JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, terdapat sebuah kelompok demografis yang sedang memikul beban terberat secara diam-diam. Kita menyebut mereka Generasi Sandwich.
Istilah ini menggambarkan individu (biasanya usia 30-50 tahun) yang harus menanggung beban finansial dan emosional dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, mereka harus merawat orang tua yang menua. Di sisi lain, mereka juga harus menghidupi anak-anak mereka sendiri atau membiayai kebutuhan hidup pribadi mereka yang semakin mahal. Mereka terjepit di tengah, seperti isian daging di antara dua lapis roti.
Akar Masalah: Ekonomi yang Tidak Seimbang
Mengapa fenomena ini menjadi semakin parah belakangan ini? Penyebab utamanya adalah ketimpangan ekonomi struktural:
- Kenaikan Biaya Hidup vs. Gaji: Faktanya, biaya hidup (inflasi, harga rumah, pendidikan, kesehatan) telah naik jauh lebih cepat daripada kenaikan gaji rata-rata. Generasi saat ini harus bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan standar hidup yang sama dengan orang tua mereka dulu.
- Kurangnya Perencanaan Pensiun Generasi Sebelumnya: Banyak orang tua dari Generasi Sandwich tidak memiliki dana pensiun atau aset yang cukup. Dahulu, mungkin mereka mengandalkan anak sebagai “dana pensiun” masa depan. Akibatnya, beban hari tua mereka kini jatuh sepenuhnya ke pundak anak-anak mereka yang juga sedang berjuang.
Dampak Psikologis: ‘Burnout’ dan Mimpi yang Tertunda
Beban ganda ini menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa:
- Burnout dan Kecemasan: Generasi Sandwich sering mengalami kelelahan kronis (burnout). Mereka selalu merasa cemas tentang uang. Setiap kali menerima gaji, uang itu langsung habis terbagi-bagi ke berbagai pos, tanpa menyisakan cukup untuk tabungan atau kesenangan pribadi.
- Penundaan Mimpi Pribadi: Demi memenuhi kewajiban keluarga, banyak yang terpaksa menunda atau mengubur mimpi mereka. Mereka menunda pernikahan, menunda memiliki anak (child-free karena alasan ekonomi), atau membatalkan rencana membeli rumah sendiri.
Sudut Pandang Budaya: Benturan Nilai Timur
Di negara-negara Asia (termasuk Indonesia), masalah ini menjadi lebih rumit karena faktor budaya. Nilai “bakti kepada orang tua” (filial piety) sangat dijunjung tinggi.
Masyarakat sering menganggap anak yang tidak membiayai orang tuanya sebagai “anak durhaka”. Oleh karena itu, banyak Generasi Sandwich yang merasa bersalah jika ingin memprioritaskan kebutuhan mereka sendiri. Mereka terjebak dalam konflik batin antara mematuhi norma budaya dan menyelamatkan kemandirian ekonomi mereka sendiri.
Memutus Rantai Sandwich
Pada akhirnya, menjadi Generasi Sandwich bukanlah takdir yang harus kita wariskan terus-menerus. Kita bisa memutus rantai ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Strateginya melibatkan dua hal kunci. Pertama, literasi keuangan. Generasi saat ini wajib mempersiapkan dana pensiun mereka sendiri sejak dini agar tidak membebani anak-anak mereka kelak. Kedua, komunikasi keluarga. Kita harus mulai berbicara jujur dengan orang tua dan pasangan tentang batasan finansial, meskipun itu terasa tabu.
Hanya dengan membangun kemandirian finansial yang kokoh, kita bisa merawat orang tua dengan ikhlas tanpa harus mengorbankan masa depan anak-anak kita sendiri.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















