TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles, memulai kunjungan strategis ke Jepang pada Sabtu (06/12/2025). Ia dijadwalkan bertemu langsung dengan rekan sejawatnya, Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi.
Kunjungan ini membawa misi diplomatik yang mendesak. Tujuannya, memperdalam hubungan pertahanan di tengah situasi geopolitik kawasan yang kian memanas. Australia ingin bergerak cepat merangkul pemerintahan baru Perdana Menteri Sanae Takaichi.
Pejabat Australia menegaskan kesamaan visi kedua negara. Menurutnya, Tokyo dan Canberra memiliki ambisi strategis yang selaras untuk merespons tantangan global yang semakin kompleks.
“Hubungan kami dengan Jepang terus tumbuh semakin kuat,” ujar Marles dalam pernyataan resminya sebelum keberangkatan.
Kontrak Kapal Perang Bersejarah
Agenda utama pertemuan ini menyoroti kerja sama industri pertahanan yang masif. Sebelumnya, pada Agustus lalu, Australia telah memberikan kontrak fantastis senilai A$10 miliar (sekitar $6,5 miliar) kepada Mitsubishi Heavy Industries.
Raksasa industri Jepang itu mendapat mandat untuk membangun fregat kelas Mogami bagi Angkatan Laut Australia. Faktanya, kesepakatan ini menandai penjualan pertahanan paling konsekuensial bagi Tokyo sejak mereka mencabut larangan ekspor militer pada 2014.
Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa Jepang mulai menjauh dari doktrin pasifisme pasca-perang. Rencananya, Marles akan mengunjungi langsung galangan kapal perusahaan tersebut di Nagasaki, Jepang selatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengamankan Rute Dagang dari China
Australia memiliki alasan strategis di balik pembelian armada ini. Mereka berencana mengerahkan fregat canggih tersebut untuk melindungi rute perdagangan maritim yang vital.
Selain itu, kapal-kapal ini akan menjaga pendekatan utara Australia di Samudra Hindia dan Pasifik. Pasalnya, jejak militer China di kawasan tersebut terus meluas secara agresif.
Koizumi menyambut baik kunjungan ini. “Kami berencana mengadakan diskusi konkret untuk kemajuan lebih lanjut dalam kerja sama pertahanan Jepang-Australia,” katanya dalam konferensi pers.
Kunjungan ini terjadi di momen yang sensitif. Hubungan Jepang dan China sedang berada di titik nadir diplomatik. Penyebabnya, PM Takaichi baru-baru ini menyatakan bahwa serangan hipotetis China ke Taiwan dapat memicu respons militer dari Tokyo.
Lanjut ke Washington Bahas AUKUS
Setelah menyelesaikan agenda di Tokyo, Marles tidak akan langsung pulang. Selanjutnya, ia dijadwalkan terbang ke Washington minggu depan.
Di sana, ia akan bertemu dengan menteri pertahanan Amerika Serikat dan Inggris. Fokus utamanya adalah membahas kelanjutan kemitraan kapal selam bertenaga nuklir AUKUS.
Pentagon sendiri baru saja menyelesaikan tinjauan proyek tersebut pada Kamis. Hasilnya, pejabat AS menyebut mereka telah menemukan area strategis untuk menempatkan kesepakatan AUKUS pada “pijakan terkuat yang mungkin”.
Pada akhirnya, rangkaian diplomasi pertahanan ini menegaskan posisi Australia. Canberra sedang membangun jaring pengaman berlapis bersama sekutu utamanya, Jepang dan AS, demi menghadapi dinamika keamanan Indo-Pasifik yang tak menentu.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Reuters





















