Tren Kilat, Sampah Cepat

Kamis, 30 Oktober 2025 - 03:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dari Shein hingga H&M, siklus tren yang cepat menciptakan kenikmatan instan dan masalah limbah tekstil yang masif. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Dari Shein hingga H&M, siklus tren yang cepat menciptakan kenikmatan instan dan masalah limbah tekstil yang masif. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Kita hidup di era konsumsi mode tercepat dalam sejarah. Brand seperti Shein, H&M, atau Zara tidak lagi mengikuti empat musim; mereka menciptakan musim baru setiap minggu. Dengan ribuan desain baru yang terunggah ke aplikasi setiap hari, tren terbaru terus-menerus menggoda kita dengan harga yang sangat murah. Sebuah kaus seharga Rp 50.000, sebuah dress seharga Rp 100.000.

Harga yang murah dan tren yang terus berganti ini memicu budaya konsumsi sekali pakai buang. Namun, apa yang ada di balik kecepatan dan harga yang “terlalu indah untuk jadi kenyataan” ini?

Candu Kenikmatan Instan

Daya tarik fast fashion berakar kuat pada psikologi kita. Membeli baju baru yang murah memberikan dopamine rush, atau lonjakan hormon kebahagiaan, yang serupa dengan memakan cokelat atau mendapat like di media sosial. Ini adalah instant gratification (kepuasan instan).

Kita tidak membeli pakaian untuk bertahan lama; kita membeli sensasi dari barang baru. Brand-brand ini ahli dalam menciptakan FOMO (Fear of Missing Out). Tren berganti begitu cepat sehingga kita merasa harus membeli sekarang juga. Akibatnya, ini menciptakan siklus kecanduan belanja yang konstan untuk mengejar tren terbaru.

Baca Juga :  Krisis Gandum Kyiv-Yerusalem: Ukraina Tuduh Israel Impor Hasil Jarahan Rusia

Sisi Gelap di Balik Label Harga

Namun, kenikmatan instan itu memiliki biaya tersembunyi yang sangat besar, yang tidak tercantum di label harga. Sisi gelap ini memiliki dua wajah yang mengerikan: lingkungan dan sosial.

Pertama, dampak lingkungan. Untuk membuat pakaian semurah itu, pabrik menggunakan poliester (turunan plastik) dan pewarna tekstil kimia yang mencemari sumber air bersih. Karena kualitasnya yang rendah, pakaian ini tidak tahan lama. Rata-rata orang hanya memakai pakaian fast fashion beberapa kali sebelum membuangnya, yang menciptakan gunung sampah tekstil yang tidak bisa terurai dan memenuhi tempat pembuangan akhir.

Baca Juga :  Irjen Pol Ramdani Hidayat, Jenderal Brimob yang Kini Pimpin Korps Elit Polri

Kedua, masalah sosial. Harga Rp 50.000 itu hanya mungkin karena perusahaan tidak membayar pihak tertentu dengan layak. Model bisnis ini bergantung pada upah pekerja garmen yang sangat rendah di negara-negara berkembang, jam kerja yang tidak manusiawi, dan kondisi pabrik yang seringkali tidak aman.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Biaya Sebenarnya dari Kaus Rp 50.000

Pada akhirnya, fast fashion adalah sebuah ilusi. Kita merasa hemat karena membeli kaus seharga Rp 50.000. Namun, biaya sebenarnya dari kaus itu jauh lebih mahal daripada yang kita kira.

Lingkungan kita yang semakin tercemar dan para pekerja di ujung lain rantai pasok-lah yang membayar biaya tersebut. Tren yang kilat ini menghasilkan sampah yang cepat, dan siklus ini menuntut kita untuk bertanya: apakah kepuasan 10 menit saat membeli sepadan dengan kerusakan jangka panjang yang ditimbulkannya?

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Diplomasi Beijing-Brussel: China Ajak Belgia Redam Ketegangan Dagang
May Day 2026 di Monas, Buruh Bawa 11 Tuntutan – Prabowo Janjikan Kejutan
Amerika Serikat Kini Jadi Pemasok Utama Naphtha Korea Selatan
Banjir Bogor Hari Ini, Kali Cibeber Meluap – 168 Warga Citeureup Terdampak
Tabrakan KA Bekasi Timur, Polisi Periksa Manajemen Green SM – Kasus Naik Penyidikan
Sayap Tradisi di Langit Delhi: Menjaga Kabootarbaazi
Prakiraan Cuaca Hari Ini, Jabodetabek Diguyur Hujan – Waspada Petir dan Angin Kencang
Sedikitnya 358 Orang Dieksekusi di Bawah Rezim Kim Jong Un

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 09:11 WIB

Diplomasi Beijing-Brussel: China Ajak Belgia Redam Ketegangan Dagang

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:32 WIB

May Day 2026 di Monas, Buruh Bawa 11 Tuntutan – Prabowo Janjikan Kejutan

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:30 WIB

Amerika Serikat Kini Jadi Pemasok Utama Naphtha Korea Selatan

Jumat, 1 Mei 2026 - 07:55 WIB

Banjir Bogor Hari Ini, Kali Cibeber Meluap – 168 Warga Citeureup Terdampak

Jumat, 1 Mei 2026 - 07:39 WIB

Tabrakan KA Bekasi Timur, Polisi Periksa Manajemen Green SM – Kasus Naik Penyidikan

Berita Terbaru

Adaptasi energi di tengah perang. Korea Selatan mengalihkan ketergantungan impor naphtha dari Timur Tengah ke Amerika Serikat guna mengamankan bahan baku industri petrokimia saat konflik Iran melumpuhkan jalur pasokan tradisional. Dok: Reuters/Jonathan Ernst.

INTERNASIONAL

Amerika Serikat Kini Jadi Pemasok Utama Naphtha Korea Selatan

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:30 WIB