Di Mana Wanita dalam Perang? Kritik Feminisme terhadap Maskulinitas

Jumat, 19 Desember 2025 - 10:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Sejarah perang penuh nama jenderal pria. Lantas, di mana wanitanya? Simak kritik tajam feminisme yang membongkar mitos

Ilustrasi, Sejarah perang penuh nama jenderal pria. Lantas, di mana wanitanya? Simak kritik tajam feminisme yang membongkar mitos "perlindungan" dan mendefinisikan ulang arti keamanan. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Buka buku sejarah perang mana pun. Anda akan menemukan deretan nama jenderal pria, diplomat berdasi, dan presiden yang gagah. Narasi besar politik global seolah hanya milik kaum adam.

Namun, seorang pemikir feminis bernama Cynthia Enloe datang dengan pertanyaan sederhana yang mengguncang menara gading akademisi. Ia bertanya, “Where are the women?” (Di mana para wanitanya?).

Pertanyaan ini bukan sekadar mencari keberadaan fisik. Justru, Enloe menantang struktur kekuasaan yang ada. Ia membongkar fakta bahwa wanita selalu ada di sana—sebagai pekerja pabrik amunisi, istri diplomat, atau pelacur di sekitar pangkalan militer—tetapi peran mereka sengaja disembunyikan oleh sistem yang patriarkis.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mitos “Pria Pelindung” yang Runtuh

Kaum realis sering menggunakan narasi ksatria. Mereka berdalih bahwa pria harus pergi berperang demi melindungi “wanita dan anak-anak” di rumah.

Baca Juga :  Evakuasi TNI-Polri di Yalimo Papua, 6 Personel Diselamatkan, 3 Luka Berat dan Warga Terbakar

Padahal, feminisme melihat argumen ini sebagai mitos yang berbahaya. Dalam perang modern, garis depan dan garis belakang telah kabur. Faktanya, wanita sering kali menjadi korban utama, bukan pihak yang terlindungi.

Mereka menghadapi ancaman pemboman, kelaparan, dan pengungsian. Lebih mengerikan lagi, tubuh wanita sering menjadi medan tempur itu sendiri. Pemerkosaan sistematis kerap terjadi sebagai senjata perang untuk menghancurkan moral musuh. Jadi, narasi “perlindungan” hanyalah kedok untuk melegitimasi kekerasan maskulin.

Keamanan Negara vs Keamanan Manusia

Kritik feminis juga menyerang definisi “keamanan”. Pandangan tradisional (maskulin) selalu fokus pada Keamanan Negara (State Security). Mereka sibuk menghitung jumlah tank, rudal, dan mengamankan garis perbatasan.

Sebaliknya, feminisme menawarkan konsep Keamanan Manusia (Human Security). Bagi seorang ibu di zona konflik, keamanan bukanlah soal kedaulatan negara.

Keamanan bagi mereka adalah bebas dari rasa takut akan pemerkosaan saat mengambil air. Keamanan adalah jaminan makanan untuk anak-anak mereka dan bebas dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Oleh karena itu, mendahulukan anggaran militer di atas kesejahteraan sosial adalah bentuk ketidakamanan yang nyata bagi wanita.

Baca Juga :  Mantan Senator Divonis Penjara Karena Bius Rekan Parlemen

Wanita di Meja Perundingan

Dunia internasional perlahan mulai sadar. Pasalnya, perjanjian damai yang hanya melibatkan pria bersenjata sering kali gagal bertahan lama.

Studi statistik membuktikan fakta menarik. Jika negosiator perempuan terlibat dalam proses perdamaian, peluang perjanjian tersebut bertahan lebih dari 15 tahun meningkat drastis hingga 35 persen.

Wanita cenderung membawa isu-isu akar rumput ke meja perundingan, seperti pendidikan dan kesehatan. Lantas, perdamaian yang tercipta menjadi lebih inklusif dan mengakar di masyarakat, bukan sekadar gencatan senjata elitis.

Melengkapi Gambar yang Hilang

Pada akhirnya, Hubungan Internasional tidak akan pernah lengkap tanpa suara wanita. Mengabaikan pengalaman setengah dari populasi dunia adalah cacat logika yang fatal.

Kita harus berhenti memandang perang sebagai “urusan pria”. Maka, libatkan wanita bukan hanya sebagai korban yang butuh belas kasihan, tetapi sebagai agen perubahan yang aktif dalam merancang masa depan dunia yang lebih damai.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman
PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit
Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru
Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk
Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant
Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang
Prancis Melarang Panggilan Telemarketing Tanpa Izin Konsumen
Senat AS Konfirmasi Dr Erica Schwartz Sebagai Direktur CDC

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 09:01 WIB

PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:51 WIB

Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:11 WIB

Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang

Berita Terbaru

Kelompok pemberontak Houthi melancarkan serangan rudal dan drone di Marib serta Hadramaut yang menewaskan puluhan prajurit pemerintah Yaman. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Sabtu, 8 Agu 2026 - 11:07 WIB

PM Kanada Mark Carney menyebut perundingan dagang dengan AS semakin sengit usai Donald Trump mengancam kenaikan tarif 50 persen. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit

Sabtu, 8 Agu 2026 - 09:01 WIB