JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Lini masa media sosial kita belakangan ini penuh dengan estetika nostalgia. Kita melihat wanita muda mengenakan gaun bermotif bunga yang anggun. Mereka sibuk memanggang roti dari nol di dapur yang rapi.
Narasi video tersebut selalu memiliki pola serupa. Mereka bangga melayani suami sepenuhnya, mengurus anak, dan menolak karier di luar rumah. Seketika, kita seolah terlempar kembali ke era 1950-an. Selamat datang di era “Trad Wife” atau istri tradisional.
Tren ini meledak di TikTok dan Instagram. Namun, di balik keindahan visualnya, fenomena ini memicu perdebatan panas. Apakah ini pencarian kestabilan keluarga atau justru kemunduran bagi kesetaraan gender?
Pelarian dari “Hustle Culture”
Tren ini tidak muncul begitu saja tanpa sebab. Sebenarnya, ini adalah respons ekstrem terhadap budaya kerja keras atau hustle culture yang melelahkan.
Wanita modern sering merasa lelah menyeimbangkan karier dan kehidupan pribadi. Pasalnya, beban ganda pekerjaan kantor dan urusan domestik sering kali memicu stres (burnout).
Akibatnya, menjadi ibu rumah tangga penuh waktu kini terlihat sebagai sebuah “kemewahan” baru. Hidup lambat tanpa tenggat waktu kantor terasa sangat menggoda bagi Gen Z yang mulai jenuh dengan dunia korporat.
Risiko Ketergantungan dan Propaganda
Kendati demikian, fantasi ini mengundang kritik tajam. Banyak pihak menilai tren ini mempromosikan ketergantungan finansial wanita pada pria. Hal ini sangat berisiko tinggi. Jika pernikahan berakhir atau suami kehilangan pekerjaan, sang istri tidak memiliki jaring pengaman ekonomi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, ada kekhawatiran ideologis yang lebih dalam. Propaganda konservatif ekstrem sering menunggangi estetika lembut ini. Mereka menggunakan tren Trad Wife untuk menyebarkan pesan bahwa tempat wanita hanyalah di dapur.
Oleh sebab itu, narasi “kembali ke kodrat” ini dianggap berbahaya. Hal ini berpotensi mengikis perjuangan hak-hak wanita yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Bisnis Konten Berkedok Rumah Tangga
Kita sering lupa satu fakta krusial. Para influencer Trad Wife ini tidak benar-benar hanya menjadi ibu rumah tangga biasa. Faktanya, mereka adalah pengusaha konten yang sukses.
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk merekam, mengedit, dan mengurasi video. Justru, mereka menghasilkan uang sendiri dari endorsement dan jumlah penonton (views).
Padahal, mereka menjual narasi bahwa wanita tidak perlu bekerja dan cukup bergantung pada suami. Ini adalah sebuah ironi besar. Menjadi Trad Wife di media sosial sejatinya adalah sebuah model bisnis, bukan sekadar gaya hidup.
Pilihan di Era Kebebasan
Pada akhirnya, memilih peran sebagai ibu rumah tangga adalah hak mutlak setiap wanita. Tidak ada yang salah dengan pilihan tersebut selama dilakukan atas kesadaran sendiri.
Akan tetapi, kita harus bijak membedakan antara realitas dan konten. Kehidupan di media sosial telah melalui proses penyuntingan ketat. Jangan sampai kita menelan mentah-mentah fantasi internet yang mungkin tidak seindah kenyataannya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















