JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Media sosial biasanya menjadi etalase kemewahan yang menyilaukan mata. Kita sering melihat influencer memamerkan tumpukan paket belanjaan baru setiap harinya. Namun, tren tersebut kini mulai bergeser ke arah yang berlawanan.
Muncul sebuah estetika baru bernama “Underconsumption Core”. Seketika, video-video yang menampilkan barang usang menjadi viral di TikTok dan Instagram.
Orang-orang dengan bangga menunjukkan sepatu butut yang masih layak pakai. Bahkan, mereka memamerkan kosmetik yang mereka keruk sampai tetes terakhir atau baju bekas hasil thrifting. Hidup hemat mendadak terlihat sangat modis.
Antitesis Budaya “Haul” dan “Unboxing”
Tren ini hadir sebagai antitesis keras terhadap budaya haul dan unboxing. Dulu, netizen berlomba-lomba memamerkan seberapa banyak barang yang sanggup mereka beli.
Kini, mereka justru berlomba memamerkan seberapa awet barang yang mereka miliki. Nilai-nilai lama tentang gengsi dan pemborosan mulai luntur perlahan.
Sebaliknya, gaya hidup minimalis dan fungsional mengambil alih panggung utama. Mereka merayakan penggunaan barang hingga benar-benar rusak. Mereka menolak membuang benda hanya demi mengejar tren sesaat yang cepat berlalu.
Peduli Bumi atau Dompet Menjerit?
Pertanyaan besar pun muncul di benak pengamat sosial. Apakah tren ini murni lahir karena kesadaran lingkungan (sustainability)? Atau, ini hanyalah strategi rebranding cerdas dari keterbatasan ekonomi?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Faktanya, inflasi global membuat harga barang kebutuhan melonjak tajam. Oleh sebab itu, banyak orang terpaksa mengencangkan ikat pinggang.
Maka, mereka mengemas konsep “irit” menjadi sebuah estetika yang keren agar tidak terlihat menyedihkan. Istilah lawas “make do and mend” (perbaiki dan gunakan lagi) kini mendapat wajah baru yang lebih stylish dan diterima secara sosial.
Ancaman Nyata Bagi Fast Fashion
Di sisi lain, tren ini membawa kabar buruk bagi industri fast fashion. Merek-merek besar menggantungkan hidup dari siklus tren yang berganti setiap minggu.
Jika konsumen berhenti membeli baju baru secara impulsif, keuntungan perusahaan pasti tergerus. “Underconsumption Core” mengajarkan kita untuk merasa cukup dengan apa yang ada.
Akibatnya, keinginan belanja yang tidak perlu menjadi berkurang drastis. Hal ini merupakan ancaman nyata bagi mesin kapitalisme yang menuntut pertumbuhan konsumsi tanpa henti.
Respons Cerdas Terhadap Inflasi
Pada akhirnya, tren ini menormalisasi gaya hidup secukupnya. Kita merespons inflasi yang mencekik dengan cara yang cerdas dan tetap estetis.
Hidup hemat bukan lagi sesuatu yang memalukan atau tanda kekurangan. Justru, itu adalah pilihan gaya hidup bijak. Kita kembali menghargai nilai guna sebuah barang, bukan sekadar label harga yang menempel padanya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















