JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Indonesia bersiap mereformasi tata kelola ekspor kelapa sawit secara radikal.
Pemerintah menerapkan kebijakan ekspor satu pintu melalui badan baru PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Langkah berani ini memicu optimisme tinggi bagi para pelaku industri kelapa sawit nasional.
Direktur Eksekutif Paspi Tungkot Sipayung menyampaikan pandangan itu di Jakarta pada hari Rabu kemarin. Menurutnya, regulasi baru ini membuka peluang emas bagi Indonesia untuk mengendalikan harga CPO global.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama ini, pasar Rotterdam di Belanda mengendalikan harga acuan minyak sawit dunia. Sementara itu, bursa Malaysia menjadi kiblat harga bagi para produsen sawit hulu.
Indonesia sebenarnya memegang status sebagai produsen kelapa sawit paling besar di dunia. Namun, sistem perdagangan sawit kita masih kalah bersaing dari Malaysia dan Uni Eropa.
Uni Eropa bahkan mendulang devisa hingga 35 miliar dolar AS setiap tahun dari perdagangan sawit. Padahal, Uni Eropa sama sekali tidak memiliki satu pun pohon kelapa sawit.
Sebaliknya, Indonesia hanya meraih devisa minim meskipun memiliki 16,8 juta hektare lahan sawit. Tungkot menilai kegagalan itu muncul karena ekspor mandiri perusahaan swasta berjalan tanpa koordinasi satu pintu.
Oleh karena itu, penyatuan pintu ekspor di bawah Danantara akan memperkuat posisi tawar negara. Skema ini juga akan memaksa aliran devisa ekspor masuk sepenuhnya ke dalam negeri.
Kekhawatiran Kapitalisme Negara dan Monopoli Pasar
Namun, kebijakan revolusioner ini juga memicu kritik dan kekhawatiran dari pengamat ekonomi nasional.
Direktur Center for Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mempertanyakan eksistensi pasar bebas masa depan. Ia menilai peran aktif DSI dapat merusak mekanisme penentuan harga secara alami.
Nailul mencemaskan dominasi berlebihan pemerintah dalam mengontrol arus ekspor komoditas ini. Sebab, kontrol mutlak itu berpotensi melahirkan praktik kapitalisme negara yang kaku.
Kebijakan ini juga berisiko meminggirkan peran penting perusahaan swasta dalam rantai pasok. Pada akhirnya, para pelaku pasar menanti formula kompromi paling baik demi menjaga stabilitas industri.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












