Dunia Anarki: Mengapa Perang Tak Terhindarkan

Selasa, 28 Oktober 2025 - 05:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Pilihan sulit di dunia yang anarki. Saat kekuatan besar bertabrakan, negara kecil harus memilih antara tunduk atau melawan demi kelangsungan hidup nasional. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Pilihan sulit di dunia yang anarki. Saat kekuatan besar bertabrakan, negara kecil harus memilih antara tunduk atau melawan demi kelangsungan hidup nasional. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Setiap kali perang meletus, banyak orang bertanya: Mengapa ini terjadi? Bukankah kita sudah memiliki Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hukum internasional, dan diplomasi? Namun, di saat yang sama, negara-negara terus berlomba senjata, aliansi militer saling curiga, dan konflik baru terus bermunculan, dari Ukraina hingga Timur Tengah.

Bagi para pemikir Hubungan Internasional aliran Realisme, fenomena ini sama sekali tidak mengejutkan. Justru, inilah cara kerja dunia yang sesungguhnya. Menurut mereka, perdamaian abadi adalah ilusi yang berbahaya.

Konsep Inti Teori Realisme

Teori Realisme, baik klasik maupun neorealisme, berdiri di atas beberapa asumsi fundamental yang pesimistis tentang sifat manusia dan politik internasional.

  1. Anarki (Tidak Ada Polisi Dunia): Ini adalah konsep terpenting. Anarki dalam hubungan internasional bukan berarti kekacauan total, melainkan tidak adanya otoritas yang lebih tinggi di atas negara. Tidak ada “polisi dunia” yang bisa Anda hubungi jika negara Anda mengalami serangan. PBB ada, tetapi tidak memiliki kekuatan pemaksa yang sejati atas negara-negara besar.
  2. Survival (Bertahan Hidup): Karena tidak ada yang menjamin keamanan mereka, tujuan utama dan satu-satunya dari setiap negara adalah bertahan hidup (survival). Semua tujuan lain, seperti kemakmuran ekonomi, hak asasi manusia, atau penyebaran demokrasi, selalu menjadi nomor dua setelah keamanan nasional.
  3. Self-help (Tolong Diri Sendiri): Akibat dari anarki dan keharusan bertahan hidup, negara tidak bisa bergantung pada negara lain. Mereka harus menolong diri sendiri (self-help). Aliansi mungkin membantu, tetapi aliansi bisa bubar. Satu-satunya hal yang bisa mereka andalkan adalah kekuatan militer dan ekonomi mereka sendiri.
Baca Juga :  Kantor yang Hilang: WFH, Produktivitas, dan Masa Depan Kerja

Mengapa Perang Terjadi

Bagi kaum Realis, perlombaan senjata antara Amerika Serikat dan Tiongkok, atau konflik berkepanjangan di Timur Tengah, adalah bukti nyata dari teori ini.

Dalam sistem anarki, negara tidak pernah bisa yakin 100% akan niat negara lain. Tetangganya bisa dengan mudah melihat negara yang memperkuat militernya untuk “bertahan” (defensif) sebagai ancaman (ofensif). Akibatnya, tetangganya juga akan memperkuat militer. Para pakar menyebut ini sebagai dilema keamanan (security dilemma), sebuah spiral kecurigaan yang seringkali berakhir dengan perang, bahkan jika tidak ada negara yang berniat jahat sejak awal.

Baca Juga :  Pesawat CN 295 Bawa 2,4 Ton Logistik ke Aceh dan Sumbar dan Tim SAR ke Daerah Bencana

Negara tidak peduli pada moralitas universal; mereka hanya peduli pada kekuatan (power). Kekuatan adalah alat untuk menjamin kelangsungan hidup.

Kesimpulan

Menurut kaum Realis, hukum atau moralitas tidak mengatur dunia tempat kita hidup. Sebaliknya, kekuatanlah yang mengatur dunia kita. Perdamaian abadi adalah ilusi. Yang ada hanyalah periode keseimbangan kekuatan (balance of power) yang sementara. Selama tidak ada “polisi dunia” yang sesungguhnya, perang, atau setidaknya ancaman perang, akan selalu menjadi bagian tak terhindarkan dari politik global.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jepang Pamerkan Rudal Jarak Jauh Tipe 12 Jelang Penempatan di Kumamoto
Target Berikutnya: Trump Beri Sinyal Ambil Alih Kuba di Tengah Kolapsnya Listrik Nasional
Tragedi Hanukkah Sydney: Keluarga Terdakwa Naveed Akram Mohon Gag Order Akibat Ancaman Maut
Jepang Gandeng AS dan Timur Tengah Amankan Selat Hormuz
Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Diprediksi 18 Maret, Korlantas Siapkan One Way Nasional
Trump vs Eropa: Keretakan Sekutu dalam Misi Maritim Selat Hormuz
Gubernur Jakarta Minta Warga Tak Iming-imingi Kerabat Datang ke Ibu Kota
Napi Kabur Lapas Wamena Ditangkap di Yahukimo, Terafiliasi KKB dan Pembunuh Polisi

Berita Terkait

Selasa, 17 Maret 2026 - 17:03 WIB

Jepang Pamerkan Rudal Jarak Jauh Tipe 12 Jelang Penempatan di Kumamoto

Selasa, 17 Maret 2026 - 16:53 WIB

Target Berikutnya: Trump Beri Sinyal Ambil Alih Kuba di Tengah Kolapsnya Listrik Nasional

Selasa, 17 Maret 2026 - 15:40 WIB

Tragedi Hanukkah Sydney: Keluarga Terdakwa Naveed Akram Mohon Gag Order Akibat Ancaman Maut

Selasa, 17 Maret 2026 - 14:35 WIB

Jepang Gandeng AS dan Timur Tengah Amankan Selat Hormuz

Selasa, 17 Maret 2026 - 13:37 WIB

Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Diprediksi 18 Maret, Korlantas Siapkan One Way Nasional

Berita Terbaru

Menyeimbangkan energi dan konstitusi. Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi memperkuat koordinasi dengan Amerika Serikat serta negara-negara Teluk guna menjamin keselamatan navigasi tanpa melanggar prinsip pasifisme Jepang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Jepang Gandeng AS dan Timur Tengah Amankan Selat Hormuz

Selasa, 17 Mar 2026 - 14:35 WIB