NTT, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah bergerak mempercepat pemulihan warga setelah gempa bumi Magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan bantuan perbaikan rumah berdasarkan tingkat kerusakan.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan warga dengan rumah rusak ringan akan mendapat bantuan Rp15 juta, sedangkan rumah rusak sedang memperoleh Rp30 juta.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, warga dengan rumah rusak berat mendapat skema berbeda.
Pemerintah menyiapkan hunian sementara atau Dana Tunggu Hunian (DTH) Rp600 ribu untuk membantu biaya sewa tempat tinggal sambil menunggu pembangunan hunian tetap.
Suharyanto menyampaikan skema tersebut saat meninjau Puskesmas Riung, Kabupaten Ngada, Rabu (19/8/2026).
Bantuan Disesuaikan dengan Kerusakan
BNPB tidak langsung mencairkan bantuan. Pemerintah terlebih dahulu melakukan pendataan dan verifikasi kondisi rumah.
Langkah tersebut penting agar bantuan benar-benar diterima warga yang berhak. Selain itu, verifikasi dapat mencegah data ganda dan kesalahan dalam menentukan kategori kerusakan.
Suharyanto meminta pemerintah daerah memperkuat koordinasi dalam proses tersebut.
BPBD, organisasi perangkat daerah (OPD), serta unsur terkait harus bekerja bersama agar pendataan berlangsung cepat dan akurat.
BNPB sendiri terus memperkuat data pemulihan permukiman sebagai bagian dari penanganan pascagempa Flores.
Rumah Rusak Berat Tak Dibiarkan Tanpa Hunian
Bagi warga yang rumahnya rusak berat atau hancur, pemerintah menyiapkan dua pilihan tempat tinggal sementara.
Pertama, warga dapat menerima DTH Rp600 ribu untuk kebutuhan menyewa rumah. Kedua, warga dapat menempati hunian sementara (huntara) yang disiapkan pemerintah.
Setelah itu, pemerintah akan menyiapkan hunian tetap (huntap) bagi warga yang memenuhi persyaratan.
Skema tersebut dirancang agar warga tidak terlalu lama hidup dalam kondisi pengungsian.
Dengan tempat tinggal sementara yang layak, masyarakat dapat mulai menata kembali kehidupan sembari menunggu rumah permanen.
Pendataan Jadi Kunci Bantuan Tepat Sasaran
BNPB menekankan bahwa kecepatan harus berjalan bersama ketelitian. Pemerintah tidak ingin bantuan cepat tetapi salah sasaran.
Karena itu, setiap rumah terdampak harus diperiksa dan dikategorikan secara jelas. Hasil verifikasi kemudian menjadi dasar pemberian bantuan.
Suharyanto juga meminta setiap kabupaten dan kota terdampak segera membentuk satuan tugas (satgas) percepatan penanganan darurat.
Satgas tersebut melibatkan pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait. Tujuannya agar penanganan korban, pendataan kerusakan, distribusi bantuan, serta pemenuhan kebutuhan dasar berjalan dalam satu koordinasi.
Bantuan Logistik Terus Bergerak
Selain memperbaiki rumah, pemerintah tetap memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak.
BNPB bersama tim gabungan telah menyalurkan bantuan logistik ke sejumlah wilayah Flores, termasuk Pulau Palue, Sikka, melalui jalur laut dan udara.
Pemerintah juga mengirim ribuan paket sembako melalui jalur udara. Pada tahap awal, sebanyak 1.725 paket tiba di Maumere untuk warga Sikka dan Ende.
Pengiriman lainnya membuat total bantuan yang dikirim melalui dua pesawat Hercules pada 15 Agustus mencapai 4.925 paket.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan gempa tidak hanya berfokus pada evakuasi. Pemerintah juga mulai menyiapkan fase pemulihan agar masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas secara bertahap.
Bangkit dengan Rumah yang Lebih Aman
Gempa besar meninggalkan kerusakan fisik sekaligus trauma bagi masyarakat. Karena itu, pembangunan kembali tidak cukup hanya mengembalikan rumah seperti semula.
Rumah yang dibangun kembali harus memperhatikan aspek ketahanan terhadap gempa.
Edukasi mengenai bangunan aman menjadi penting agar masyarakat tidak kembali menghadapi risiko yang sama ketika bencana terjadi.
Pada akhirnya, bantuan Rp15 juta hingga Rp30 juta bukan sekadar angka.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah membantu warga memulai kembali kehidupan setelah bencana.
Dari rumah yang rusak, harapan harus kembali dibangun. Dari pengungsian, masyarakat Flores diharapkan dapat perlahan pulang ke hunian yang lebih aman dan lebih tangguh. **
Editor : Hadwan














