Tembok Ratapan: Saksi Bisu Peradaban dan Simbol Suci di Jantung Yerusalem

Jumat, 20 Februari 2026 - 15:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, beberapa warga mengunjungi gerbang depan rumah Joko Widodo dan berziarah seakan menyambangi tembok ratapan.

Ilustrasi, beberapa warga mengunjungi gerbang depan rumah Joko Widodo dan berziarah seakan menyambangi tembok ratapan.

YERUSALEM, POSNEWS.CO.ID – Tembok Ratapan berdiri kokoh di lereng Bukit Bait Suci (Temple Mount). Struktur arsitektur kuno ini bukan sekadar dinding biasa. Bongkahan batu kapur raksasa ini menghubungkan jutaan orang dengan masa kejayaan Yerusalem kuno.

Publik mengenal situs ini sebagai “Tembok Ratapan”. Nama ini muncul dari tradisi peziarah yang meratapi kehancuran Bait Suci. Penduduk setempat sendiri lebih sering menyebutnya Tembok Barat. Situs ini mewakili sejarah panjang. Kisahnya melintasi berbagai kekaisaran dan periode manusia yang penuh gejolak.

Asal-usul: Ambisi Besar Herodes Agung

Raja Herodes Agung memulai pembangunan Tembok Barat sekitar tahun 19 SM. Proyek ini merupakan bagian dari ambisi besarnya untuk memperluas area Bait Suci Kedua. Ia ingin tempat suci tersebut mampu menampung lebih banyak peziarah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Para pengrajin menyusun batu-batu raksasa tanpa bantuan semen. Berat beberapa bongkahan batu bahkan mencapai ratusan ton. Teknik pemotongan batu yang presisi memperkuat struktur ini. Alhasil, tembok ini bertahan dari gempa bumi dan serangan militer selama ribuan tahun. Tembok ini sebenarnya berfungsi sebagai dinding penahan platform. Bangunan Bait Suci berdiri tepat di atas platform tersebut.

Baca Juga :  9,1 Juta Warga Benggala Barat Kehilangan Hak Pilih Jelang Pemilu

Tragedi 70 Masehi dan Era Pembuangan

Pada tahun 70 Masehi, Titus memimpin pasukan Romawi menyerbu Yerusalem. Serangan ini bertujuan meredam pemberontakan Yahudi. Pasukan Romawi akhirnya menghancurkan Bait Suci Kedua secara total.

Namun demikian, mereka menyisakan sebagian besar tembok penahan di sisi barat. Konon, Titus sengaja menyisakan tembok tersebut. Ia ingin dunia mengingat kemenangan besar Romawi atas struktur yang sangat kuat. Sisa dinding ini menjadi titik fokus kerinduan bangsa Yahudi di tanah diaspora. Mereka merindukan tanah air dan tempat ibadah yang telah hilang. Selama berabad-abad, umat Yahudi terus berupaya kembali ke dinding ini untuk berdoa.

Masa Transisi: Ottoman hingga Mandat Inggris

Pada masa Kekaisaran Ottoman, Sultan Suleiman yang Agung menetapkan area ini sebagai tempat ibadah. Umat Yahudi pun mendapatkan izin resmi untuk berdoa di depan tembok tersebut. Meskipun begitu, ketegangan politik dan agama sering kali membatasi akses warga ke situs suci ini.

Memasuki abad ke-20 di bawah mandat Britania Raya, perselisihan kepemilikan area mulai meruncing. Puncaknya adalah Kerusuhan Tembok Barat tahun 1929 yang menelan banyak korban jiwa. Pasca-perang 1948, Yordania menguasai wilayah Yerusalem Timur. Akibatnya, otoritas melarang umat Yahudi mengunjungi tembok tersebut selama 19 tahun.

Baca Juga :  Bupati Ade Kuswara Kunang Terseret Kasus Suap, KPK Dalami Jejak Dana Politik

Perang Enam Hari dan Makna Modern

Sejarah Tembok Ratapan memasuki babak baru yang dramatis pada Juni 1967. Pasukan Israel merebut Kota Tua Yerusalem dalam Perang Enam Hari. Mereka akhirnya mencapai Tembok Barat setelah hampir dua dekade terpisah.

Momen tersebut menjadi salah satu peristiwa paling emosional dalam sejarah modern Timur Tengah. Sejak saat itu, pemerintah membongkar pemukiman di depan tembok guna menciptakan lapangan terbuka bagi peziarah. Kini, Tembok Ratapan berfungsi sebagai “sinagoga terbuka” selama 24 jam sehari. Banyak orang menyelipkan kertas doa ke celah batu. Tradisi global ini melibatkan warga dari berbagai latar belakang, termasuk para pemimpin dunia.

Simbol yang Tak Tergoyahkan

Tembok Ratapan tetap berdiri sebagai simbol ketahanan. Bait Suci asli memang telah lama sirna. Namun, dinding penahan ini membuktikan bahwa identitas spiritual mampu melampaui kehancuran fisik. Setiap bongkahan batunya menceritakan kisah tentang iman dan kehilangan. Harapan pun tidak pernah padam di jantung kota suci Yerusalem.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bareskrim Bongkar Sindikat Sabu 11 Kg dari Malaysia, Satu DPO Ditangkap
Pria 39 Tahun Ditangkap Polisi Usai Siarkan Konten Asusila demi Followers
PM Mark Carney Peringatkan Alberta soal Bahaya Separatisme
Bareskrim Segel THM New Zone Medan, Dugaan TPPU Narkoba, Ini Kronologinya
Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa: Rekor Suhu Mei Pecah
Kem Sokha Bebas: Raja Kamboja Berikan Pengampunan
KPK Fasilitasi 52 Tahanan Korupsi Salat Idul Adha dan Kunjungan Keluarga
Selebgram Brunei Jadi Tersangka Penganiayaan Maut di Blok M Jakarta Selatan

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 20:50 WIB

Bareskrim Bongkar Sindikat Sabu 11 Kg dari Malaysia, Satu DPO Ditangkap

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:58 WIB

Pria 39 Tahun Ditangkap Polisi Usai Siarkan Konten Asusila demi Followers

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:44 WIB

PM Mark Carney Peringatkan Alberta soal Bahaya Separatisme

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:34 WIB

Bareskrim Segel THM New Zone Medan, Dugaan TPPU Narkoba, Ini Kronologinya

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:33 WIB

Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa: Rekor Suhu Mei Pecah

Berita Terbaru

Peringatan dari Ottawa. Perdana Menteri Mark Carney menyamakan rencana pemisahan diri provinsi Alberta dengan Brexit. Ia menyebut janji

INTERNASIONAL

PM Mark Carney Peringatkan Alberta soal Bahaya Separatisme

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:44 WIB

Ilustrasi, Cuaca ekstrem menghantam Eropa. Suhu panas yang memecahkan rekor menyebabkan kematian di ajang olahraga amatir, memicu peringatan dini dari pemerintah, dan memaksa warga mencari perlindungan di tengah bulan Mei yang tak lazim. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa: Rekor Suhu Mei Pecah

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:33 WIB