Dewan Perdamaian Trump Desak PBB Lakukan Pelucutan Senjata Hamas

Rabu, 20 Mei 2026 - 15:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Buntu di Gaza. Dewan Perdamaian bentukan Presiden Donald Trump mendesak DK PBB untuk menuntut pelucutan senjata Hamas sebagai prasyarat rekonstruksi, sementara Hamas menuding laporan tersebut penuh dengan kebohongan. Dok: Istimewa.

Buntu di Gaza. Dewan Perdamaian bentukan Presiden Donald Trump mendesak DK PBB untuk menuntut pelucutan senjata Hamas sebagai prasyarat rekonstruksi, sementara Hamas menuding laporan tersebut penuh dengan kebohongan. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Dewan Perdamaian menempuh langkah tegas dalam upaya mengurai benang kusut konflik di Gaza. Badan internasional bentukan Presiden Donald Trump ini berencana meminta Dewan Keamanan PBB untuk menuntut pelucutan senjata kelompok militan Hamas.

Rencana tersebut tertuang dalam sebuah laporan resmi yang akan Dewan Keamanan bahas pada hari Kamis dalam pertemuan khusus terkait situasi Timur Tengah. Menurut laporan tersebut, proses implementasi gencatan senjata yang rapuh saat ini menghadapi hambatan utama. Dalam hal ini, hambatan tersebut adalah penolakan Hamas untuk menerima pelucutan senjata yang terverifikasi.

Hambatan Utama: Penolakan Hamas untuk Melucuti Senjata

Laporan Dewan Perdamaian menyatakan bahwa Hamas tetap mempertahankan kontrol koersif di Gaza. Oleh karena itu, kelompok tersebut menghalangi transisi sipil yang tulus. Selanjutnya, laporan tersebut mendesak masyarakat internasional untuk bertindak tegas.

Hamas segera merespons laporan tersebut melalui sebuah pernyataan resmi. Mereka menolak isi dokumen itu dan menyebutnya mengandung banyak kekeliruan. Seorang diplomat yang mengetahui isi laporan tersebut mengonfirmasi keaslian dokumen itu kepada The Associated Press meski pemerintah belum merilisnya ke publik.

Rencana Trump: Otoritas Baru untuk Gaza

Presiden Trump merancang rencana gencatan senjata 20 poin yang komprehensif. Rencana ini menuntut Hamas menyerahkan senjata dan menghancurkan seluruh jaringan terowongan mereka. Selain itu, inisiatif ini membayangkan penarikan pasukan Israel dari Gaza.

Di samping itu, rencana tersebut mencakup beberapa elemen krusial lainnya:

  • Kehadiran pemerintahan teknokrat baru Palestina.
  • Penempatan pasukan keamanan internasional di wilayah Gaza.
  • Pembangunan kembali wilayah yang hancur pasca perang selama dua tahun.

Namun, Nickolay Mladenov, mantan utusan PBB yang memimpin Dewan Perdamaian, mengakui bahwa gencatan senjata ini mengalami kebuntuan sejak Oktober lalu. Ia menyebut hambatan pelucutan senjata Hamas sebagai faktor utama yang melumpuhkan kemajuan perundingan.

Pelanggaran Gencatan Senjata dan Realitas Lapangan

Dewan Perdamaian melaporkan pelanggaran gencatan senjata terjadi hampir setiap hari. Akibatnya, penduduk sipil terus menjadi korban. Keluarga-keluarga hidup dalam ketakutan, sementara akses kemanusiaan masih sangat terbatas.

Baca Juga :  Adaptasi Genetik: Bisakah Spesies Bertahan dari Kepunahan?

Israel tetap melancarkan serangan udara di Gaza meskipun kesepakatan gencatan senjata berlaku. Militer Israel bahkan terus merangsek masuk dan kini menguasai sekitar 60 persen wilayah tersebut. Di sisi lain, Hamas menuduh Israel gagal memenuhi komitmen tahap pertama. Mereka menyoroti pembatasan akses masuk material untuk perbaikan infrastruktur dasar dan tempat penampungan warga.

Syarat Mutlak bagi Rekonstruksi

Laporan tersebut mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menegaskan posisi mereka. Maka dari itu, pelucutan senjata di Gaza bukan sekadar syarat resolusi PBB. Hal ini adalah langkah krusial untuk memulai rekonstruksi, penarikan pasukan Israel, dan mewujudkan jalan menuju penentuan nasib sendiri bagi rakyat Palestina.

Dengan demikian, nasib Gaza pada tahun 2026 berada di tangan resolusi PBB. Dunia menanti apakah Dewan Keamanan dapat mengambil tindakan konsisten untuk menuntut pelucutan senjata dari semua kelompok bersenjata di wilayah tersebut.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Vietnam Siapkan Aturan Ketat Larang Anak di Bawah 16 Tahun
Warga al-Obeid Hadapi Serangan Drone dan Pemerkosaan
Kanada Batal Gelar Acara Bersama Peresmian Jembatan
Houthi Blokade Selat Bab el-Mandeb dan Serang Kapal
Mandat B50 Indonesia dan Tensi Geopolitik Tahan Harga CPO
Afrika Selatan Hentikan Sementara Pemakzulan Presiden
Perusahaan Pelayaran Hentikan Operasi ke Ukraina
Pakistan Minta Bantuan Finansial 10 Miliar Dolar AS

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 16:24 WIB

Vietnam Siapkan Aturan Ketat Larang Anak di Bawah 16 Tahun

Sabtu, 25 Juli 2026 - 15:18 WIB

Warga al-Obeid Hadapi Serangan Drone dan Pemerkosaan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:04 WIB

Kanada Batal Gelar Acara Bersama Peresmian Jembatan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:27 WIB

Houthi Blokade Selat Bab el-Mandeb dan Serang Kapal

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:19 WIB

Mandat B50 Indonesia dan Tensi Geopolitik Tahan Harga CPO

Berita Terbaru