Poverty Porn: Sedekah Demi Konten dan Hilangnya Martabat Penerima

Selasa, 25 November 2025 - 21:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Niat hati berbagi atau cari untung? Fenomena

Niat hati berbagi atau cari untung? Fenomena "Poverty Porn" mengeksploitasi kemiskinan demi views. Simak bahaya hilangnya martabat penerima sedekah di depan kamera. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kamera menyala, musik latar sedih mengalun, dan lensa menyorot wajah lelah seorang pemulung di pinggir jalan. Sang konten kreator lantas mendekat dan menyerahkan sejumlah uang.

Si pemulung menangis haru, mencium tangan si pemberi, dan mengucapkan terima kasih berulang kali. Seketika, video tersebut meledak di media sosial. Jutaan orang menontonnya dan memberikan pujian kepada si pembuat konten.

Pemandangan ini mungkin terasa menyentuh hati bagi sebagian orang. Namun, bagi para pengamat sosial, ini adalah bentuk eksploitasi baru bernama “Poverty Porn”. Kemiskinan seseorang dijadikan komoditas hiburan demi mendulang views dan uang iklan (AdSense).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Eksploitasi Berkedok Inspirasi

Batas antara menginspirasi kebaikan dan mengeksploitasi penderitaan kini semakin kabur. Faktanya, banyak kreator melakukan aksi sosial bukan murni karena empati. Sebaliknya, mereka melihat kemiskinan sebagai ladang konten yang menguntungkan.

Baca Juga :  Viral di Medsos, Diduga Rekayasa BAP - Propam Periksa Anggota Polsek Cilandak

Mereka tahu bahwa video yang memancing air mata akan menghasilkan interaksi tinggi. Akibatnya, penderitaan orang lain dikemas sedemikian rupa agar terlihat dramatis.

Motif ekonomi sering kali menjadi pendorong utama. Ironisnya, pendapatan iklan dari video tersebut sering kali jauh lebih besar daripada nominal sedekah yang mereka berikan kepada si miskin.

Wajah yang Tak Bisa Menolak

Aspek paling kejam dari fenomena ini adalah pelanggaran privasi. Wajah-wajah penerima bantuan dipampang jelas tanpa sensor di ruang publik digital.

Padahal, mereka berada dalam posisi rentan yang tidak memungkinkan untuk menolak. Mereka butuh uang tersebut untuk makan. Oleh karena itu, mereka terpaksa menukar martabat dan privasi mereka demi bertahan hidup.

Nahasnya, jejak digital itu akan abadi. Anak cucu mereka kelak bisa melihat video tersebut. Rasa malu itu mungkin akan menghantui mereka selamanya, hanya karena mereka pernah menjadi objek konten seseorang.

Skeptisisme: Kebaikan atau Pencitraan?

Reaksi publik pun mulai terbelah. Dulu, netizen mudah terharu. Kini, skeptisisme mulai tumbuh subur. Orang mulai bertanya-tanya tentang ketulusan di balik kamera.

Baca Juga :  Mayat Terbakar Ditemukan di Atap Rumah Serang Baru, Diduga Tersengat Kabel Listrik

“Apakah mereka masih mau berbuat baik jika kameranya dimatikan?”. Pertanyaan sinis ini wajar muncul. Pasalnya, kita sering melihat kasus di mana kreator bersikap kasar atau acuh tak acuh begitu proses syuting selesai.

Kebaikan yang seharusnya tulus berubah menjadi pertunjukan. Lantas, nilai kemanusiaan terdegradasi menjadi sekadar naskah drama reality show.

Mengembalikan Esensi Berbagi

Pada akhirnya, kita perlu merenungkan kembali esensi dari sedekah. Agama dan etika mengajarkan prinsip luhur: “biarlah tangan kanan memberi, tanpa tangan kiri mengetahuinya”.

Membantu sesama adalah kewajiban moral. Akan tetapi, menjaga martabat penerima bantuan juga sama pentingnya. Jangan sampai kita memberi makan perut mereka, tetapi di saat bersamaan kita melukai harga diri mereka.

Maka, berhentilah menjadikan kemiskinan sebagai tontonan. Matikan kamera Anda, lalu berbagilah. Percayalah, kebaikan yang tulus tidak membutuhkan validasi dari tombol “Subscribe”.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru