WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Awan perang semakin tebal menyelimuti Karibia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan penasihat utamanya menolak untuk menutup kemungkinan konflik terbuka dengan Venezuela.
Dalam wawancara dengan NBC News yang tayang pada Jumat pagi (19/12/2025), Trump memberikan pernyataan yang mengerikan. Saat ditanya tentang potensi perang dengan rezim Nicolas Maduro, ia menjawab dengan dingin.
“Saya tidak mengesampingkannya, tidak,” tegas Trump.
Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi militer terbesar di kawasan tersebut dalam beberapa dekade. Sementara itu, Maduro memerintahkan angkatan lautnya untuk mengawal tanker minyak yang berani menentang armada AS.
Rubio: “Status Quo Tidak Dapat Ditoleransi”
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memperkuat sinyal perang tersebut. Dalam konferensi pers akhir tahun, Rubio menegaskan bahwa AS memiliki hak untuk menggunakan “setiap elemen kekuatan nasional”.
Ia bahkan mengonfirmasi secara tersirat bahwa tujuan akhir AS adalah pergantian rezim. “Jelas bahwa status quo saat ini dengan rezim Venezuela tidak dapat ditoleransi oleh Amerika Serikat,” kata Rubio. “Jadi, ya, tujuan kami adalah mengubah dinamika itu.”
Rubio, yang merupakan putra imigran Kuba, telah lama menjadi kritikus keras Maduro. Ia menuduh rezim tersebut tidak sah dan bekerja sama dengan Iran, Hizbullah, serta organisasi teroris narkoba.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Armada Hantu Kabur ke Samudra Hindia
Tekanan blokade laut AS mulai membuahkan hasil nyata di lapangan. Menurut data industri maritim, “armada bayangan” (dark fleet) yang biasa mengangkut minyak Venezuela kini kocar-kacir.
Lebih dari 30 tanker sanksi kini terpaksa berlindung jauh di Samudra Hindia. Mereka memutar haluan drastis untuk menghindari penyergapan pasukan angkatan laut AS di Karibia.
Analis energi dari Windward AI menyebut ini sebagai pergeseran signifikan. Akibatnya, pendapatan minyak rezim Maduro terancam putus total. Tanker-tanker lain bahkan terjebak di zona blokade atau mencoba memanipulasi lokasi GPS mereka.
“AS mendapatkan kartu tambahan untuk diletakkan di meja diskusi guna mengakhiri kediktatoran Maduro,” analisis Jason Marczak dari Atlantic Council.
Kepala Staf: “Terus Ledakkan Kapal Sampai Maduro Menyerah”
Di balik layar Gedung Putih, para pejabat senior tampaknya satu suara. Kepala Staf Trump, Susie Wiles, memberikan komentar blak-blakan dalam wawancara dengan Vanity Fair.
“Trump ingin terus meledakkan kapal sampai Maduro menyerah (cries uncle),” ungkap Wiles.
Pernyataan ini meruntuhkan klaim awal pemerintah bahwa operasi militer tersebut hanya bertujuan penegakan hukum anti-narkoba. Faktanya, lebih dari 100 orang telah tewas dalam serangan terhadap kapal-kapal di Karibia dan Pasifik selama empat bulan terakhir.
Trump sendiri sesumbar bahwa akan ada lebih banyak penyitaan tanker minyak, seperti kasus kapal Skipper minggu lalu. Kini, dengan 15.000 tentara AS siaga di ambang pintu Venezuela, satu kesalahan kecil bisa memicu perang besar di Amerika Selatan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















