Kongres AS Mengamuk Tak Diberitahu Soal Penyerbuan Venezuela

Minggu, 4 Januari 2026 - 15:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Upaya meredam konflik regional. Presiden Donald Trump mengeklaim Israel dan Hezbollah sepakat membatasi serangan demi memuluskan jalannya perundingan gencatan senjata total. Dok: Istimewa.

Upaya meredam konflik regional. Presiden Donald Trump mengeklaim Israel dan Hezbollah sepakat membatasi serangan demi memuluskan jalannya perundingan gencatan senjata total. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Operasi militer kilat Amerika Serikat di Venezuela tidak hanya mengguncang Caracas. Langkah ini juga memicu badai politik di Washington D.C. Pada hari Sabtu, anggota parlemen dari Partai Demokrat meluapkan kemarahan mereka. Mereka menuduh pemerintahan Presiden Donald Trump telah berbohong kepada Kongres. Mereka juga mengklaim Trump melancarkan “perang ilegal” tanpa otorisasi.

Inti kemarahan ini bukan hanya soal aksi militer itu sendiri, melainkan perasaan dikhianati. Para legislator mengungkapkan kekecewaan karena Gedung Putih tidak memberikan notifikasi sebelumnya. Padahal, penyerbuan tersebut berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro. Lebih parah lagi, mereka mengklaim pejabat tinggi kabinet telah memberikan kesaksian palsu. Hal ini terjadi dalam rapat-rapat sebelumnya.

“Mereka Menatap Mata Kami dan Berbohong”

Senator Andy Kim menumpahkan kekesalannya di media sosial X. Ia mengingat kembali pertemuan dengan pejabat tinggi kabinet beberapa minggu lalu.

“Menteri Rubio dan Hegseth menatap mata setiap Senator beberapa minggu lalu. Mereka berkata ini bukan tentang pergantian rezim (regime change),” tulis Kim. “Saya tidak mempercayai mereka saat itu. Kita lihat sekarang bahwa mereka secara terang-terangan berbohong kepada Kongres.”

Jason Crow, anggota Komite Angkatan Bersenjata dan Intelijen DPR dari Demokrat, mengamini tudingan ini. “Pemerintahan Trump berulang kali berbohong kepada Kongres dan rakyat Amerika tentang Venezuela. Berulang kali, para pejabat bersaksi bahwa ini bukan tentang pergantian rezim,” ujarnya.

Jeanne Shaheen dari Komite Hubungan Luar Negeri Senat menambahkan poin penting. Menurutnya, pemerintahan Trump secara konsisten menyesatkan para pembuat undang-undang. Trump membiarkan Kongres “dalam kegelapan” mengenai strategi jangka panjang AS.

Krisis Konstitusi: Tindakan Perang Tanpa Izin

Senator Chris Coons menyebut langkah ini sebagai pelanggaran serius. “Operasi militer untuk menangkap dan menggulingkan seorang presiden adalah tindakan perang. Hal ini berlaku bahkan untuk presiden yang tidak sah sekalipun. Tindakan ini harus mendapat otorisasi Kongres,” tegasnya.

Pimpinan Minoritas DPR Hakeem Jeffries dan Pimpinan Minoritas Senat Chuck Schumer kompak mengkritik serangan tersebut. Mereka menyebutnya sebagai tindakan nekat (reckless). Schumer bahkan mengaku telah mendapat jaminan dari Gedung Putih sebanyak “tiga kali terpisah”. Pihak istana menjamin bahwa AS tidak mengejar pergantian rezim atau aksi militer.

Baca Juga :  Satu Tahun Trump: Guncangan Global, Doktrin Donroe, dan Ambisi Menguasai Greenland

“Jelas, mereka tidak jujur kepada rakyat Amerika,” kecam Schumer. Sementara itu, Senator Brian Schatz memperingatkan bahaya terseret ke dalam konflik tak berguna. “Kita seharusnya sudah belajar untuk tidak tersandung ke dalam petualangan bodoh lainnya sekarang,” tulisnya. Ia menegaskan bahwa AS tidak punya kepentingan nasional vital di Venezuela. Tidak ada alasan yang membenarkan perang.

Dukungan Penuh Kubu Republik

Di sisi lain lorong, Partai Republik justru merapatkan barisan mendukung Trump. Ketua Mayoritas Senat John Thune dan Ketua DPR Mike Johnson menyatakan dukungan mereka. Mereka kini menanti brefing resmi.

Thune membingkai operasi ini sebagai penegakan hukum alih-alih kudeta politik. “Tindakan tegas Presiden Trump adalah langkah pertama yang penting. Kita harus mengadili Maduro atas kejahatan narkoba yang ia hadapi di AS,” ujarnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Xinhua News Agency

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik
Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%
Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda
Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 20:57 WIB

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 September 2026 - 19:56 WIB

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 September 2026 - 13:30 WIB

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Berita Terbaru