AS Terima 5.000 Pengungsi Afrikaner Kulit Putih di Tahun 2026

Jumat, 10 April 2026 - 15:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengecualian di tengah pembatasan. Administrasi Donald Trump memberikan status pengungsi kepada hampir 5.000 warga Afrikaner kulit putih asal Afrika Selatan, memicu ketegangan diplomatik dengan pemerintah Pretoria. Dok: AFP.

Pengecualian di tengah pembatasan. Administrasi Donald Trump memberikan status pengungsi kepada hampir 5.000 warga Afrikaner kulit putih asal Afrika Selatan, memicu ketegangan diplomatik dengan pemerintah Pretoria. Dok: AFP.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Amerika Serikat secara resmi membuka pintu bagi ribuan warga minoritas Afrikaner asal Afrika Selatan. Kebijakan ini menempatkan komunitas keturunan pemukim Eropa tersebut sebagai prioritas utama dalam sistem pengungsi AS yang kini kian diperketat.

Dalam konteks ini, administrasi Donald Trump memberikan pengecualian khusus bagi komunitas Afrikaan di tengah kebijakan penghentian penerimaan pengungsi global. Oleh karena itu, langkah ini memicu perdebatan mengenai kriteria kemanusiaan yang Washington gunakan dalam menentukan status persekusi di tahun 2026.

Statistik Pemukiman: 4.499 Orang di 48 Negara Bagian

Dokumen dari Biro Kependudukan Departemen Luar Negeri AS mengungkap skala pemindahan tersebut. Sebanyak 4.499 warga Afrika Selatan telah menetap di Amerika Serikat sejak 1 Oktober tahun lalu hingga akhir Maret 2026. Bahkan, laporan tersebut mencatat bahwa hanya terdapat tiga warga negara Afganistan di luar kelompok tersebut dalam daftar pemukiman kembali.

Lebih lanjut, arus kedatangan mencapai puncaknya pada bulan Februari dan Maret tahun ini dengan rata-rata 1.300 orang per bulan. Sebagai hasilnya, hampir seluruh kuota pengungsi tahunan Amerika Serikat kini terisi oleh warga kulit putih asal Afrika Selatan. Langkah ini mempertegas pergeseran drastis kebijakan imigrasi AS dibandingkan masa pemerintahan sebelumnya.

Baca Juga :  Polsek Setu Bongkar Sindikat Pengoplos Elpiji Subsidi, Tangkap Otak Pelaku

Tuduhan “Genosida” dan Bantahan Keras Pretoria

Washington berulang kali mengeklaim bahwa warga Afrikaner menghadapi diskriminasi rasial yang parah dan ancaman “genosida” pasca-berakhirnya kekuasaan minoritas kulit putih tahun 1994. Pemerintah AS merujuk pada rentetan serangan terhadap pertanian milik warga kulit putih sebagai bukti ancaman keamanan.

Namun, pemerintah Afrika Selatan di Pretoria menolak mentah-mentah tuduhan tersebut. Otoritas setempat menyatakan bahwa warga kulit hitam justru menjadi korban utama dari tingginya angka kriminalitas nasional. Selain itu, undang-undang pemberdayaan ekonomi di Afrika Selatan bertujuan untuk memperbaiki ketimpangan warisan sistem apartheid, bukan untuk melakukan persekusi rasial.

Diplomasi yang Retak dan Penggerebekan Desember

Perselisihan ini menyebabkan hubungan diplomatik kedua negara mencapai titik terendah. Ketegangan memuncak pada Desember lalu saat kepolisian Afrika Selatan melakukan penggerebekan terhadap sebuah pusat pemrosesan dokumen pengungsi. Akibatnya, proses verifikasi aplikasi pengungsi ke Amerika Serikat sempat terganggu dan memicu protes keras dari Gedung Putih.

Baca Juga :  Geng Motor Sadis di Pademangan, Hujani Bacokan Pemuda 20 Tahun Pakai Celurit

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terlebih lagi, Washington tetap pada keputusannya untuk memprioritaskan warga Afrika Selatan dalam kuota 7.500 pengungsi untuk tahun fiskal 2026. Angka ini turun drastis dari kuota 100.000 orang per tahun pada era Joe Biden. Pada akhirnya, kebijakan ini membuktikan bahwa isu rasial di Afrika Selatan telah bertransformasi menjadi komoditas politik yang panas dalam hubungan bilateral kedua negara.

Menanti Dampak Sosial di AS

Masa depan program ini kini bergantung pada stabilitas politik di kedua negara. Dengan demikian, komunitas internasional memantau bagaimana integrasi ribuan pengungsi Afrikaner ini akan memengaruhi dinamika sosial di berbagai negara bagian Amerika Serikat.

Meskipun demikian, Pretoria tetap mendesak Washington untuk menghormati kedaulatan hukum Afrika Selatan terkait kebijakan pemerataan ekonomi nasional. Krisis kepercayaan ini menjadi barometer bagi arah kebijakan luar negeri “America First” dalam menangani isu-isu kemanusiaan global yang bersifat selektif di sisa tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

James Comer Pastikan Sidang Kongres Jeffrey Epstein Segera Digelar
JD Vance Pimpin Perundingan Hidup-Mati dengan Iran di Pakistan
Kapsul Artemis II Mendarat Sempurna Setelah Jelajahi Sisi Jauh Bulan
PBB Ungkap Kegagalan Komitmen Negara Kaya dalam Menutup Kesenjangan Global
Gempur Narkoba Tanpa Henti, Polri Jaga Masa Depan Bangsa dari Ancaman Mematikan
Viral, Dua Wanita di Lebak Jadi Tersangka Usai Injak Al-Qur’an, DPR Desak Tindakan Tegas
Mengapa Energi Terbarukan Menjadi Primadona Pasar Saham 2026?
Ibu dan Anak Tewas Ditikam Puluhan Kali di Dalam Apartemen

Berita Terkait

Minggu, 12 April 2026 - 15:34 WIB

James Comer Pastikan Sidang Kongres Jeffrey Epstein Segera Digelar

Minggu, 12 April 2026 - 14:29 WIB

JD Vance Pimpin Perundingan Hidup-Mati dengan Iran di Pakistan

Minggu, 12 April 2026 - 13:24 WIB

Kapsul Artemis II Mendarat Sempurna Setelah Jelajahi Sisi Jauh Bulan

Minggu, 12 April 2026 - 12:15 WIB

PBB Ungkap Kegagalan Komitmen Negara Kaya dalam Menutup Kesenjangan Global

Minggu, 12 April 2026 - 10:56 WIB

Gempur Narkoba Tanpa Henti, Polri Jaga Masa Depan Bangsa dari Ancaman Mematikan

Berita Terbaru

Mengejar keadilan bagi penyintas. Ketua Komite Oversight DPR AS James Comer secara resmi menyetujui desakan Ibu Negara Melania Trump untuk mengadakan sidang terbuka bagi korban Jeffrey Epstein guna memberikan kesaksian di bawah sumpah. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

James Comer Pastikan Sidang Kongres Jeffrey Epstein Segera Digelar

Minggu, 12 Apr 2026 - 15:34 WIB

Taruhan kedaulatan di Islamabad. Wakil Presiden AS JD Vance memulai misi diplomatik kritis guna mengakhiri perang enam pekan, di tengah tuntutan keras Teheran dan lonjakan inflasi Amerika Serikat di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

JD Vance Pimpin Perundingan Hidup-Mati dengan Iran di Pakistan

Minggu, 12 Apr 2026 - 14:29 WIB