markas besar pemerintah Lebanon, memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Perang udara yang Amerika Serikat dan Israel lancarkan terhadap Iran secara resmi meluas ke wilayah Lebanon pada Senin. Eskalasi ini terjadi tanpa ada tanda-tanda gencatan senjata, sementara Teheran tetap melanjutkan serangan balasan ke berbagai pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer ini kemungkinan besar akan berlanjut selama beberapa minggu ke depan. Bahkan, Trump mengakui bahwa situasi kepemimpinan di Iran saat ini masih tidak menentu pasca-pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei pada jam-jam awal kampanye militer akhir pekan lalu.

Perluasan Front ke Lebanon dan Siprus

Konfrontasi mencapai titik didih baru ketika milisi Hezbollah di Lebanon mulai meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel sebagai bentuk loyalitas kepada Teheran. Sebagai respons, militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke pinggiran selatan Beirut yang merupakan basis pertahanan Hezbollah.

Otoritas Lebanon melaporkan bahwa sedikitnya 31 orang tewas dan 149 lainnya luka-luka akibat gempuran tersebut. Selain itu, ketegangan merembat hingga ke wilayah Siprus setelah sebuah drone Shahed buatan Iran menghantam pangkalan angkatan udara Inggris di Akrotiri. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa Inggris akan melindungi warganya namun memilih untuk tidak mengambil tindakan ofensif secara langsung.

Baca Juga :  Dugaan Ujaran SARA ke Toraja, Pandji Jalani Pemeriksaan Lanjutan Hari Ini

Tragedi “Friendly Fire” di Langit Kuwait

Risiko teknis dalam zona perang yang padat terbukti mematikan. Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa militer Kuwait secara tidak sengaja menembak jatuh tiga jet tempur F-15E Strike Eagle milik Amerika Serikat di tengah upaya menghalau serangan Iran.

Video yang telah terverifikasi menunjukkan salah satu pesawat jatuh berputar dari langit dengan mesin yang terbakar hebat. Meskipun demikian, seluruh enam awak pesawat berhasil keluar menggunakan kursi pelontar dan telah petugas selamatkan. Insiden ini menambah daftar kerugian personel AS yang kini mencapai enam orang tewas akibat serangan balasan Iran di Kuwait sejak Sabtu lalu.

Kelumpuhan Energi Global dan Ekonomi

Dampak ekonomi dari perang ini mulai terasa secara instan di seluruh dunia. Penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz telah menghentikan distribusi seperlima perdagangan minyak global yang melintasi pesisir Iran.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akibatnya, harga minyak dunia melonjak tajam dan mendorong harga bensin eceran di Amerika Serikat melewati angka $3 per galon. Qatar, sebagai eksportir gas alam cair (LNG) terbesar, juga resmi menghentikan produksinya karena tidak adanya jaminan keamanan pengiriman. Bahkan, Arab Saudi terpaksa menutup kilang minyak terbesarnya setelah serangan drone menyebabkan kebakaran hebat di fasilitas energi tersebut.

Baca Juga :  Tamám Shud: Misteri Mayat di Pantai Adelaide

Pertaruhan Politik Donald Trump

Bagi Donald Trump, kampanye militer ini merupakan perjudian kebijakan luar negeri terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Trump menegaskan bahwa ia memerintahkan serangan tersebut guna memutus program nuklir dan rudal balistik Iran yang tumbuh sangat cepat.

Namun demikian, dukungan publik terhadap langkah militer ini masih sangat rendah. Jajak pendapat terbaru menunjukkan hanya satu dari empat warga Amerika yang mendukung serangan tersebut. Oleh karena itu, kebijakan ini berisiko menjadi beban politik berat bagi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu (midterm) tahun ini. Di dalam wilayah Iran sendiri, suasana batin masyarakat tercampur antara euforia atas jatuhnya rezim lama dan kemarahan besar terhadap bombardir yang juga menghantam target sipil di berbagai kota.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Arus Mudik 2026: 459 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jakarta, 3,2 Juta Masih Tertahan
Cuaca Indonesia Minggu 15 Maret 2026, Jakarta hingga Surabaya Berawan dan Hujan
Diplomasi Rel dan Jembatan: Korea Utara Buka Kembali Jalur Logistik dengan China dan Rusia
Bupati Syamsul Auliya Rachman Jadi Tersangka, KPK Bongkar Setoran THR Rp610 Juta
Revolusi Jalur Langit: Jepang Bangun Tol Drone 40.000 Km di Atas Kabel Listrik
Mudik Lebaran 2026, Kapolda Metro Jaya Pastikan 1.647 Titik Pengamanan Siap
Strategi Tanpa Arah: Membedah Kekacauan Politik di Balik Serangan Militer AS ke Iran
Klaim Kemenangan Mutlak AS: Pete Hegseth Sebut Militer Iran Lumpuh Total di Hari ke-13

Berita Terkait

Minggu, 15 Maret 2026 - 05:55 WIB

Arus Mudik 2026: 459 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jakarta, 3,2 Juta Masih Tertahan

Minggu, 15 Maret 2026 - 05:09 WIB

Cuaca Indonesia Minggu 15 Maret 2026, Jakarta hingga Surabaya Berawan dan Hujan

Sabtu, 14 Maret 2026 - 20:13 WIB

Diplomasi Rel dan Jembatan: Korea Utara Buka Kembali Jalur Logistik dengan China dan Rusia

Sabtu, 14 Maret 2026 - 19:56 WIB

Bupati Syamsul Auliya Rachman Jadi Tersangka, KPK Bongkar Setoran THR Rp610 Juta

Sabtu, 14 Maret 2026 - 18:53 WIB

Revolusi Jalur Langit: Jepang Bangun Tol Drone 40.000 Km di Atas Kabel Listrik

Berita Terbaru