JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Makanan enak belum tentu langsung laris. Di tengah persaingan bisnis kuliner yang semakin ketat, pelaku UMKM kini dituntut lebih kreatif membaca selera konsumen, membangun merek, hingga memanfaatkan teknologi digital.
Pesan itu disampaikan Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri saat membuka TikTok FoodFest 2026 di Hutan Kota Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Roro mendorong pelaku UMKM kuliner tidak berhenti pada kemampuan membuat produk yang lezat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut dia, pelaku usaha perlu meningkatkan kualitas produk, memperkuat merek, memahami kebutuhan konsumen, sekaligus memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan bisnis.
“Kami ingin mendorong UMKM kuliner lokal makin naik kelas, meningkatkan kualitas produk, memperkuat merek, memahami kebutuhan konsumen, serta memanfaatkan teknologi secara optimal dalam pengembangan usaha,” ujar Wamendag Roro.
Jutaan Konten Kuliner Jadi Peluang
Perkembangan media sosial membuat cara konsumen mencari makanan ikut berubah. Sebelum membeli, masyarakat kini bisa melihat video, membaca ulasan, mengikuti rekomendasi kreator, hingga mencari informasi produk melalui platform digital.
Roro mengungkapkan, lebih dari 6 juta konten kuliner dengan tagar seperti #Kuliner dan #JajananTikTok telah ikut membuat produk kuliner lokal viral dan dicari konsumen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ruang digital bisa menjadi etalase baru bagi UMKM. Produk yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar kini berpeluang menjangkau konsumen lebih luas.
Karena itu, Roro mengajak pelaku usaha memanfaatkan momentum tersebut dengan tetap menjaga kualitas dan identitas produk lokal.
“Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya merayakan kekayaan kuliner Nusantara secara langsung, tetapi juga mendorong terciptanya kolaborasi dan peluang baru bagi pelaku usaha kuliner lokal,” katanya.
Jangan Sekadar Jual Makanan Enak
Bagi pelaku UMKM, tantangan berikutnya bukan hanya membuat produk viral. Mereka juga harus mampu mempertahankan konsumen setelah perhatian publik berpindah ke produk lain.
Roro mengingatkan agar pelaku usaha menghadirkan cerita yang autentik, konten menarik, dan proses transaksi yang mudah.
Menurut dia, konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan rasa. Mereka juga memperhatikan pengalaman dan cerita yang melekat pada sebuah produk.
“Kenali konsumen, ikuti perkembangan tren dengan tetap mempertahankan identitas dan keunikan produk lokal yang menjadi kekuatan utama. Saat ini, konsumen tidak cuma membeli rasa, tetapi juga membeli cerita, pengalaman, dan nilai di balik sebuah produk,” tutur Roro.
Pesan tersebut menjadi penting bagi UMKM yang ingin bertahan di tengah perubahan tren kuliner.
Sebab, popularitas di media sosial bisa menjadi pintu masuk, tetapi kualitas produk dan pelayanan tetap menentukan apakah konsumen akan kembali membeli.
TikTok FoodFest Libatkan 43 Pelaku Usaha
TikTok FoodFest 2026 berlangsung pada 26-27 September 2026 di Hutan Kota GBK, Jakarta.
Festival kuliner tersebut merupakan penyelenggaraan ketiga dan menghadirkan 25 merek serta 43 pelaku usaha kuliner, ditambah keterlibatan para kreator konten bidang kuliner.
Selain mencicipi makanan dan minuman, pengunjung dapat mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari demonstrasi memasak, aktivitas kebugaran, hingga permainan berhadiah.
Festival juga menghadirkan program Makan Dengan Makna bersama Foodbank of Indonesia.
Program tersebut mengajak masyarakat mengenal pilihan makanan yang lebih sehat sekaligus mendukung target donasi hingga Rp1 miliar.
TikTok juga menghadirkan sejumlah penampilan musik dalam rangkaian festival, antara lain Sal Priadi, Feby Putri, Rizky Febian, Raim Laode, Naykilla, dan NPD.
Konten Kuliner Tumbuh 52 Persen
Head of Industry TikTok Indonesia Zaheer Travadi mengatakan industri kuliner memiliki peran besar dalam perekonomian Indonesia.
Perkembangan itu kini semakin terasa di ruang digital. Menurut data internal TikTok yang disampaikan Zaheer, konten berkaitan dengan makanan tumbuh 52 persen dari tahun ke tahun.
“Dunia kuliner kini juga merambah ranah digital. Ia berkembang pesat di platform seperti TikTok, tempat para pengguna menyimpan resep-resep favorit. Selain itu, konten seputar makanan di TikTok tumbuh sebesar 52% dari tahun ke tahun,” ujar Zaheer.
Sementara itu, data yang disampaikan TikTok sebelumnya menunjukkan industri makanan dan minuman Indonesia tumbuh 6,38 persen pada 2025.
Pada periode yang sama, sektor akomodasi serta penyediaan makanan dan minuman tumbuh 7,41 persen.
Geroz Punya 27 Varian Camilan
Peluang digital juga dirasakan Nadya, salah satu pelaku UMKM kuliner yang mengikuti TikTok FoodFest melalui merek Geroz.
Nadya mengatakan Geroz kini memiliki 27 varian rasa camilan. Sebagian besar produknya dipasarkan melalui kanal daring, termasuk TikTok Shop.
Keikutsertaannya dalam festival bukan sekadar mencari pembeli. Nadya ingin memperkenalkan lebih banyak varian Geroz secara langsung kepada masyarakat sekaligus membuka saluran penjualan di luar platform digital.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi dan pertemuan langsung dengan konsumen bisa berjalan beriringan.
Bagi UMKM, media sosial dapat menjadi pintu untuk memperkenalkan produk.
Sementara itu, festival dan interaksi langsung memberi kesempatan bagi konsumen untuk mengenal rasa, cerita, serta orang-orang di balik produk tersebut.
Pada akhirnya, naik kelas bukan sekadar soal viral. UMKM kuliner perlu menggabungkan kualitas, inovasi, identitas produk, pemahaman konsumen, pemasaran digital, dan pelayanan agar perhatian yang muncul di layar dapat berubah menjadi pelanggan nyata. **
Editor : Hadwan













