Pemisahan Taiwan Melanggar Konstitusi, Jepang Harus Kubur Ambisi Militerisme

Rabu, 10 Desember 2025 - 17:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rekonsiliasi di Munich. Menlu Tiongkok Wang Yi dan Menlu Kanada Anita Anand menyepakati arah baru hubungan bilateral melalui kemitraan strategis yang lebih dalam dan kebijakan bebas visa. Dok: Istimewa.

Rekonsiliasi di Munich. Menlu Tiongkok Wang Yi dan Menlu Kanada Anita Anand menyepakati arah baru hubungan bilateral melalui kemitraan strategis yang lebih dalam dan kebijakan bebas visa. Dok: Istimewa.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, kembali menegaskan garis merah negaranya dengan nada tinggi. Dalam pertemuan diplomatik di Beijing pada Senin (08/12/2025), Wang menyampaikan pesan peringatan yang sangat serius.

Ia menyatakan bahwa segala upaya mengejar “pemisahan Taiwan” (Taiwan secession) sama artinya dengan memecah belah wilayah kedaulatan China. Bahkan, Wang menyebut dukungan asing terhadap agenda tersebut sebagai bentuk intervensi ilegal urusan dalam negeri.

“Tindakan itu melanggar konstitusi China dan hukum internasional,” tegas Wang saat menjamu Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul.

Sejarah Besi: Kairo hingga Potsdam

Wang Yi menggunakan kesempatan tersebut untuk membuka kembali lembaran sejarah. Menurutnya, fakta sejarah dan hukum telah membuktikan secara tak terbantahkan bahwa Taiwan adalah bagian dari China sejak zaman kuno.

Ia merujuk pada Deklarasi Kairo 1943. Dokumen itu menyatakan jelas bahwa Jepang wajib mengembalikan semua wilayah curian, termasuk Taiwan, kepada China.

Baca Juga :  Nadiem Makarim Ditetapkan Tersangka Kasus Pengadaan Laptop Chromebook oleh Kejagung RI

Selanjutnya, Pasal 8 Proklamasi Potsdam 1945 menegaskan kembali kewajiban tersebut. Saat Jepang menyerah tanpa syarat pada 15 Agustus 1945, Kaisar Jepang berjanji untuk mematuhi ketentuan itu dengan setia.

“Status Taiwan sebagai wilayah China telah ditegaskan secara tegas dan tidak dapat diubah oleh serangkaian fakta sejarah dan hukum yang kuat,” ujar Wang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kritik Pedas untuk “Pemimpin Sembrono”

Wang lantas mengarahkan telunjuknya ke arah Tokyo. Ia mengkritik keras pemimpin Jepang saat ini yang baru-baru ini melontarkan komentar tentang situasi hipotetis di Taiwan.

Wang melabeli pernyataan tersebut sebagai tindakan yang “sembrono” (reckless). Pasalnya, komentar itu secara terang-terangan melanggar kedaulatan China dan menantang tatanan pasca-Perang Dunia II.

“Hal ini menimbulkan risiko serius bagi perdamaian di Asia dan dunia,” peringatnya.

Baca Juga :  Wanita Kecelakaan di Tol KM63 Cakung, Polisi Temukan Puluhan Psikotropika di Mobil

Hubungan kedua negara memang sedang memanas. Pernyataan Bersama Sino-Jepang 1972 sebenarnya mewajibkan Jepang mengakui Pemerintah RRT sebagai satu-satunya pemerintahan sah. Namun, retorika terbaru dari Tokyo dinilai mengkhianati komitmen diplomatik tersebut.

Cegah Kebangkitan Militerisme

Tahun ini menandai peringatan 80 tahun kemenangan Perang Perlawanan Rakyat China Terhadap Agresi Jepang. Oleh karena itu, Wang mendesak Jepang untuk melakukan refleksi mendalam alih-alih memprovokasi masalah.

“Jepang menjajah wilayah itu selama setengah abad dan melakukan kejahatan tak terhitung. Kini, pemimpinnya justru mencoba mengeksploitasi masalah Taiwan untuk mengancam China secara militer,” kecam Wang.

Pada akhirnya, Wang menyerukan solidaritas global. Ia menekankan bahwa rakyat China dan seluruh pencinta damai memiliki kewajiban moral.

“Kita memiliki kewajiban untuk mencegah Jepang melakukan remiliterisasi dan mencoba menghidupkan kembali ambisi militerisnya,” pungkas Wang Yi.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Xinhua News Agency

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks
Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?
Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci
Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi
Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas
Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa
ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM
Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 20:05 WIB

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Februari 2026 - 19:58 WIB

Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?

Sabtu, 21 Februari 2026 - 18:48 WIB

Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci

Sabtu, 21 Februari 2026 - 17:45 WIB

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:40 WIB

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Berita Terbaru

Ilustrasi, Pedang bermata dua diplomasi. Melalui kacamata Liberalisme, sanksi ekonomi bukan lagi instrumen hukuman sederhana, melainkan penguji ketangguhan jaringan interdependensi global yang rumit. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Feb 2026 - 20:05 WIB

Ilustrasi, Kembali ke alam. Tren busana Muslim tahun 2026 mengusung konsep kesederhanaan yang elegan melalui sentuhan warna bumi dan siluet minimalis yang mengutamakan kenyamanan fungsional. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Feb 2026 - 17:45 WIB

Ilustrasi, Pahlawan di balik kesunyian Maghrib. Saat mayoritas warga berkumpul di meja makan, sebagian orang justru harus teguh berdiri di garis depan demi pelayanan dan kemanusiaan. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Sabtu, 21 Feb 2026 - 16:40 WIB