JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Ancaman cuaca ekstrem masih membayangi sejumlah wilayah Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang selama sepekan hingga 12 November 2026.
Peringatan ini muncul di tengah fenomena El Niño sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang masih berlangsung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski kedua fenomena tersebut cenderung mengurangi pembentukan awan hujan, dinamika atmosfer regional tetap berpeluang memicu hujan signifikan di sejumlah daerah.
BMKG mencatat, hujan sangat lebat hingga ekstrem terjadi di beberapa wilayah pada 1–4 November 2026.
Jawa Timur mencatat curah hujan harian tertinggi mencapai 358 milimeter, disusul Bali 300 milimeter, Aceh 167 milimeter, dan Kalimantan Barat 101 milimeter.
Hujan lebat juga mengguyur Sumatera Utara, Bengkulu, Sulawesi Selatan, Papua Selatan, Sumatera Barat, dan Sulawesi Barat.
Pada periode yang sama, angin berkecepatan hingga 35 knot terpantau di Lampung. Angin kencang juga dilaporkan terjadi di Jawa Tengah dan Kalimantan Selatan.
Sumatera Utara Berpotensi Dilanda Hujan Sangat Lebat hingga Ekstrem
Dalam pembaruan prakiraan cuaca periode 6–12 November 2026, BMKG meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan di sejumlah wilayah.
Pada 6–8 November, hujan dengan intensitas sedang berpeluang terjadi di berbagai daerah, termasuk Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, serta sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
BMKG juga menetapkan status Siaga hujan lebat untuk Aceh, Jawa Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua pada periode tersebut.
Potensi angin kencang turut perlu diwaspadai di Lampung, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.
Sementara itu, pada 9–12 November, Sumatera Utara masuk kategori Awas karena berpotensi mengalami hujan sangat lebat hingga ekstrem.
Aceh dan Sumatera Barat berada pada kategori Siaga. BMKG juga mengingatkan potensi angin kencang di Papua Selatan.
El Niño dan IOD Positif, Kekeringan Masih Mengancam
Di balik potensi hujan ekstrem, sebagian wilayah Indonesia masih menghadapi kondisi kering. Pemantauan BMKG pada Dasarian III Oktober 2026 menunjukkan fenomena El Niño sangat kuat dan IOD positif masih berlangsung.
Kondisi tersebut secara umum menekan pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah. Data Hari Tanpa Hujan (HTH) bahkan mencatat 543 titik pengamatan mengalami periode sangat panjang hingga ekstrem panjang tanpa hujan.
Situasi ini meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan pemantauan satelit, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi paling banyak terdeteksi di Papua Selatan sebanyak 615 titik.
Selanjutnya, Kalimantan Tengah mencatat 255 titik dan Kalimantan Timur 223 titik.
Namun, titik panas merupakan indikator pemantauan dan tidak selalu berarti kebakaran telah terjadi. Pemerintah daerah dan masyarakat tetap perlu memeriksa kondisi lapangan serta segera melaporkan indikasi titik api.
Gelombang Atmosfer Memicu Pertumbuhan Awan Hujan
BMKG menjelaskan, aktivitas atmosfer turut memengaruhi peluang hujan dalam sepekan ke depan. Salah satunya Madden-Julian Oscillation (MJO) yang diprakirakan berada pada fase 2 hingga fase 3, di sekitar Samudra Hindia.
Aktivitas MJO diperkirakan memengaruhi Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Maluku, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Selain itu, gelombang ekuatorial Rossby berpotensi aktif di Sumatera bagian utara hingga tengah dan Maluku Utara.
Gelombang Kelvin juga diprakirakan aktif di Sumatera bagian utara hingga tengah, Kalimantan bagian utara hingga tengah, Sulawesi Utara, serta Maluku Utara.
Kombinasi gelombang atmosfer, pertemuan angin atau konvergensi, kelembapan udara tinggi, dan kondisi atmosfer labil dapat memperkuat pertumbuhan awan hujan.
Waspadai Banjir, Angin Kencang, dan Karhutla
Untuk Dasarian I hingga II November 2026, BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah hingga menengah, sekitar 0–150 milimeter per dasarian.
Meski demikian, hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat, petir, dan angin kencang masih berpeluang terjadi secara lokal. Karena itu, masyarakat perlu mengantisipasi genangan, banjir, longsor, serta dampak angin kencang.
Di wilayah yang masih kering, warga juga perlu menghemat air dan menghindari pembakaran sampah maupun pembukaan lahan dengan api. Langkah sederhana tersebut penting untuk menekan risiko kebakaran.
BMKG mengimbau masyarakat terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini melalui situs resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, serta kanal media sosial @infobmkg.
Kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem dan karhutla perlu berjalan bersamaan, sebab ancaman hujan lebat dan kekeringan masih dapat terjadi di wilayah berbeda pada waktu yang sama. **
Editor : Hadwan













