Musim Hujan Mundur hingga 30 Hari, BMKG Ingatkan Ancaman Banjir Akhir Tahun

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani. (Posnews/Setpres)

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani. (Posnews/Setpres)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan menjelang akhir tahun.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan di Indonesia berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, pengaruh El Niño menyebabkan musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia mundur sekitar 20–30 hari. Akibatnya, hujan berpotensi terkumpul dalam periode yang lebih pendek.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sebagian wilayah Indonesia memasuki musim hujan pada November hingga Desember. Puncaknya nanti pada Desember, Januari, dan Februari,” kata Faisal di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (26/10/2026).

BMKG sebelumnya mencatat 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08 persen wilayah Indonesia mengalami kemunduran awal musim hujan dibandingkan rata-rata klimatologis.

Sementara itu, sebanyak 482 ZOM atau 51,90 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim hujan yang lebih pendek dari kondisi normal.

Hujan Terkonsentrasi, Risiko Bencana Perlu Diantisipasi

Faisal menjelaskan, BMKG memperkirakan sifat hujan pada sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kategori normal.

Baca Juga :  Cuaca Jabodetabek Hari Ini, Hujan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah

Artinya, akumulasi curah hujan diprediksi mendekati rata-rata klimatologis selama 30 tahun terakhir, meski turun dalam periode yang lebih singkat.

Namun, kondisi tersebut bukan berarti masyarakat bisa mengabaikan risiko bencana.

Hujan yang terkonsentrasi dalam waktu lebih pendek tetap perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan ancaman banjir, tanah longsor, dan angin kencang di wilayah rawan.

“Ini yang perlu kita waspadai karena sifat hujannya normal, artinya berdasarkan rata-rata klimatologi 30 tahun terakhir, jumlah hujan yang turun relatif sama, tetapi durasinya lebih pendek,” ujar Faisal.

Dia menegaskan, pemerintah dan masyarakat perlu menyiapkan langkah mitigasi sejak dini, terutama menjelang pergantian tahun hingga awal 2027.

“Untuk akhir tahun ini hingga awal tahun depan, bencana hidrometeorologi basah perlu kita waspadai bersama,” sambungnya.

Karena itu, masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai, lereng perbukitan, dan kawasan rawan genangan perlu memantau informasi cuaca serta peringatan dini dari BMKG dan pemerintah daerah.

Warga juga perlu membersihkan saluran air, menghindari aktivitas di sekitar sungai ketika hujan deras, serta segera mengikuti arahan petugas jika muncul tanda-tanda bencana.

BMKG Kerahkan 15 Pesawat untuk Modifikasi Cuaca

Di sisi lain, BMKG menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah provinsi.

Baca Juga :  Jadwal Siaran Langsung Timnas Indonesia vs Taiwan di FIFA Matchday September 2025 Live Indosiar

Hingga Senin (26/10/2026), sebanyak 15 pesawat mendukung operasi tersebut. BMKG mengerahkan sembilan pesawat di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, serta enam pesawat di Sumatera Selatan.

Faisal berharap kondisi atmosfer pada pekan ini mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah terdampak karhutla.

Menurut dia, potensi pertumbuhan awan di Kalimantan Tengah cukup tinggi mulai Senin hingga lima hari berikutnya.

Sementara itu, Sumatera Selatan diperkirakan memiliki potensi serupa mulai Selasa hingga lima hari ke depan.

Pemerintah menjalankan langkah tersebut bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, dan TNI sesuai arahan Presiden serta Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Meski demikian, pelaksanaan OMC untuk membantu penanganan karhutla tidak mengubah kebutuhan masyarakat untuk tetap mengikuti prakiraan dan peringatan cuaca setempat.

Dengan prediksi musim hujan yang mundur dan durasi yang lebih pendek, kesiapsiagaan menjadi kunci.

Masyarakat perlu mengenali risiko di lingkungan masing-masing, memantau informasi resmi, dan menyiapkan langkah keselamatan sebelum hujan deras memicu bencana. **

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Harta Pejabat Tak Sesuai LHKPN Bisa Dirampas? Ini Usulan Wakil Ketua KPK
Api Masih Mengintai di Lahan Gambut, 17.942 Hektare Karhutla Belum Padam
Kapal Bawa 1,16 Ton Ketamin, Kapolri Ingatkan Modus Narkotika Cair lewat Vape
Izin Tambang Emas PT KEL di Nabire Dicabut, Satgas Temukan Pelanggaran
25.338 Titik Panas Terdeteksi di Enam Provinsi, Kalteng Terbanyak
Sengketa Lahan Summarecon Berujung Dugaan Suap, KPK Telusuri Uang Rp800 Juta
Aduan Warga Berujung Razia Kalibata City, 45 WNA Jalani Pemeriksaan Imigrasi
Badan Kapal Masih Panas, Polisi Belum Bisa Olah TKP KMP Batumandi

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:09 WIB

Musim Hujan Mundur hingga 30 Hari, BMKG Ingatkan Ancaman Banjir Akhir Tahun

Senin, 26 Oktober 2026 - 06:03 WIB

Harta Pejabat Tak Sesuai LHKPN Bisa Dirampas? Ini Usulan Wakil Ketua KPK

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:23 WIB

Api Masih Mengintai di Lahan Gambut, 17.942 Hektare Karhutla Belum Padam

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:12 WIB

Kapal Bawa 1,16 Ton Ketamin, Kapolri Ingatkan Modus Narkotika Cair lewat Vape

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Izin Tambang Emas PT KEL di Nabire Dicabut, Satgas Temukan Pelanggaran

Berita Terbaru