Saat Hobi Menjadi Cuan: Jebakan Alienasi di Era Digital

Rabu, 22 Oktober 2025 - 06:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dari kegembiraan murni menjadi tuntutan pasar, mengapa hobi yang dimonetisasi sering berakhir dengan kelelahan emosional atau burnout? Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Dari kegembiraan murni menjadi tuntutan pasar, mengapa hobi yang dimonetisasi sering berakhir dengan kelelahan emosional atau burnout? Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Di media sosial, kita sering melihat narasi inspiratif tentang anak muda yang sukses mengubah hobi menjadi ‘cuan’ atau sumber penghasilan. Seorang ilustrator yang gemar menggambar kini membuka jasa komisi. Seorang gamer yang bersemangat kini menjadi streamer dengan ribuan penonton. Awalnya, ini terdengar seperti skenario impian. Namun, di balik kisah sukses itu, banyak yang diam-diam merasakan tekanan luar biasa yang berujung pada kelelahan emosional atau burnout.

Kegembiraan yang dulu mereka rasakan saat melakukan hobi perlahan memudar, lalu berganti menjadi beban target dan tenggat waktu. Mengapa aktivitas yang berawal dari hasrat murni justru bisa terasa begitu mengasingkan ketika bersentuhan dengan uang? Ternyata, seorang filsuf abad ke-19, Karl Marx, telah memberikan kerangka berpikir yang sangat relevan untuk memahami fenomena modern ini.

Alienasi: Keterasingan Manusia dari Karyanya

Karl Marx memperkenalkan konsep Alienasi untuk menggambarkan kondisi keterasingan yang dialami para pekerja dalam sistem kapitalis industri. Menurut Marx, pekerjaan seharusnya menjadi ekspresi esensi kemanusiaan kita. Akan tetapi, dalam sistem yang berfokus pada keuntungan, pekerja justru terasing dalam empat aspek utama:

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

  1. Terasing dari hasil kerjanya: Pekerja tidak memiliki produk yang mereka buat.
  2. Terasing dari proses kerjanya: Pekerjaan menjadi tugas monoton yang tidak memberikan kepuasan.
  3. Terasing dari esensi kemanusiaannya: Kreativitas dan potensi individu tidak lagi menjadi tujuan utama.
  4. Terasing dari sesama manusia: Hubungan sosial berubah menjadi hubungan transaksional.
Baca Juga :  Starmer Batalkan Penundaan Pemilu Lokal Pasca Kemenangan Hukum Nigel Farage Oleh:

Meskipun Marx membahas tentang buruh pabrik, teorinya secara mengejutkan dapat kita terapkan pada para pekerja kreatif dan digital di era gig economy saat ini.

Dari Hobi Menjadi Komoditas

Budaya kerja modern, terutama gig economy dan hustle culture, mendorong kita untuk memonetisasi setiap keterampilan yang kita miliki. Dalam konteks ini, hobi tidak lagi menjadi ruang pribadi untuk berekspresi, melainkan aset yang harus menghasilkan keuntungan.

Sebagai contoh, seorang gamer yang beralih menjadi streamer profesional kini tidak bisa lagi bermain game sesuka hatinya. Ia harus memilih game yang sedang populer untuk menarik penonton, bukan game yang benar-benar ingin ia mainkan. Selain itu, ia harus terus berinteraksi, menjaga citra, dan memenuhi ekspektasi audiensnya. Akibatnya, proses bermain game, yang dulunya merupakan sumber relaksasi, kini menjadi sebuah pertunjukan yang melelahkan. Ia pun teralienasi dari aktivitas yang pernah ia cintai.

Baca Juga :  Evolusi Pangan: Dari Revolusi Memasak Hingga Ancaman

Hal serupa dialami oleh seorang penulis yang mulai mengambil pekerjaan lepas. Dulu ia menulis untuk mengekspresikan gagasannya. Kini, ia harus menulis artikel SEO yang mengikuti formula ketat demi memenuhi pesanan klien. Kegembiraan intrinsik dalam merangkai kata hilang, karena tulisannya telah menjadi komoditas yang dinilai berdasarkan jumlah klik, bukan kualitas sastranya.

Kehilangan Ruang untuk Kesenangan Murni

Bahaya terbesar dari tren ini adalah komodifikasi setiap aspek kehidupan. Ketika setiap bakat harus memiliki nilai ekonomi, kita perlahan kehilangan ruang untuk melakukan sesuatu hanya untuk kesenangan semata. Ruang untuk bermain, bereksperimen, dan bahkan gagal tanpa konsekuensi finansial menjadi semakin sempit.

Pada akhirnya, tekanan untuk selalu produktif dan menghasilkan ‘cuan’ ini tidak hanya menyebabkan burnout, tetapi juga mengikis esensi kemanusiaan kita. Kita berisiko menjadi individu yang hanya melihat nilai diri melalui pencapaian ekonomi. Ini adalah sebuah undangan untuk merenung: apakah kita benar-benar perlu mengubah setiap percikan kegembiraan menjadi mesin penghasil uang? Mungkin, beberapa hobi memang seharusnya tetap menjadi hobi, sebuah tempat suci di mana kita bisa menjadi diri sendiri tanpa tekanan pasar.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark
Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap
AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal
Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun
Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya
Lebih 202 Ribu Jemaah Indonesia Siap Jalani Puncak Haji Armuzna
Marinir AS Uji HIMARS untuk Tangkal Agresi China
Sopir Diduga Mengantuk, Innova Rombongan DPR RI Hantam Dump Truk

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:57 WIB

Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 06:55 WIB

Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya

Berita Terbaru

Taylor Swift hingga Matthew McConaughey kini menggunakan hukum merek dagang untuk melindungi wajah dan suara mereka dari kloning kecerdasan buatan. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Pemerintahan Donald Trump mewajibkan warga asing yang mencari izin tinggal tetap (green card) untuk meninggalkan Amerika Serikat dan mengajukan aplikasi dari negara asal mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

Tragedi di kedalaman bumi. Ledakan gas dahsyat di tambang batu bara Liushenyu, China, merenggut setidaknya 90 nyawa, memicu seruan Presiden Xi Jinping untuk memperketat standar keselamatan kerja nasional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB