JD Vance Pimpin Perundingan Hidup-Mati dengan Iran di Pakistan

Minggu, 12 April 2026 - 14:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Taruhan kedaulatan di Islamabad. Wakil Presiden AS JD Vance memulai misi diplomatik kritis guna mengakhiri perang enam pekan, di tengah tuntutan keras Teheran dan lonjakan inflasi Amerika Serikat di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Taruhan kedaulatan di Islamabad. Wakil Presiden AS JD Vance memulai misi diplomatik kritis guna mengakhiri perang enam pekan, di tengah tuntutan keras Teheran dan lonjakan inflasi Amerika Serikat di tahun 2026. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Amerika Serikat meluncurkan upaya diplomatik terakhir guna mencegah kehancuran total tatanan energi global. Wakil Presiden JD Vance secara resmi memimpin delegasi menuju Islamabad guna menghadapi perundingan yang ia sebut sebagai fase “penentu nasib” pada hari Jumat.

Dalam konteks ini, misi Vance bertujuan mengakhiri peperangan yang telah berlangsung selama enam pekan. Namun demikian, ketidakpastian menyelimuti pertemuan tersebut setelah otoritas Teheran mengajukan sejumlah prasyarat berat sebelum duduk di meja perundingan.

Tuntutan Keras Teheran dan Aset yang Membeku

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa Washington harus membuktikan komitmennya terlebih dahulu. Iran menuntut Amerika Serikat segera mencairkan aset bernilai puluhan miliar dolar yang tersimpan di bank-bank asing. Selain itu, Teheran mendesak penghentian total gempuran Israel terhadap wilayah Lebanon sebagai bagian integral dari kesepakatan damai.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih lanjut, Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi mendukung posisi keras tersebut. Oleh karena itu, para mediator Pakistan kini bekerja ekstra keras guna memastikan kedua belah pihak tidak membatalkan pertemuan di Islamabad pada Jumat malam. Iran mengincar pengakuan kedaulatan penuh atas Selat Hormuz sebagai alat tawar guna menghapus sanksi ekonomi yang telah melumpuhkan mereka selama bertahun-tahun.

Baca Juga :  India dan Pakistan Saling Buka Kartu Fasilitas Nuklir

Retorika Trump dan Kesiapan Negosiator AS

Di sisi lain, Presiden Donald Trump tetap menggunakan narasi yang agresif di media sosial. Trump mengeklaim bahwa Iran tidak memiliki kartu tawar apa pun selain “pemerasan” di jalur pelayaran internasional. “Satu-satunya alasan mereka masih hidup hari ini adalah untuk bernegosiasi!” tulis Trump guna menegaskan dominasi militer Amerika Serikat.

Meskipun demikian, JD Vance mencoba membawa nada yang lebih terukur namun tetap waspada. Ia berharap perundingan ini membuahkan hasil positif bagi stabilitas kawasan. Namun, Vance memperingatkan bahwa tim negosiasi AS tidak akan bersikap reseptif jika Iran mencoba melakukan manipulasi diplomatik di tengah gencatan senjata yang rapuh di tahun 2026 ini.

Eskalasi di Lebanon: 1.953 Nyawa Melayang

Situasi di medan tempur Lebanon justru menunjukkan arah yang berlawanan dengan semangat gencatan senjata. Militer Israel meluncurkan serangan udara terdahsyat tepat setelah pengumuman jeda pertempuran oleh Trump. Otoritas Lebanon melaporkan lebih dari 350 orang tewas dalam gempuran mendadak di kawasan padat penduduk.

Baca Juga :  Trump Hubungi Putin Saat AS Pertimbangkan Pelonggaran Sanksi Minyak Rusia

Secara khusus, serangan rudal di kota Nabatieh menghancurkan sebuah gedung pemerintah pada hari Jumat. Insiden tersebut menewaskan 13 personel pasukan keamanan negara Lebanon. Akibatnya, total korban jiwa di Lebanon sejak awal Maret kini telah melampaui 1.953 orang. Hezbollah membalas aksi tersebut dengan menembakkan salvo roket ke kota-kota di utara Israel, membuktikan bahwa api peperangan masih berkobar hebat di luar wilayah kedaulatan Iran.

Guncangan Ekonomi: Inflasi AS Tembus 0,9 Persen

Perang di Timur Tengah kini mulai mencekik ekonomi rumah tangga di Amerika Serikat. Data inflasi bulanan yang terbit pada hari Jumat menunjukkan kenaikan harga konsumen sebesar 0,9 persen sepanjang Maret 2026. Angka ini merupakan laju inflasi tercepat sejak krisis energi tahun 2022 silam.

Terlebih lagi, kelumpuhan Selat Hormuz telah memicu disrupsi pasokan energi terbesar dalam sejarah modern. Para analis memperingatkan bahwa dampak ekonomi ini akan bertahan selama berbulan-bulan meskipun Vance sukses membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Pada akhirnya, keberhasilan diplomasi di Islamabad menjadi satu-satunya harapan untuk mencegah resesi global yang lebih dalam di sisa tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Takaichi dan Anwar Ibrahim Sepakati Kemitraan Energi Baru
Tabung Oksigen Terpental Saat Pengisian di Cilincing, Hantam Rumah dan Warung Warga
Cuaca Jabodetabek Hari Ini Cerah Berawan, Suhu Udara Capai 34 Derajat Celsius
Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos
Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis
Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek
Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori
Tak Mau Bayar Makan, 2 Pria Keroyok Pedagang Sate di Rawasari Diciduk Polisi

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 06:12 WIB

Takaichi dan Anwar Ibrahim Sepakati Kemitraan Energi Baru

Kamis, 11 Juni 2026 - 06:07 WIB

Tabung Oksigen Terpental Saat Pengisian di Cilincing, Hantam Rumah dan Warung Warga

Kamis, 11 Juni 2026 - 05:35 WIB

Cuaca Jabodetabek Hari Ini Cerah Berawan, Suhu Udara Capai 34 Derajat Celsius

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:43 WIB

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:00 WIB

Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis

Berita Terbaru

Mengamankan jalur energi regional. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan PM Malaysia Anwar Ibrahim memperkuat kemitraan maritim serta jaminan pasokan LNG di tengah krisis Timur Tengah. (David Mareuil/Pool Photo via AP)

INTERNASIONAL

Takaichi dan Anwar Ibrahim Sepakati Kemitraan Energi Baru

Kamis, 11 Jun 2026 - 06:12 WIB

Duka di Mindanao. Tim penyelamat menyisir puing-puing bangunan komersial di General Santos pasca-gempa bumi dahsyat magnitudo 7,8 yang menewaskan puluhan warga. Dok: REUTERS/Noel Celis

INTERNASIONAL

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Jun 2026 - 18:43 WIB