Aktor AI dan Skenario Robot: Ancaman Eksistensial Pekerja Seni di Ujung Tanduk

Jumat, 12 Desember 2025 - 05:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Redam kepanikan publik. Para petinggi industri kecerdasan buatan (AI) mulai melunakkan prediksi buruk mengenai pengangguran massal demi menjaga kepercayaan pasar menjelang IPO. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Redam kepanikan publik. Para petinggi industri kecerdasan buatan (AI) mulai melunakkan prediksi buruk mengenai pengangguran massal demi menjaga kepercayaan pasar menjelang IPO. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Lampu sorot Hollywood sempat padam dalam waktu yang lama. Ribuan penulis dan aktor turun ke jalanan, membawa papan protes dengan wajah geram. Aksi mogok kerja SAG-AFTRA ini bukan sekadar menuntut kenaikan upah.

Sebaliknya, mereka sedang bertarung demi kelangsungan hidup profesi mereka. Musuh mereka kali ini tidak berwajah, tidak bernapas, dan tidak butuh tidur. Musuh itu adalah Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Pekerja seni merasakan ancaman eksistensial yang nyata. Pasalnya, teknologi kini mampu meniru wajah, suara, dan kreativitas manusia dengan tingkat kemiripan yang menakutkan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mimpi Buruk “Digital Replica”

Isu paling panas menyangkut hak atas wajah dan suara. Studio film mengajukan proposal yang terdengar seperti episode serial Black Mirror.

Mereka ingin memindai wajah aktor figuran (background actors), membayar mereka untuk satu hari kerja, lalu memiliki hak cipta atas versi digital mereka selamanya.

Baca Juga :  Inovasi Rumah Kaca Air Laut Charlie Paton Hijaukan Gurun

Akibatnya, studio bisa menggunakan “replika digital” aktor tersebut di film apa pun tanpa perlu membayar lagi. Tentu saja, para aktor menolak keras.

Mereka menganggap ini sebagai pencurian identitas. Lebih parah lagi, teknologi deepfake bisa menghidupkan kembali aktor yang sudah meninggal atau memanipulasi suara aktor hidup untuk mengucapkan hal-hal yang tidak pernah mereka setujui.

ChatGPT Menggantikan Penulis Naskah?

Ketakutan serupa menghantui para penulis skenario. Eksekutif studio mulai melirik efisiensi yang ditawarkan oleh Large Language Models (LLM) seperti ChatGPT.

Mereka membayangkan masa depan di mana AI menulis draf awal skenario dalam hitungan detik. Kemudian, manusia hanya bertugas sebagai “tukang edit” yang memoles naskah robot tersebut dengan upah murah.

Padahal, menulis adalah proses kreatif yang rumit. Penulis menuangkan pengalaman hidup, trauma, dan harapan mereka ke dalam cerita. Lantas, jika mesin mengambil alih proses ini, orisinalitas cerita akan mati. Industri hanya akan mendaur ulang ide lama yang ada di database algoritma.

Baca Juga :  Gadis Sukabumi Dijual Rp200 Juta, Disekap di China dan Alami Kekerasan Seksual

Pertanyaan Filosofis: Di Mana “Jiwa” Seni?

Perdebatan ini menyentuh ranah filosofis yang mendalam. Bisakah seni memiliki “jiwa” jika penciptanya adalah algoritma?

AI bekerja berdasarkan probabilitas statistik. Ia memprediksi kata atau piksel berikutnya berdasarkan data masa lalu. Artinya, AI tidak memiliki pengalaman batin. Ia tidak pernah merasakan patah hati, kehilangan, atau kebahagiaan.

Seni sejati lahir dari penderitaan dan pengalaman manusiawi (human experience). Oleh karena itu, karya yang dihasilkan mesin mungkin terlihat sempurna secara teknis, namun terasa kosong dan hampa secara emosional.

Regulasi Harga Mati

Pada akhirnya, kita tidak bisa menghentikan laju teknologi. Akan tetapi, kita wajib mengaturnya dengan ketat. Regulasi menjadi harga mati untuk melindungi hak cipta dan hak asasi manusia.

Pemerintah dan serikat pekerja harus memastikan bahwa teknologi hadir sebagai alat bantu (tool), bukan pengganti (replacement). Ingatlah, efisiensi tidak boleh menghapus kemanusiaan. Seni adalah benteng terakhir ekspresi jiwa kita yang tidak boleh kita serahkan begitu saja kepada kode biner.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Taiwan Luncurkan Situs Pelaporan Intelijen
Pelacakan Kontak Ebola di Kamp Pengungsian Kongo
Laporan Lowy Institute Ungkap Skenario Perang Digital
Pasukan Khusus Inggris Sasar Pendanaan Perang Putin
Donald Trump Hubungi Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskyy
Pengunjuk Rasa Gempur Polisi Jelang Pembukaan KTT G7
Ulang Tahun ke-80: Donald Trump Gelar Pertarungan UFC
Donald Trump Umumkan Kesepakatan Damai Akhir Perang

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 18:14 WIB

Taiwan Luncurkan Situs Pelaporan Intelijen

Selasa, 16 Juni 2026 - 14:51 WIB

Pelacakan Kontak Ebola di Kamp Pengungsian Kongo

Selasa, 16 Juni 2026 - 13:45 WIB

Laporan Lowy Institute Ungkap Skenario Perang Digital

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:08 WIB

Pasukan Khusus Inggris Sasar Pendanaan Perang Putin

Selasa, 16 Juni 2026 - 11:48 WIB

Donald Trump Hubungi Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskyy

Berita Terbaru

Ilustasi, Taktik baru perang informasi. Biro Keamanan Nasional Taiwan meluncurkan situs pelaporan khusus guna memikat warga Tiongkok yang kecewa pada sistem pemerintahan Beijing. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Taiwan Luncurkan Situs Pelaporan Intelijen

Selasa, 16 Jun 2026 - 18:14 WIB

Hambatan di tengah krisis kesehatan. Warga di kamp pengungsian Kpangba mengusir petugas medis yang berupaya melacak kontak erat korban meninggal akibat Ebola. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pelacakan Kontak Ebola di Kamp Pengungsian Kongo

Selasa, 16 Jun 2026 - 14:51 WIB