TAIPEI, POSNEWS.CO.ID – Negosiasi dagang antara Amerika Serikat dan Taiwan memasuki babak baru yang intens. Sebuah laporan dari media AS Politico menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump sedang mempercepat pembicaraan tarif.
Lebih lanjut, AS kabarnya mengincar janji investasi besar dari Taiwan. Laporan itu menyebut angka yang “ditawar” berada di antara $350 miliar (level komitmen Korea Selatan) dan $550 miliar (level komitmen Jepang).
Akan tetapi, Juru Bicara Kabinet Taiwan, Michelle Lee (李慧芝), pada Kamis (13/11/2025) menanggapi laporan tersebut. Ia menegaskan bahwa Taiwan sedang mengupayakan “Model Taiwan” yang unik. Model ini tidak sebanding secara langsung dengan kesepakatan investasi Jepang atau Korea Selatan.
Tiga Tuntutan Utama Taiwan
Michelle Lee mengonfirmasi bahwa Taipei memiliki beberapa tujuan utama dalam negosiasi ini. Pertama, mereka berupaya menurunkan tarif “sementara” 20% yang saat ini AS kenakan pada ekspor Taiwan.
Kedua, mereka ingin memastikan tarif baru tidak akan bertambah di atas tarif most-favored-nation (MFN) yang sudah ada.
Namun, “kekhawatiran yang lebih besar” (bigger concern) bagi Taipei adalah investigasi Bagian 232 (Section 232) yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, Taiwan berjuang keras untuk mendapatkan perlakuan MFN dalam investigasi keamanan nasional terhadap impor semikonduktor. Tujuannya agar industri vital mereka terhindar dari tarif baru yang lebih tinggi.
‘Model Taiwan’ vs Komitmen ala Jepang/Korea
Juru bicara Lee menjelaskan perbedaan krusial antara model yang Taiwan tawarkan dan model yang AS sepakati dengan negara lain.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, kesepakatan Jepang dan Korea Selatan melibatkan komitmen investasi besar yang pemerintah fasilitasi. Sebaliknya, “Model Taiwan” bergerak berdasarkan strategi percabangan internasional (international branching) perusahaan swasta.
Artinya, perusahaan-perusahaan Taiwan sendiri yang merencanakan investasi di AS. Mereka ingin mendekati klien mereka dan meningkatkan daya saing. Peran pemerintah, kata Lee, adalah menyediakan “dukungan jaminan finansial dan kredit”. Peran itu bukan mengatur atau menjanjikan jumlah investasi spesifik seperti yang media laporkan.
Motif AS dan Status Negosiasi
Laporan Politico menyebutkan bahwa pemerintahan Trump mungkin mempercepat perundingan ini. Alasannya, mereka khawatir Mahkamah Agung AS membuat putusan yang dapat membatasi wewenang tarif presiden. Meski begitu, Trump masih bisa menggunakan UU Perluasan Perdagangan (Bagian 232) sebagai dasar pengenaan tarif.
Saat ini, pembicaraan terus berlanjut. Lee mengonfirmasi bahwa setelah putaran kelima di bulan Oktober, kedua tim telah mengadakan pertemuan virtual. Kini, mereka sedang mendiskusikan “pertukaran dokumen tertulis.”
Sementara itu, Perdana Menteri Taiwan Cho Jung-tai (卓榮泰) berkomentar bahwa beberapa informasi (merujuk pada angka $350-$550 miliar) belum terkonfirmasi. Namun, ia menegaskan hal itu tidak memengaruhi kemajuan perundingan.
Bank Sentral Masih Menunggu
Terkait pendanaan untuk mendukung investasi “Model Taiwan” ini, Deputi Gubernur Bank Sentral Taiwan, Yen Tzung-ta (嚴宗大), mengatakan kepada parlemen. Ia menyebut bank sentral belum memutuskan apakah akan menggunakan cadangan devisa negara.
Ia menambahkan bahwa negosiasi masih dalam tahap awal. Sehingga, dampaknya belum bank sentral ketahui.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















