JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Manusia telah mengubah cara menemukan cinta secara radikal dalam satu dekade terakhir. Kita tidak lagi sekadar mengandalkan ketidaksengajaan manis di kedai kopi. Kita juga jarang bergantung pada perkenalan lewat teman.
Kini, kita menggantungkan nasib asmara pada algoritma canggih di balik layar ponsel pintar. Aplikasi seperti Tinder, Bumble, dan Hinge memegang kendali penuh atas pertemuan kita. Mereka menentukan siapa yang kita lihat dan siapa yang akhirnya kita cintai.
Pergeseran ini memang menawarkan kenyamanan instan. Namun, fenomena ini sekaligus membawa tantangan psikologis baru yang kompleks. Kita dapat mengakses ribuan profil hanya dengan menjentikkan jari. Sayangnya, kemudahan ini sering kali datang dengan harga mahal bagi kesehatan mental kita. Kualitas hubungan itu sendiri pun sering menjadi taruhannya.
Jebakan “Paradoks Pilihan” dan Ilusi Kesempurnaan
Psikolog Barry Schwartz pernah mengenalkan konsep “The Paradox of Choice”. Teori ini sangat relevan dalam konteks kencan digital saat ini. Logika sederhana mungkin mengatakan bahwa lebih banyak pilihan akan menghasilkan kepuasan lebih besar.
Kenyataan justru menunjukkan sebaliknya. Otak kita cenderung mengalami kelumpuhan analisis ketika menghadapi ribuan opsi potensial di aplikasi kencan. Pengguna justru sering merasa cemas alih-alih merasa senang.
Kita terus bertanya-tanya tentang orang berikutnya di tumpukan kartu virtual. Apakah mereka lebih baik, lebih tampan, atau lebih mapan daripada yang ada di depan mata? Akibatnya, kita sulit berkomitmen pada satu pilihan. Bayang-bayang “opsi yang lebih baik” selalu menghantui pikiran kita. Algoritma merancang sistem ini agar kita terus mencari, bukan untuk segera berhenti dan puas.
Budaya “Disposable”: Manusia sebagai Komoditas
Dampak lain yang tak kalah meresahkan adalah munculnya budaya “disposable”. Orang mulai menganggap hubungan sebagai sesuatu yang sekali pakai. Pengguna merasa stok pasangan potensial tidak terbatas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pola pikir ini membuat nilai seorang individu sering kali merosot. Seseorang bisa dengan mudah memutus komunikasi secara tiba-tiba. Mereka melakukan ghosting tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Aplikasi kencan secara tidak sadar melatih perilaku ini. Kita terbiasa melihat manusia lain layaknya produk dalam katalog belanja online. Kita menilai seseorang hanya berdasarkan foto profil dan biodata singkat.
Jari kita lantas membuangnya ke kiri jika tidak sesuai selera sesaat. Hal ini menciptakan siklus hubungan yang dangkal. Koneksi emosional yang mendalam sulit tumbuh karena kita terlalu sibuk mencari validasi instan.
Tantangan Membangun Koneksi di Era Digital
Fenomena ini juga turut memicu komodifikasi diri. Kita berlomba-lomba memoles citra diri demi mendapatkan “like”. Validasi eksternal ini sering kali hanya berlandaskan penampilan fisik semata.
Harga diri seseorang perlahan bergantung pada notifikasi “It’s a Match!”. Semakin banyak notifikasi yang mereka terima hari itu, semakin tinggi rasa percaya diri mereka.
Tantangan terbesar di era kencan digital bukanlah menemukan orang baru. Tantangan utamanya adalah membangun koneksi autentik di tengah riuh rendah algoritma. Teknologi memang memudahkan pertemuan kita.
Namun, manusialah yang harus bekerja keras mengubah kecocokan data menjadi ikatan emosional nyata. Kita perlu menyadari satu hal penting. Cinta sejati membutuhkan usaha, kerentanan, dan waktu. Aplikasi manapun tidak akan bisa memprogram hal-hal tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















