JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini ancaman tanah longsor yang membayangi sejumlah kawasan ibu kota sepanjang Desember 2025.
Informasi ini langsung menghebohkan publik seiring prediksi hujan lebat yang diperkirakan terus meningkat.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, BPBD menegaskan lonjakan curah hujan bulanan berpotensi kuat memicu pergerakan tanah.
Risiko tertinggi mengintai wilayah dengan tingkat kerawanan menengah hingga tinggi, sehingga sejumlah titik di Jakarta kini masuk kategori siaga.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, menjelaskan pemetaan daerah rawan longsor dilakukan melalui penggabungan peta kerentanan gerakan tanah dengan prakiraan curah hujan bulanan dari BMKG.
Dengan metode ini, BPBD berupaya mendeteksi potensi bahaya secara lebih cepat dan akurat.
Tak hanya itu, BPBD DKI Jakarta juga memperkuat analisis dengan kajian teknis dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah tersebut diambil guna memastikan peringatan dini bersifat komprehensif dan dapat dipercaya.
“Dari hasil kajian tersebut, kami menemukan sejumlah wilayah di DKI Jakarta berada pada zona kerentanan menengah hingga tinggi terhadap gerakan tanah, khususnya saat curah hujan melampaui kondisi normal,” ujar Isnawa dalam keterangan tertulis, Rabu (17/12/2025).
Tingkat Kerawanan Menengah Hingga Tinggi
Berdasarkan data BPBD, wilayah dengan tingkat kerawanan menengah hingga tinggi terkonsentrasi di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.
Di Jakarta Selatan, kawasan rawan meliputi Kecamatan Cilandak, Jagakarsa, Kebayoran Baru, Kebayoran Lama, Mampang Prapatan, Pasar Minggu, serta Pesanggrahan.
Sementara itu, di Jakarta Timur, potensi tanah longsor mengintai Kecamatan Cipayung, Ciracas, Kramatjati, Makasar, dan Pasar Rebo.
Wilayah-wilayah tersebut diminta meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan.
Isnawa menjelaskan, pada zona kerentanan menengah, gerakan tanah berpeluang terjadi saat hujan turun di atas normal.
Risiko meningkat di area yang berbatasan dengan lembah sungai, tebing jalan, gawir, maupun lereng yang telah mengalami gangguan.
Adapun pada zona kerentanan tinggi, ancaman longsor jauh lebih serius. Gerakan tanah lama dapat kembali aktif akibat hujan lebat yang berlangsung dalam waktu lama.
“Kendati Jakarta dikenal sebagai kawasan perkotaan, potensi longsor tetap nyata, terutama di lokasi dengan kontur tanah tertentu. Oleh karena itu, kewaspadaan harus terus ditingkatkan,” tegas Isnawa.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD DKI Jakarta meminta para camat, lurah, dan warga di wilayah rawan untuk meningkatkan kesiapsiagaan selama musim hujan berlangsung.
Warga juga diminta segera melapor jika menemukan tanda awal longsor, seperti retakan tanah, pohon atau tiang miring, hingga munculnya longsoran kecil di sekitar permukiman.
“Mitigasi dan kesiapsiagaan adalah kunci utama. Kami mengajak semua pihak memperkuat kewaspadaan dan melakukan pencegahan sejak dini, terutama saat intensitas hujan terus meningkat,” pungkas Isnawa. (red)


















