WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Pemilih Amerika Serikat memilih Partai Demokrat daripada Partai Republik untuk mengelola ekonomi. Survei Reuters/Ipsos mengonfirmasi pergeseran dukungan publik ini pada awal pekan.
Lonjakan Harga Energi Menggerus Kepuasan Pemilih
Tingkat kepuasan pemilih terhadap kinerja Presiden Donald Trump merosot ke angka 35 persen. Angka ini mengalami penurunan dari posisi 37 persen pada bulan lalu. Selain itu, lonjakan harga bahan bakar terus menghimpit keuangan rumah tangga warga. Akibatnya, pemilih menyalahkan kebijakan luar negeri Trump terkait perang dengan Iran.
Selanjutnya, sebanyak 37 persen responden terdaftar menilai Demokrat memiliki pendekatan ekonomi lebih baik. Sementara itu, hanya 36 persen pemilih yang memihak Partai Republik. Namun, sebanyak 27 persen pemilih menyatakan ragu-ragu atau memilih partai lain.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dampak Konflik Iran Terhadap Pemilu Paruh Waktu
Partai Republik mempertahankan keunggulan ekonomi selama bertahun-tahun. Namun, perang AS-Israel melawan Iran sejak Februari mengubah peta politik secara drastis. Kenaikan harga bahan bakar mencapai lebih dari 25 persen sejak perang bermula. Oleh sebab itu, warga Amerika harus membayar biaya bahan bakar lebih mahal.
Sementara itu, Trump menegaskan bahwa serangan militer bertujuan menghancurkan program nuklir Iran. Namun, dampak ekonomi memicu penolakan luas dari kalangan pemilih independen. Akibatnya, pemilih independen mendukung Partai Demokrat dengan keunggulan 12 poin persentase.
Ancaman Kehilangan Mayoritas Kursi Kongres
Sebanyak 42 persen pemilih terdaftar akan memilih kandidat Demokrat dalam pemilu Kongres. Di sisi lain, hanya 37 persen pemilih yang menyatakan dukungan untuk Republik. Oleh karena itu, Partai Republik menghadapi ancaman kekalahan dalam pemilu 3 November mendatang.
Namun, Donald Trump menolak hasil survei tersebut melalui unggahan di media sosial. Beliau mengklaim bahwa media menyebarkan berita bohong mengenai popularitasnya. Selain itu, Trump menegaskan bahwa angka survei aslinya berada pada tingkat tertinggi. Meskipun demikian, jajak pendapat Reuters/Ipsos yang melibatkan 4.505 responden tetap menunjukkan kemerosotan dukungan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













