Tren Marriage is Scary: Trauma Kolektif Akibat Paparan Media Sosial

Minggu, 23 November 2025 - 12:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tagar #MarriageIsScary viral di TikTok. Anak muda kini takut menikah bukan karena belum siap, tapi karena

Tagar #MarriageIsScary viral di TikTok. Anak muda kini takut menikah bukan karena belum siap, tapi karena "ngeri" melihat realita rumah tangga orang lain di medsos. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda membuka TikTok dan melihat curhatan istri yang menderita karena suami selingkuh? Atau video tentang beban ganda seorang ibu yang kelelahan mengurus rumah sambil bekerja?

Video-video semacam itu kini membanjiri lini masa kita. Seketika, kolom komentar penuh dengan satu kalimat senada: “Marriage is scary” (Pernikahan itu menakutkan).

Tagar ini menjadi tren global yang meresahkan. Anak muda mengungkapkan ketakutan mendalam mereka untuk melangkah ke pelaminan. Bahkan, mereka bukan takut karena masalah finansial, melainkan takut terjebak dalam “neraka” rumah tangga yang mereka tonton setiap hari di layar ponsel.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Teror Algoritma dan Trauma Tontonan

Penyebab utama fenomena ini sangat jelas. Kita hidup di era keterbukaan informasi yang brutal. Dulu, aib rumah tangga tertutup rapat di dalam dinding kamar. Kini, semua orang bisa menceritakan penderitaan mereka ke seluruh dunia.

Baca Juga :  Operasi Ketupat 2026 Hari ke-11: 251 Kecelakaan, 17 Tewas - Arus Balik Mulai Meningkat

Eksposur masif terhadap kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), perselingkuhan, dan suami yang tidak bertanggung jawab (istilah viral: weaponized incompetence) menghantui pikiran Gen Z.

Sayangnya, algoritma media sosial bekerja dengan cara memperkuat emosi negatif. Jika kita menonton satu video tentang perceraian, algoritma akan menyuguhkan sepuluh video serupa. Akibatnya, otak kita menyimpulkan bahwa semua pernikahan itu buruk dan berbahaya.

Kehati-hatian Rasional atau Paranoia?

Apakah ketakutan ini berlebihan? Sebenarnya, ada sisi positif dari tren ini. Anak muda menjadi lebih waspada dan tidak lagi memandang pernikahan dengan kacamata merah muda (naif).

Mereka menjadi lebih selektif dalam memilih pasangan. Namun, batas antara kehati-hatian (caution) dan ketakutan irasional (paranoia) kini semakin kabur.

Banyak orang merasa takut pada bayangan yang belum tentu terjadi. Mereka menghukum calon pasangan masa depan atas kesalahan orang lain yang viral di internet. Padahal, setiap hubungan memiliki dinamika yang unik dan berbeda.

Ancaman Resesi Seks dan Penundaan Nikah

Dampak demografis dari tren ini mulai terlihat nyata. Angka pernikahan di banyak negara, termasuk Indonesia, menunjukkan tren penurunan. Oleh karena itu, potensi penundaan usia nikah semakin besar.

Baca Juga :  Hoaks Tel Aviv, Prabowo Tidak ke Israel Langsung Pulang Usai KTT Gaza

Wanita muda, khususnya, merasa lebih aman hidup sendiri dan mandiri secara finansial. Mereka enggan mengambil risiko kehilangan kebebasan dan terjebak dalam peran domestik yang menindas.

Jangka panjangnya, hal ini bisa memicu penurunan angka kelahiran (fertility rate). Negara berpotensi menghadapi krisis populasi jika trauma kolektif ini tidak tertangani dengan bijak.

Edukasi Realistis, Bukan Menakut-nakuti

Pada akhirnya, kita membutuhkan narasi penyeimbang. Pernikahan bukanlah dongeng Disney yang selalu indah. Akan tetapi, pernikahan juga bukan film horor seperti yang algoritma tampilkan.

Kita memerlukan edukasi pranikah yang realistis. Pasangan harus memahami manajemen konflik, komunikasi, dan kesiapan mental. Ingatlah, pernikahan yang sehat masih sangat mungkin terjadi.

Jangan biarkan potongan video 15 detik menghancurkan harapan kita akan cinta. Maka, kurangi konsumsi konten negatif dan mulailah membangun standar hubungan yang sehat di dunia nyata.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru