Generasi Sandwich: Terjepit di Antara Bakti pada Orang Tua dan Ambisi Pribadi

Rabu, 19 November 2025 - 16:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Generasi Sandwich menanggung beban ganda: merawat orang tua dan membesarkan anak (atau diri sendiri). Di tengah himpitan ekonomi, bakti anak berbenturan dengan impian pribadi. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Generasi Sandwich menanggung beban ganda: merawat orang tua dan membesarkan anak (atau diri sendiri). Di tengah himpitan ekonomi, bakti anak berbenturan dengan impian pribadi. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, terdapat sebuah kelompok demografis yang sedang memikul beban terberat secara diam-diam. Kita menyebut mereka Generasi Sandwich.

Istilah ini menggambarkan individu (biasanya usia 30-50 tahun) yang harus menanggung beban finansial dan emosional dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, mereka harus merawat orang tua yang menua. Di sisi lain, mereka juga harus menghidupi anak-anak mereka sendiri atau membiayai kebutuhan hidup pribadi mereka yang semakin mahal. Mereka terjepit di tengah, seperti isian daging di antara dua lapis roti.

Akar Masalah: Ekonomi yang Tidak Seimbang

Mengapa fenomena ini menjadi semakin parah belakangan ini? Penyebab utamanya adalah ketimpangan ekonomi struktural:

  1. Kenaikan Biaya Hidup vs. Gaji: Faktanya, biaya hidup (inflasi, harga rumah, pendidikan, kesehatan) telah naik jauh lebih cepat daripada kenaikan gaji rata-rata. Generasi saat ini harus bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan standar hidup yang sama dengan orang tua mereka dulu.
  2. Kurangnya Perencanaan Pensiun Generasi Sebelumnya: Banyak orang tua dari Generasi Sandwich tidak memiliki dana pensiun atau aset yang cukup. Dahulu, mungkin mereka mengandalkan anak sebagai “dana pensiun” masa depan. Akibatnya, beban hari tua mereka kini jatuh sepenuhnya ke pundak anak-anak mereka yang juga sedang berjuang.
Baca Juga :  Update Tragedi Ponpes Sidoarjo, Tiga Santri Tewas Tertimpa Reruntuhan Musala

Dampak Psikologis: ‘Burnout’ dan Mimpi yang Tertunda

Beban ganda ini menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa:

  • Burnout dan Kecemasan: Generasi Sandwich sering mengalami kelelahan kronis (burnout). Mereka selalu merasa cemas tentang uang. Setiap kali menerima gaji, uang itu langsung habis terbagi-bagi ke berbagai pos, tanpa menyisakan cukup untuk tabungan atau kesenangan pribadi.
  • Penundaan Mimpi Pribadi: Demi memenuhi kewajiban keluarga, banyak yang terpaksa menunda atau mengubur mimpi mereka. Mereka menunda pernikahan, menunda memiliki anak (child-free karena alasan ekonomi), atau membatalkan rencana membeli rumah sendiri.

Sudut Pandang Budaya: Benturan Nilai Timur

Di negara-negara Asia (termasuk Indonesia), masalah ini menjadi lebih rumit karena faktor budaya. Nilai “bakti kepada orang tua” (filial piety) sangat dijunjung tinggi.

Baca Juga :  Bagaimana Yunani Kuno Menciptakan Konsep Uang Modern?

Masyarakat sering menganggap anak yang tidak membiayai orang tuanya sebagai “anak durhaka”. Oleh karena itu, banyak Generasi Sandwich yang merasa bersalah jika ingin memprioritaskan kebutuhan mereka sendiri. Mereka terjebak dalam konflik batin antara mematuhi norma budaya dan menyelamatkan kemandirian ekonomi mereka sendiri.

Memutus Rantai Sandwich

Pada akhirnya, menjadi Generasi Sandwich bukanlah takdir yang harus kita wariskan terus-menerus. Kita bisa memutus rantai ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Strateginya melibatkan dua hal kunci. Pertama, literasi keuangan. Generasi saat ini wajib mempersiapkan dana pensiun mereka sendiri sejak dini agar tidak membebani anak-anak mereka kelak. Kedua, komunikasi keluarga. Kita harus mulai berbicara jujur dengan orang tua dan pasangan tentang batasan finansial, meskipun itu terasa tabu.

Hanya dengan membangun kemandirian finansial yang kokoh, kita bisa merawat orang tua dengan ikhlas tanpa harus mengorbankan masa depan anak-anak kita sendiri.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci
Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi
Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas
Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa
ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM
Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas
Menko Polkam Atensi Keamanan Papua, Negara Tak Mundur Hadapi Teror Bandara
Ditangkap Saat Sahur, Begal Modus Fitnah Pelecehan Ternyata Sudah 4 Kali Beraksi

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 18:48 WIB

Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci

Sabtu, 21 Februari 2026 - 17:45 WIB

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:40 WIB

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:10 WIB

Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa

Sabtu, 21 Februari 2026 - 15:57 WIB

ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM

Berita Terbaru

Ilustrasi, Kembali ke alam. Tren busana Muslim tahun 2026 mengusung konsep kesederhanaan yang elegan melalui sentuhan warna bumi dan siluet minimalis yang mengutamakan kenyamanan fungsional. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Feb 2026 - 17:45 WIB

Ilustrasi, Pahlawan di balik kesunyian Maghrib. Saat mayoritas warga berkumpul di meja makan, sebagian orang justru harus teguh berdiri di garis depan demi pelayanan dan kemanusiaan. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Sabtu, 21 Feb 2026 - 16:40 WIB