Membedah Banalitas Kejahatan di Era Digital

Rabu, 22 Oktober 2025 - 06:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Bagaimana ribuan klik dari orang-orang biasa bisa menciptakan perundungan massal? Sebuah pandangan melalui kacamata teori Banalitas Kejahatan dari Hannah Arendt. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Bagaimana ribuan klik dari orang-orang biasa bisa menciptakan perundungan massal? Sebuah pandangan melalui kacamata teori Banalitas Kejahatan dari Hannah Arendt. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Seorang figur publik membuat kesalahan kecil, dan dalam hitungan jam, kolom komentarnya berubah menjadi medan perang digital. Ribuan akun tanpa nama, yang dioperasikan oleh pelajar, karyawan, bahkan orang tua, serentak melontarkan caci maki. Di platform lain, sebuah berita bohong atau hoaks menyebar secepat kilat, dibagikan oleh ribuan orang yang bahkan tidak membaca isinya secara lengkap. Para pelakunya bukanlah monster atau penjahat terorganisir. Mereka adalah orang-orang biasa seperti kita.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang menggelisahkan: bagaimana orang-orang biasa dapat berpartisipasi dalam tindakan kejam secara kolektif, seperti perundungan siber massal atau penyebaran disinformasi, tanpa merasa sedang melakukan sesuatu yang benar-benar “jahat”? Jawabannya mungkin terletak pada sebuah konsep yang lahir dari salah satu periode terkelam dalam sejarah manusia.

Saat Orang Biasa Menjadi Pelaku

Filsuf politik, Hannah Arendt, memperkenalkan konsep Banalitas Kejahatan (Banality of Evil) saat ia meliput persidangan Adolf Eichmann, seorang perwira Nazi yang bertanggung jawab atas logistik Holocaust. Arendt mengharapkan sosok monster, tetapi yang ia temukan adalah seorang birokrat yang membosankan. Eichmann bukanlah seorang ideolog yang fanatik atau pembenci yang sadis. Ia hanya seorang pria yang ingin melakukan pekerjaannya dengan baik dan menaiki tangga karier.

Dari pengamatan inilah Arendt menyimpulkan bahwa kejahatan terbesar dalam sejarah tidak selalu membutuhkan niat jahat yang luar biasa. Sebaliknya, kejahatan bisa lahir dari sesuatu yang jauh lebih “normal” atau banal: ketidakmampuan untuk berpikir kritis. Pelaku kejahatan sering kali adalah orang biasa yang hanya mengikuti arus, mematuhi perintah, atau menyesuaikan diri dengan norma kelompok tanpa pernah berhenti sejenak untuk merefleksikan konsekuensi moral dari tindakan mereka.

Serangan Netizen sebagai Kejahatan Banal

Teori Arendt memberikan lensa yang sangat kuat untuk memahami perilaku massa di media sosial. Ketika “netizen” beramai-ramai menyerang seseorang, banyak dari mereka tidak bertindak atas dasar kebencian personal yang mendalam. Sebaliknya, partisipasi mereka sering kali didorong oleh motif yang lebih dangkal.

Pertama, ada keinginan untuk mengikuti tren. Ketika sebuah isu menjadi viral, ikut berkomentar atau menyerang target yang sama memberikan perasaan menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Kedua, ada dorongan solidaritas kelompok. Para netizen sering kali merasa sedang membela sebuah nilai atau kelompok tertentu, sehingga tindakan mereka terasa seperti aktivisme, bukan perundungan. Jarak yang diciptakan oleh layar gawai juga membuat mereka terlepas dari dampak nyata perbuatan mereka. Target serangan tidak terlihat sebagai manusia utuh, melainkan hanya sebagai avatar atau objek kemarahan. Inilah inti dari banalitas kejahatan: tindakan merusak yang lahir dari kedangkalan berpikir.

Baca Juga :  Mengapa Kita Merasa Lelah dan Depresi di Era Kebebasan?

Potensi Jahat dalam Diri Kita Semua

Pelajaran terpenting dari teori Arendt adalah sebuah peringatan yang keras. Potensi untuk melakukan kejahatan atau berkontribusi pada kerusakan besar tidak hanya ada pada segelintir orang “jahat”. Potensi itu ada dalam diri kita semua, yang bisa muncul kapan saja saat kita berhenti berpikir kritis.

Di era digital, di mana sebuah klik atau satu kali “bagikan” dapat diamplifikasi ribuan kali, tanggung jawab kita untuk berpikir menjadi semakin besar. Sebelum ikut dalam gerombolan digital, kita perlu bertanya pada diri sendiri: Mengapa saya melakukan ini? Apakah saya benar-benar memahami konteksnya? Atau saya hanya ikut-ikutan? Tanpa refleksi semacam ini, kita semua berisiko menjadi Eichmann-Eichmann kecil di dunia maya, para pelaku kejahatan yang bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang berbuat jahat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Anthropic Resmi Buka Kantor di Seoul Pascaboikot Model AI
Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako Mulai Kunjungan Sejarah
Kebakaran Hebat Melanda Sekolah Dasar di Tokyo
90 Persen Pabrik Kelapa Sawit Patuhi Penyesuaian Harga
Bocoran Spesifikasi Xiaomi 18 Mulai Beredar Luas
Ukraina Siap Perluas Penggunaan Drone AI Otonom
Malaysia Resmi Tingkatkan Mandatori Biodiesel Sawit
Indonesia dan Belarus Percepat Kerja Sama Industri

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 16:15 WIB

Anthropic Resmi Buka Kantor di Seoul Pascaboikot Model AI

Jumat, 19 Juni 2026 - 15:13 WIB

Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako Mulai Kunjungan Sejarah

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:56 WIB

Kebakaran Hebat Melanda Sekolah Dasar di Tokyo

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:06 WIB

90 Persen Pabrik Kelapa Sawit Patuhi Penyesuaian Harga

Jumat, 19 Juni 2026 - 13:27 WIB

Bocoran Spesifikasi Xiaomi 18 Mulai Beredar Luas

Berita Terbaru

Pelebaran sayap di Asia Timur. Anthropic resmi membuka kantor baru di Seoul guna menggarap pasar potensial Korea Selatan pasca-pemblokiran akses model AI canggih oleh pemerintah AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Anthropic Resmi Buka Kantor di Seoul Pascaboikot Model AI

Jumat, 19 Jun 2026 - 16:15 WIB