JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda membuka TikTok dan melihat curhatan istri yang menderita karena suami selingkuh? Atau video tentang beban ganda seorang ibu yang kelelahan mengurus rumah sambil bekerja?
Video-video semacam itu kini membanjiri lini masa kita. Seketika, kolom komentar penuh dengan satu kalimat senada: “Marriage is scary” (Pernikahan itu menakutkan).
Tagar ini menjadi tren global yang meresahkan. Anak muda mengungkapkan ketakutan mendalam mereka untuk melangkah ke pelaminan. Bahkan, mereka bukan takut karena masalah finansial, melainkan takut terjebak dalam “neraka” rumah tangga yang mereka tonton setiap hari di layar ponsel.
Teror Algoritma dan Trauma Tontonan
Penyebab utama fenomena ini sangat jelas. Kita hidup di era keterbukaan informasi yang brutal. Dulu, aib rumah tangga tertutup rapat di dalam dinding kamar. Kini, semua orang bisa menceritakan penderitaan mereka ke seluruh dunia.
Eksposur masif terhadap kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), perselingkuhan, dan suami yang tidak bertanggung jawab (istilah viral: weaponized incompetence) menghantui pikiran Gen Z.
Sayangnya, algoritma media sosial bekerja dengan cara memperkuat emosi negatif. Jika kita menonton satu video tentang perceraian, algoritma akan menyuguhkan sepuluh video serupa. Akibatnya, otak kita menyimpulkan bahwa semua pernikahan itu buruk dan berbahaya.
Kehati-hatian Rasional atau Paranoia?
Apakah ketakutan ini berlebihan? Sebenarnya, ada sisi positif dari tren ini. Anak muda menjadi lebih waspada dan tidak lagi memandang pernikahan dengan kacamata merah muda (naif).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka menjadi lebih selektif dalam memilih pasangan. Namun, batas antara kehati-hatian (caution) dan ketakutan irasional (paranoia) kini semakin kabur.
Banyak orang merasa takut pada bayangan yang belum tentu terjadi. Mereka menghukum calon pasangan masa depan atas kesalahan orang lain yang viral di internet. Padahal, setiap hubungan memiliki dinamika yang unik dan berbeda.
Ancaman Resesi Seks dan Penundaan Nikah
Dampak demografis dari tren ini mulai terlihat nyata. Angka pernikahan di banyak negara, termasuk Indonesia, menunjukkan tren penurunan. Oleh karena itu, potensi penundaan usia nikah semakin besar.
Wanita muda, khususnya, merasa lebih aman hidup sendiri dan mandiri secara finansial. Mereka enggan mengambil risiko kehilangan kebebasan dan terjebak dalam peran domestik yang menindas.
Jangka panjangnya, hal ini bisa memicu penurunan angka kelahiran (fertility rate). Negara berpotensi menghadapi krisis populasi jika trauma kolektif ini tidak tertangani dengan bijak.
Edukasi Realistis, Bukan Menakut-nakuti
Pada akhirnya, kita membutuhkan narasi penyeimbang. Pernikahan bukanlah dongeng Disney yang selalu indah. Akan tetapi, pernikahan juga bukan film horor seperti yang algoritma tampilkan.
Kita memerlukan edukasi pranikah yang realistis. Pasangan harus memahami manajemen konflik, komunikasi, dan kesiapan mental. Ingatlah, pernikahan yang sehat masih sangat mungkin terjadi.
Jangan biarkan potongan video 15 detik menghancurkan harapan kita akan cinta. Maka, kurangi konsumsi konten negatif dan mulailah membangun standar hubungan yang sehat di dunia nyata.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















