Mengapa Bahasa Slang Cepat Mati?

Minggu, 2 November 2025 - 06:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Melawan kerumitan bahasa. Berawal dari penghancuran formulir pemerintah di London, gerakan bahasa sederhana kini menjadi pilar penting bagi transparansi publik dan efisiensi korporasi di seluruh dunia. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Melawan kerumitan bahasa. Berawal dari penghancuran formulir pemerintah di London, gerakan bahasa sederhana kini menjadi pilar penting bagi transparansi publik dan efisiensi korporasi di seluruh dunia. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Ingat kapan terakhir kali semua orang menggunakan kata “anjay”? Atau mungkin “slebew”, “comel”, dan “menyala abangku”? Kata-kata ini meledak di media sosial, orang-orang memakainya di setiap komentar dan caption, hingga menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.

Namun, secepat kata-kata itu viral, secepat itu pula mereka terasa “kuno” atau cringe. Akibatnya, orang-orang akan menganggap mereka yang masih menggunakannya beberapa bulan kemudian ketinggalan zaman. Ini bukan ilusi; ini adalah siklus hidup alami dari bahasa slang. Faktanya, bahasa slang memang memiliki rancangan untuk “mati”.

Kode Rahasia ‘In-Group’

Untuk memahami mengapa slang cepat mati, kita harus paham fungsi utamanya. Bahasa slang pada dasarnya bukanlah sekadar kata-kata baru. Sebaliknya, ia adalah penanda identitas, sebuah “kode” rahasia untuk in-group (kelompok dalam).

Fungsi utamanya adalah untuk menciptakan rasa kebersamaan dan eksklusivitas. Dengan kata lain, slang adalah cara sebuah komunitas—entah itu penggemar game, grup pertemanan, atau komunitas online—untuk membedakan “kami” dari “mereka”. Maka dari itu, tujuan awalnya adalah agar “orang luar” (termasuk orang tua, media, atau brand) tidak mengerti.

Dari Keren Menjadi Kuno

Setiap kata slang populer hampir selalu melewati siklus hidup empat tahap yang ironis:

  1. Penciptaan: Sebuah kata atau frasa baru lahir di dalam komunitas kecil (niche). Di tahap ini, ia terasa segar, cerdas, dan eksklusif.
  2. Pemakaian In-Group: Kata itu menyebar di dalam in-group. Menggunakannya terasa keren dan menunjukkan bahwa Anda adalah bagian dari kelompok yang “paham”.
  3. Penemuan Mainstream: Inilah awal dari kehancurannya. Media, influencer besar, brand iklan, dan mungkin ibu Anda mulai menggunakan kata itu. Tentu saja, begitu slang menjadi milik semua orang, ia kehilangan nilai eksklusivitasnya.
  4. In-Group Meninggalkannya: Ketika slang sudah terlalu mainstream, in-group yang menciptakannya akan merasa kata itu sudah “dicuri” dan tidak keren lagi. Akibatnya, mereka akan meninggalkannya dan mulai menciptakan kata baru. Siklus pun berulang.
Baca Juga :  Menjinakkan Pikiran: Seni Melawan Overthinking di Malam Hari

Kematian adalah Bukti Kehidupan

Pada akhirnya, “kematian” bahasa slang yang cepat bukanlah sebuah kegagalan. Justru sebaliknya, itu adalah bukti bahwa bahasa slang berhasil menjalankan fungsinya.

Bahasa slang harus terus mati dan berevolusi agar tetap hidup dan relevan sebagai penanda identitas. Sebab, saat satu kata slang menjadi “kuno”, itu hanya berarti kata slang baru yang segar sedang tercipta di sudut internet yang lain, siap untuk viral dan, tentu saja, siap untuk mati kembali.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru