Ancaman Senyap di Hutan Bambu: Perubahan Iklim Mengintai

Kamis, 1 Januari 2026 - 16:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Bukan hanya perburuan, kini perubahan iklim mengancam pasokan bambu yang menjadi napas hidup panda raksasa di pegunungan China. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Bukan hanya perburuan, kini perubahan iklim mengancam pasokan bambu yang menjadi napas hidup panda raksasa di pegunungan China. Dok: Istimewa.

Wajah lucu dan tingkah menggemaskan panda raksasa di kebun binatang dunia kerap menutupi realitas pahit di alam liar. Meski kelahiran setiap bayi panda selalu menjadi berita besar, nasib spesies beruang paling langka ini justru menggantung di ujung tanduk.

Dahulu, panda raksasa menjelajah bebas dari China hingga Vietnam utara dan Burma. Kini, populasi liar mereka terkurung di enam pegunungan terisolasi di Provinsi Gansu, Shaanxi, dan Sichuan. Ancaman terbesar bagi mereka kini bukan lagi sekadar moncong senapan pemburu, melainkan musuh yang tak kasat mata: perubahan iklim.

Jebakan Isolasi dan Infrastruktur Manusia

Meskipun tiga perempat panda liar kini hidup di dalam cagar alam, status mereka tetap terancam punah. Sejarah mencatat penurunan drastis populasi panda hingga hampir setengahnya antara awal 1970-an hingga akhir 1990-an akibat perburuan dan perusakan habitat.

Hari ini, fragmentasi habitat menjadi pembunuh utama. Pembangunan jalan raya dan jalur kereta api membelah hutan, memutus jalur migrasi alami. Akibatnya, populasi panda terisolasi satu sama lain, mencegah mereka berkembang biak secara alami dan mempertahankan keragaman genetik.

Krisis Bambu di Pegunungan Qinling

Ilmuwan dari Universitas Michigan baru-baru ini merilis prakiraan komprehensif yang mengkhawatirkan. Mereka membedah dampak perubahan iklim terhadap spesies bambu yang menjadi karpet hijau di Pegunungan Qinling, Provinsi Shaanxi. Wilayah ini merupakan rumah bagi sekitar 275 panda liar, atau 17 persen dari total populasi yang tersisa.

Baca Juga :  Cemburu Buta, Pria di Bogor Mengamuk Bacok Mantan Istri dan Suaminya hingga Kritis

Panda Qinling memiliki nilai konservasi tinggi karena isolasi ribuan tahun yang membuat mereka unik secara genetik. Namun, studi tersebut menunjukkan skenario suram. Bahkan dalam prediksi paling optimis sekalipun, kematian massal bambu akibat perubahan iklim akan membuat habitat ini tak lagi layak huni pada akhir abad ke-21.

Ketergantungan Fatal pada Satu Sumber Makanan

Bambu adalah pedang bermata dua bagi kelangsungan hidup panda. Tanaman ini vital bagi ekosistem hutan, menyediakan makanan dan perlindungan bagi banyak spesies langka. Namun, bambu juga tanaman yang berisiko tinggi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Siklus reproduksi bambu yang lambat—hanya berbunga dan bereproduksi setiap 30 hingga 35 tahun—membatasi kemampuannya beradaptasi dengan perubahan iklim yang cepat. Secara alami, bambu mati massal setiap 40 hingga 120 tahun. Dahulu, panda bisa berpindah ke area lain saat bambu mati. Kini, dengan habitat yang terfragmentasi oleh manusia, panda terjebak di wilayah tanpa sumber makanan yang cukup, menghadapi ancaman kelaparan.

Baca Juga :  Jakarta Siap Macet! 31 Titik Kena Rekayasa Lalu Lintas HUT RI 2025

Peran Krusial Intervensi Manusia

Model iklim dari studi Michigan memprediksi bahwa perubahan iklim dapat memangkas habitat panda hingga hampir 60 persen dalam 70 tahun ke depan. Namun, nasib panda tidak sepenuhnya ditentukan oleh alam. Manusia memegang kunci penyelamatan.

Jika manusia mengubah penggunaan lahan secara masif, panda akan kehilangan jalur akses ke sumber makanan baru. Oleh karena itu, otoritas perlu segera merancang perencanaan proaktif. Solusinya mencakup perlindungan area yang diprediksi tahan iklim serta pembangunan jembatan alami (koridor ekologi) yang memungkinkan panda melarikan diri dari wilayah yang mengalami “krisis bambu”.

Perlombaan Melawan Waktu

Konservasionis independen mendesak China untuk memastikan konektivitas antar-wilayah habitat yang ada saat ini dengan calon habitat masa depan. Meskipun studi Michigan tidak membahas detail logistiknya, pesan utamanya jelas: waktu adalah kemewahan yang tidak dimiliki panda.

Para ahli harus bergerak cepat sebelum jumlah populasi jatuh terlalu rendah dan keragaman genetik menipis. Melindungi panda bukan sekadar menjaga ikon lucu, melainkan menjaga keseimbangan ekosistem hutan bambu yang menopang kehidupan banyak spesies lain di dalamnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks
Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?
Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci
Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi
Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas
Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa
ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM
Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 20:05 WIB

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Februari 2026 - 19:58 WIB

Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?

Sabtu, 21 Februari 2026 - 18:48 WIB

Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci

Sabtu, 21 Februari 2026 - 17:45 WIB

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:40 WIB

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Berita Terbaru

Ilustrasi, Pedang bermata dua diplomasi. Melalui kacamata Liberalisme, sanksi ekonomi bukan lagi instrumen hukuman sederhana, melainkan penguji ketangguhan jaringan interdependensi global yang rumit. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Feb 2026 - 20:05 WIB

Ilustrasi, Kembali ke alam. Tren busana Muslim tahun 2026 mengusung konsep kesederhanaan yang elegan melalui sentuhan warna bumi dan siluet minimalis yang mengutamakan kenyamanan fungsional. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Feb 2026 - 17:45 WIB

Ilustrasi, Pahlawan di balik kesunyian Maghrib. Saat mayoritas warga berkumpul di meja makan, sebagian orang justru harus teguh berdiri di garis depan demi pelayanan dan kemanusiaan. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Sabtu, 21 Feb 2026 - 16:40 WIB