Negosiasi Damai AS-Rusia Tanpa Hasil, Putin Ancam Perang Lawan Eropa

Rabu, 3 Desember 2025 - 15:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menyeimbangkan kekuatan di Timur. Rusia dan Tiongkok memperkuat koordinasi kebijakan luar negeri mereka sebagai respon atas perubahan dinamika keamanan di Asia-Pasifik, termasuk tren remiliterisasi Jepang. Dok: Istimewa.

Menyeimbangkan kekuatan di Timur. Rusia dan Tiongkok memperkuat koordinasi kebijakan luar negeri mereka sebagai respon atas perubahan dinamika keamanan di Asia-Pasifik, termasuk tren remiliterisasi Jepang. Dok: Istimewa.

MOSKOW – Awan kelabu menyelimuti upaya perdamaian di Eropa Timur. Pertemuan maraton selama lima jam antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan utusan Donald Trump berakhir tanpa hasil memuaskan pada Selasa malam.

Kremlin memberikan penilaian yang suram pasca-pertemuan tersebut. Ajudan senior Putin, Yuri Ushakov, menyatakan bahwa kedua belah pihak tidak membuat kemajuan berarti.

“Kita tidak lebih jauh ataupun lebih dekat untuk menyelesaikan krisis di Ukraina. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” ujar Ushakov kepada media Rusia.

Delegasi AS yang hadir termasuk utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner. Sayangnya, diskusi intensif tersebut gagal menjembatani jurang perbedaan mengenai garis kendali wilayah yang menjadi inti sengketa.

Putin: “Kami Siap Perang Sekarang Juga”

Suasana pertemuan tampaknya sudah panas sejak awal. Putin membuka pembicaraan dengan retorika tempur yang agresif. Secara mengejutkan, ia menuduh kekuatan Eropa menyabotase perdamaian di Ukraina.

Baca Juga :  Pelaku KDRT Sadis di Depok Ditangkap, Polisi Pastikan Proses Hukum Berjalan

Putin menyebut tuntutan Eropa untuk mengakhiri perang sebagai hal yang “tidak dapat diterima”. Bahkan, ia mengeluarkan ancaman terbuka.

“Rusia tidak berniat memerangi Eropa. Akan tetapi, jika Eropa memulainya, kami siap sekarang juga,” tegas Putin dengan nada mengancam.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pernyataan ini muncul sebagai respons atas dukungan Eropa terhadap revisi proposal damai AS. Pasalnya, revisi tersebut dianggap lebih lunak terhadap Ukraina dibandingkan draf awal yang sangat pro-Rusia.

Klaim Kejatuhan Pokrovsk

Posisi tawar Putin menguat karena perkembangan di medan tempur. Tepat sebelum pertemuan, Putin mengklaim pasukannya telah berhasil menguasai kota strategis Pokrovsk.

Ia memuji keberhasilan tersebut sebagai kemenangan penting. Faktanya, Pokrovsk adalah pusat logistik vital bagi tentara Ukraina di wilayah timur.

Meskipun pejabat Ukraina membantah kota itu jatuh sepenuhnya, analis militer mengakui realitas pahit. Peta pertempuran menunjukkan pasukan Rusia kini mengendalikan sebagian besar sektor tersebut. Akibatnya, jalur suplai Ukraina terancam putus total.

Baca Juga :  Update Kasus Alvaro Kiano, Bocah Hilang Ditemukan Tewas - Polisi Periksa DNA

Zelenskyy Menanti Sinyal

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memantau situasi dengan cemas. Ia menyatakan siap menerima sinyal apa pun dari hasil pertemuan Moskow tersebut.

“Segalanya bergantung pada diskusi hari ini,” tulis Zelenskyy di media sosial.

Di Washington, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mencoba tetap optimis. Ia mengklaim ada “sedikit kemajuan” terkait jaminan keamanan masa depan bagi Ukraina. Namun, klaim ini bertolak belakang dengan nada pesimis dari Kremlin.

Pada akhirnya, diplomasi ulang-alik (shuttle diplomacy) tim Trump menghadapi tembok tebal. Rusia tampaknya enggan menerima konsesi apa pun. Mereka lebih memilih melanjutkan perang sampai tujuan “operasi khusus” mereka tercapai sepenuhnya, atau sampai Barat menyerah karena kelelahan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks
Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?
Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci
Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi
Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas
Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa
ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM
Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 20:05 WIB

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Februari 2026 - 19:58 WIB

Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?

Sabtu, 21 Februari 2026 - 18:48 WIB

Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci

Sabtu, 21 Februari 2026 - 17:45 WIB

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:40 WIB

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Berita Terbaru

Ilustrasi, Pedang bermata dua diplomasi. Melalui kacamata Liberalisme, sanksi ekonomi bukan lagi instrumen hukuman sederhana, melainkan penguji ketangguhan jaringan interdependensi global yang rumit. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Feb 2026 - 20:05 WIB

Ilustrasi, Kembali ke alam. Tren busana Muslim tahun 2026 mengusung konsep kesederhanaan yang elegan melalui sentuhan warna bumi dan siluet minimalis yang mengutamakan kenyamanan fungsional. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Feb 2026 - 17:45 WIB

Ilustrasi, Pahlawan di balik kesunyian Maghrib. Saat mayoritas warga berkumpul di meja makan, sebagian orang justru harus teguh berdiri di garis depan demi pelayanan dan kemanusiaan. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Sabtu, 21 Feb 2026 - 16:40 WIB