Fenomena Trad Wife: Romantisasi Era 1950-an atau Bisnis Konten Berkedok Ibu Rumah Tangga?

Sabtu, 22 November 2025 - 18:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Gaun floral, masak dari nol, dan melayani suami. Tren Trad Wife viral, tapi ada rahasia di balik estetika sempurnanya. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Gaun floral, masak dari nol, dan melayani suami. Tren Trad Wife viral, tapi ada rahasia di balik estetika sempurnanya. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Lini masa media sosial kita belakangan ini penuh dengan estetika nostalgia. Kita melihat wanita muda mengenakan gaun bermotif bunga yang anggun. Mereka sibuk memanggang roti dari nol di dapur yang rapi.

Narasi video tersebut selalu memiliki pola serupa. Mereka bangga melayani suami sepenuhnya, mengurus anak, dan menolak karier di luar rumah. Seketika, kita seolah terlempar kembali ke era 1950-an. Selamat datang di era “Trad Wife” atau istri tradisional.

Tren ini meledak di TikTok dan Instagram. Namun, di balik keindahan visualnya, fenomena ini memicu perdebatan panas. Apakah ini pencarian kestabilan keluarga atau justru kemunduran bagi kesetaraan gender?

Pelarian dari “Hustle Culture”

Tren ini tidak muncul begitu saja tanpa sebab. Sebenarnya, ini adalah respons ekstrem terhadap budaya kerja keras atau hustle culture yang melelahkan.

Wanita modern sering merasa lelah menyeimbangkan karier dan kehidupan pribadi. Pasalnya, beban ganda pekerjaan kantor dan urusan domestik sering kali memicu stres (burnout).

Baca Juga :  Kasus Ijazah Palsu Jokowi Panas, Refly Harun Pasang Badan Bela Roy Suryo Cs

Akibatnya, menjadi ibu rumah tangga penuh waktu kini terlihat sebagai sebuah “kemewahan” baru. Hidup lambat tanpa tenggat waktu kantor terasa sangat menggoda bagi Gen Z yang mulai jenuh dengan dunia korporat.

Risiko Ketergantungan dan Propaganda

Kendati demikian, fantasi ini mengundang kritik tajam. Banyak pihak menilai tren ini mempromosikan ketergantungan finansial wanita pada pria. Hal ini sangat berisiko tinggi. Jika pernikahan berakhir atau suami kehilangan pekerjaan, sang istri tidak memiliki jaring pengaman ekonomi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, ada kekhawatiran ideologis yang lebih dalam. Propaganda konservatif ekstrem sering menunggangi estetika lembut ini. Mereka menggunakan tren Trad Wife untuk menyebarkan pesan bahwa tempat wanita hanyalah di dapur.

Oleh sebab itu, narasi “kembali ke kodrat” ini dianggap berbahaya. Hal ini berpotensi mengikis perjuangan hak-hak wanita yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Bisnis Konten Berkedok Rumah Tangga

Kita sering lupa satu fakta krusial. Para influencer Trad Wife ini tidak benar-benar hanya menjadi ibu rumah tangga biasa. Faktanya, mereka adalah pengusaha konten yang sukses.

Baca Juga :  Indonesia Kini Mandiri Atasi Bencana Sumatera, Menhan Sjafrie: Tak Perlu Bantuan Asing

Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk merekam, mengedit, dan mengurasi video. Justru, mereka menghasilkan uang sendiri dari endorsement dan jumlah penonton (views).

Padahal, mereka menjual narasi bahwa wanita tidak perlu bekerja dan cukup bergantung pada suami. Ini adalah sebuah ironi besar. Menjadi Trad Wife di media sosial sejatinya adalah sebuah model bisnis, bukan sekadar gaya hidup.

Pilihan di Era Kebebasan

Pada akhirnya, memilih peran sebagai ibu rumah tangga adalah hak mutlak setiap wanita. Tidak ada yang salah dengan pilihan tersebut selama dilakukan atas kesadaran sendiri.

Akan tetapi, kita harus bijak membedakan antara realitas dan konten. Kehidupan di media sosial telah melalui proses penyuntingan ketat. Jangan sampai kita menelan mentah-mentah fantasi internet yang mungkin tidak seindah kenyataannya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perampok Bersenpi Gasak Rp 800 Juta di Tubaba Ditangkap, Otak dan Eksekutor Dibekuk
Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks
Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?
Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci
Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi
Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas
Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa
ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 22:11 WIB

Perampok Bersenpi Gasak Rp 800 Juta di Tubaba Ditangkap, Otak dan Eksekutor Dibekuk

Sabtu, 21 Februari 2026 - 20:05 WIB

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Februari 2026 - 19:58 WIB

Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?

Sabtu, 21 Februari 2026 - 18:48 WIB

Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci

Sabtu, 21 Februari 2026 - 17:45 WIB

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Berita Terbaru

Ilustrasi, Pedang bermata dua diplomasi. Melalui kacamata Liberalisme, sanksi ekonomi bukan lagi instrumen hukuman sederhana, melainkan penguji ketangguhan jaringan interdependensi global yang rumit. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Feb 2026 - 20:05 WIB

Ilustrasi, Kembali ke alam. Tren busana Muslim tahun 2026 mengusung konsep kesederhanaan yang elegan melalui sentuhan warna bumi dan siluet minimalis yang mengutamakan kenyamanan fungsional. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Feb 2026 - 17:45 WIB