JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Perang melawan judi online (judol), narkoba, dan berbagai tindak kejahatan membutuhkan lebih dari sekadar penindakan polisi.
Edukasi sejak dini, penguatan keluarga, serta keterlibatan tokoh agama dan lembaga pendidikan menjadi langkah penting untuk melindungi masyarakat, terutama generasi muda, dari ancaman tersebut.
Atas dasar itu, Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto memperkuat kolaborasi dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah untuk meningkatkan literasi pencegahan kejahatan di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Suyudi mengunjungi Kantor PP Muhammadiyah di Menteng, Jakarta Pusat, dan diterima langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.
Pertemuan tersebut membahas penguatan sinergi dalam kegiatan edukasi, dakwah, serta pelayanan sosial kemasyarakatan.
Suyudi mengapresiasi peran Muhammadiyah yang selama ini mendukung tugas kepolisian melalui berbagai kegiatan keagamaan dan sosial hingga ke pelosok Nusantara.
“Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi atas dukungan PP Muhammadiyah dan jajaran sampai ke pelosok-pelosok Nusantara bersama anggota Polri. Selama ini kita bisa bersinergi dan berkolaborasi dalam kegiatan dakwah maupun kegiatan umat di Indonesia,” kata Suyudi melalui keterangannya, Kamis (29/10/2026).
Cegah Judol dan Narkoba dari Lingkungan Pendidikan
Salah satu fokus utama kolaborasi Polri dan Muhammadiyah ialah memperluas edukasi agar masyarakat mampu mengenali serta menghindari berbagai bentuk kejahatan sebelum menjadi korban atau terlibat dalam pelanggaran hukum.
Sosialisasi tersebut mencakup kejahatan jalanan, aksi geng motor, balap liar, penipuan, judi online, hingga penyalahgunaan dan peredaran narkotika.
Untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas, kedua pihak sepakat membawa edukasi langsung ke sekolah, kampus, pesantren, dan tempat ibadah.
“Kami dan Muhammadiyah sudah sepakat akan bahu-membahu bersinergi di lapangan, bagaimana kita memberikan edukasi dan literasi kepada masyarakat, baik di tempat-tempat ibadah, sekolah-sekolah, kampus-kampus, maupun pesantren-pesantren,” tutur Suyudi.
Langkah ini penting karena pencegahan kejahatan perlu dimulai dari lingkungan terdekat.
Pelajar dan mahasiswa, misalnya, perlu memahami risiko judi online, modus penipuan digital, serta dampak penyalahgunaan narkoba terhadap kesehatan, pendidikan, dan masa depan.
Selain itu, keterlibatan keluarga, guru, dan tokoh agama dapat membantu masyarakat mengenali tanda-tanda masalah lebih awal sekaligus mendorong mereka mencari pertolongan melalui jalur yang tepat.
Polisi Turun Langsung Mendengar Keluhan Warga
Selain memperkuat edukasi, Polri juga mengoptimalkan pendekatan langsung kepada masyarakat lintas agama melalui berbagai kegiatan, seperti salat Subuh keliling, salat Jumat berjemaah, dan program Minggu Kasih.
Melalui kegiatan tersebut, polisi berupaya membuka ruang komunikasi dengan warga, menyerap keluhan, serta memperkuat toleransi dan kerukunan sosial.
Pendekatan ini juga memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan persoalan keamanan di lingkungan mereka.
Dengan komunikasi yang terbuka, polisi dapat memahami kebutuhan warga sekaligus membangun kepercayaan publik.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyambut positif komitmen kerja sama tersebut.
Menurutnya, kolaborasi kedua institusi memiliki peran penting karena Polri dan Muhammadiyah sama-sama berinteraksi langsung dengan masyarakat.
“Apalagi Polri sekarang kan Polri untuk masyarakat, dan Muhammadiyah berada di masyarakat,” ujar Haedar.
Muhammadiyah Dorong Ketahanan Sosial
Haedar menegaskan, persoalan seperti judi online, narkoba, perjudian, dan praktik pinjaman yang merugikan masyarakat tidak cukup ditangani melalui penegakan hukum.
Menurutnya, masyarakat juga membutuhkan ketahanan sosial agar tidak mudah terjerat berbagai persoalan yang dapat merusak kehidupan pribadi maupun keluarga.
“Kami tadi bersepakat untuk meningkatkan daya tahan masyarakat agar tidak terjebak pada narkoba, pada judi online, maupun perjudian lain, bahkan lintah darat dan hal-hal lain yang merugikan hidup masyarakat,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya pencegahan dari sisi sosial dan ekonomi.
Ketika seseorang terjerat perjudian atau pinjaman yang memberatkan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga dapat membebani keluarga dan memicu persoalan rumah tangga.
Karena itu, edukasi keuangan, penguatan lingkungan sosial, pendampingan keluarga, dan akses terhadap bantuan yang tepat dapat melengkapi langkah penegakan hukum.
Haedar Ingatkan Pentingnya Dialog dan Toleransi
Dalam pertemuan tersebut, Haedar juga mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam kehidupan berdemokrasi.
Ia menilai kebebasan menyampaikan pendapat perlu disertai tanggung jawab agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi gesekan atau perpecahan.
Haedar mendorong masyarakat menyelesaikan persoalan kebangsaan melalui dialog yang konstruktif. Dengan begitu, setiap pihak memiliki kesempatan untuk menyampaikan pandangan, memahami perbedaan, dan mencari solusi bersama.
“Yang diperlukan sekarang adalah kebersamaan. Sehingga masalah-masalah yang timbul bisa kita dialogkan bersama, diskusikan bersama, dan cari solusi bersama,” pungkas Haedar.
Kolaborasi Polri dan Muhammadiyah ini menegaskan bahwa menjaga keamanan bukan hanya tugas aparat.
Keluarga, sekolah, pesantren, tokoh agama, dan masyarakat berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mencegah kejahatan.
Edukasi dan komunikasi terbuka diharapkan efektif mencegah judi online, narkoba, dan kejahatan, terutama di kalangan generasi muda. **
Editor : Hadwan













